Tim PkM USM Beri Pelatihan Jurnalistik Berbasis Komunikasi Risiko dan Ramah Gender
SEMARANG, (Harianterkini.id) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Semarang (PkM USM) memberikan pelatihan jurnalistik kepada sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang.
Kegiatan bertema ”Pelatihan Jurnalistik Berbasis Komunikasi Risiko dan Ramah Gender” tersebut berlangsung di Markas PMI, belum lama ini.
Ketua Tim PkM USM Dr. Sri Syamsiyah, L.S., M.Si. mengatakan bahwa kegiatan pelatihan tersebut bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan pada sukarelawan pentingnya publikasi informasi kegiatan-kegiatan kemanusiaan.
”Melalui publikasi di media, masyarakat akan mendapatkan banyak informasi. Selain itu juga untuk mendidik masyarakat tentang tugas-tugas kemanusiaan,” kata Syamsiyah.
Syamsiyah menjelaskan berbagai bentuk publikasi di media, nilai berita, unsur-unsur berita dan berbagai hal terkait pemberitaan di media.
Materi juga diberikan oleh tim PkM lain yakni, Kharisma Ayu Febriana, M.I.Kom., Dr. Yuliyanto Budi, S., M.Si., Hilda Rahmah, M.A., dan Yoma Bagus Pamungkas, M.I.Kom.
Kharisma Ayu memaparkan materi ”Teori Komunikasi Risiko dan Peran Relawan PMI”, Dr. Yuliyanto Budi, S. M.Si., dengan materi ”Komunikasi Ramah Gender kepada Korban Konflik dan Bencana”.
Sedangkan Hilda Rahmah, M.A., menyampaikan materi ”Ayo Membuat Konten Sosial Media.”
Sebelumnya, Ketua PMI Kota Semarang Dr. dr. Awal Prasetyo, M.Kes., S.p., THT., KL., M.M., (ARS)., menyampaikan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PMI.
Di antaranya adalah Humanity for Healthier Lifestyle yang merupakan program untuk lebih menekankan pada gaya hidup yang sehat.
Dalam kegiatan itu, selain pemaparan materi, para sukarelawan juga berlatih untuk praktik menulis berita kegiatan yang berlangsung hari itu.
Sementara itu Kharisma Ayu Febriana memaparkan pentingnya sukarelawan memahami komunikasi risiko dalam melakukan kegiatan-kegiatan.
Jenis komunikasi risiko ini sangat terkait dengan pertukaran pesan terkait dengan ancaman, ketidakpastian dan tindakan yang direkomendasikan dalam kegiatan-kegiatan kebencanaan.
”Kadang kala masyarakat enggan untuk dievakuasi meskipun terjadi bencana, karena itu perlu ada komunikasi yang baik,” katanya.
Sedangkan Dr. Yulianto Budi menekankan perlunya perempuan untuk ikut dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan tentang kebencanaan.
Hal ini dikarenakan perempuan yang merupakan kelompok rentan memiliki kebutuhan yang berbeda.
Pada bagian lain Hilda Rahmah memaparkan materi bagaimana membuat konten di media sosial. ”Perlu konsisten, kreatif, adaptasi trend dan jangan takut mencoba,” katanya.***(bgy)
