Sentuhan Magis Mahasiswa USM: Ubah Jerami dan Enceng Gondok Jadi Karya Seni Berkelas di Festival Komukino “Jateng Ayem”

WhatsAppImage2025-12-25at1.19.42PM

Tim mahasiswa Ilmu Komunikasi USM berfoto bersama di depan booth Kriya Kerajinan Tangan usai pameran budaya Festival Komukino “Jateng Ayem” di Auditorium Ir. Widjatmoko USM, Kamis (18/12) lalu.

Bagikan:

SEMARANG (Harianterkini.id) – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menghadirkan booth pameran bertajuk “Kriya Kerajinan Tangan” dalam rangkaian Festival Komukino “Jateng Ayem” yang digelar di Auditorium Ir. Widjatmoko USM, Kamis (18/12) lalu.

Booth tersebut menampilkan instalasi seni kriya berbahan limbah alam, seperti jerami dan enceng gondok. Karya ini disajikan sebagai bagian dari tugas mata kuliah Komunikasi Budaya sekaligus upaya memperkenalkan kembali kearifan lokal kepada pengunjung festival.

Baca Juga:  Jadi Kota Pertama, Wali Kota Hevearita Dinilai Pro Aktif dalam Selesaikan Program PTSL

Konsep pameran mengusung suasana pedesaan dengan dekorasi teknik ecoprint dan sentuhan wayang kulit. Berbagai produk kriya, seperti anyaman tas dan topi caping, dipajang untuk menunjukkan potensi estetika bahan alam melalui pendekatan komunikasi visual.

Suasana booth Kriya Kerajinan Tangan yang menampilkan produk anyaman, ecoprint, dan elemen wayang kulit pada Festival Komukino “Jateng Ayem”.

Perwakilan tim Kriya Kerajinan Tangan menyampaikan bahwa pameran ini bertujuan mengubah cara pandang generasi muda terhadap bahan-bahan alam yang selama ini dianggap remeh.

Baca Juga:  Agil Fadjar Saputra Terpilih Sebagai Ketua DPC IKADIN Kota Semarang, Bersaing Ketat dengan 44 Suara

“Kami ingin membuktikan bahwa bahan-bahan yang sering dianggap remeh seperti jerami atau enceng gondok punya nilai estetika tinggi jika dikomunikasikan dengan kreatif. Ini adalah cara kami, generasi muda, bercerita tentang kekayaan kriya Indonesia,” ujarnya.

Pengunjung tidak hanya melihat hasil karya, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai filosofi di balik setiap produk kriya yang dipamerkan. Penambahan elemen dekoratif berupa bunga matahari dan rumput sintetis memberikan kesan kontemporer tanpa meninggalkan nilai tradisi.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang: Waspadai Potensi Konflik di Tahun Politik

Booth Kriya Kerajinan Tangan mendapat respons positif dari pengunjung Festival Komukino. Kehadiran pameran ini menunjukkan peran mahasiswa Ilmu Komunikasi USM dalam mengemas pesan pelestarian budaya lokal melalui media pameran dan kegiatan berbasis komunikasi kreatif.***