Kalimat Sederhana yang Menguatkan, Kisah Wartawan Jateng di Retret Bela Negara

WhatsApp Image 2026-02-04 at 15.31.06
Bagikan:

SEMARANG (Harianterkini.id) – Dua wartawan utusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Tengah membagikan pengalaman berkesan usai mengikuti Retret Bela Negara yang digelar PWI Pusat bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan RI di Desa Cibodas, Rumpin, Bogor, pada 29 Januari–1 Februari 2026.

Keduanya adalah Bendahara PWI Jateng M. Chamim Rifai dan anggota Seksi Polhukam Suparman. Sepulang dari kegiatan, mereka memaparkan pengalaman tersebut di Gedung Pers PWI Jateng, Semarang, Selasa (3/2/2026), di hadapan jajaran pengurus harian, Dewan Kehormatan, dan Badan Khusus PWI Jateng.

Dengan mengenakan seragam loreng, Chamim dan Suparman membuka pemaparan dengan sikap tegap khas militer.

“Siap, mohon izin memaparkan,” ujar Chamim sambil merapatkan kaki, diikuti Suparman dengan mimik serius. Sikap itu sontak membuat seluruh peserta yang hadir ikut bersikap tegap.

Chamim menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PWI Jateng untuk mengirimkan wakil dalam kegiatan kebangsaan tersebut.

Baca Juga:  Hadiri Sesaji Rewanda, Agustina Wali Kota Semarang Galakkan Program Menanam Pohon

“Selama mengikuti retret, kami merasakan banyak hal positif. Kami bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan wartawan dari Sabang sampai Merauke,” ujar Chamim.

Ia mengaku memperoleh banyak materi terkait bela negara, penguatan mental, disiplin, dan solidaritas yang dinilai sangat relevan dengan tugas jurnalistik. Menurutnya, Kementerian Pertahanan juga memberikan apresiasi tinggi terhadap peran historis wartawan dalam perjalanan bangsa.

“Intinya, peserta diminta mengisi kemerdekaan sesuai peran dan bakat masing-masing. Ada penguatan mental dan disiplin untuk menopang tugas jurnalistik,” katanya.

Selama berada di Pusat Kompetensi Bela Negara Cibodas, peserta mengikuti berbagai aktivitas fisik dan pembentukan karakter, seperti senam pagi, outbound, latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), serta paparan nilai-nilai dasar bela negara.

Chamim mengungkapkan satu kalimat sederhana dari para pendamping yang sangat membekas dalam ingatannya.

“Tidak ada bentakan, hanya hentakan sepatu saat berbaris. Pendamping sangat awas melihat peserta yang lelah. Mereka mendekat sambil memegang tangan dan berkata, ‘Kalau bapak nggak kuat, istirahat dulu.’ Kalimat itu sangat manusiawi,” ujarnya.

Baca Juga:  Militer Indonesia dan Amerika Kembali Gelar Latma Tempur Udara di Pekanbaru

Meski demikian, Chamim dan Suparman tetap berusaha mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Hal itu disambut apresiasi Ketua PWI Jateng Setiawan Hendra Kelana yang hadir bersama jajaran pengurus lainnya.

Menitikkan Air Mata

Di kesempatan yang sama, Suparman mengaku sangat terkesan dengan retret tersebut. Bahkan, ia tak kuasa menahan haru saat menerima materi tentang peran pers dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Saya sampai menitikkan air mata. Saya menangis ketika dijelaskan betapa besar peran pers sebagai penjaga kepercayaan publik,” ungkapnya.

Suparman menilai kegiatan tersebut membuka wawasannya, terutama di tengah tantangan era disrupsi dan perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, wartawan harus semakin bekerja secara profesional, benar, dan bertanggung jawab.

Ia juga berbagi pengalaman mengikuti latihan menembak di Batalyon 13 Grup 1 Kopassus, Bogor.

Baca Juga:  KKN-T 36 FKM UNDIP Dorong Ketahanan Pangan Lokal Lewat Edukasi Pemanfaatan Pupuk Slurry di Desa Tangkisan

“Saya diberi kesempatan dua kali menembak, meski sepertinya meleset. Tapi saya senang karena bisa belajar teknik dasar menembak,” katanya sambil tersenyum, yang disambut candaan dari Sekretaris PWI Jateng.

Suasana paparan berlangsung serius namun hangat. Ketua PWI Jateng lebih banyak menanyakan kondisi kesehatan peserta, mengingat padatnya jadwal kegiatan yang dimulai sejak pukul 03.00 WIB.

Candaan ringan juga mewarnai diskusi ketika Ketua Dewan Kehormatan PWI Jateng Amir Machmud NS menyinggung kebiasaan Suparman yang gemar menyeduh kopi.

“Apakah Mas Parman juga minum kopi supaya tidak ngantuk?” tanyanya, yang langsung disambut tawa hadirin.

Suparman menegaskan selama retret seluruh pola makan dan minum diatur secara ketat.

“Kami fokus pada kegiatan. Tidak sembarangan ngopi di warung. Ini kegiatan yang sangat bagus, dan kabarnya akan ada gelombang kedua. Saya berharap lebih banyak wartawan Jateng bisa ikut,” pungkasnya.***