PLN Perkuat Ketangguhan Masyarakat Batang melalui Pembentukan Desa Tangguh Bencana

IMG-20260923-WA0032
Bagikan:

BATANG (Harianterkini.id) — PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang dalam membentuk Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di Desa Banaran dan Desa Penundan, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang.

Program ini merupakan upaya bersama untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana sekaligus memperkuat kesiapsiagaan di tingkat desa.

Dukungan PLN diwujudkan melalui pelatihan, pendampingan, simulasi kebencanaan, serta penyediaan sejumlah peralatan pendukung yang dibutuhkan dalam penanganan awal kondisi darurat.

Kabupaten Batang memiliki karakteristik wilayah dengan beragam potensi ancaman bencana, mulai dari cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, banjir, tanah longsor, hingga ancaman lainnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD Kabupaten Batang, Desa Banaran dan Desa Penundan menjadi wilayah yang perlu diperkuat kapasitas kebencanaannya, terutama karena sebelumnya belum memiliki DESTANA dan kelembagaan masyarakat yang secara khusus menangani kesiapsiagaan bencana.

Melalui program ini, masyarakat didorong untuk mampu mengenali potensi risiko di lingkungan masing-masing, menyusun langkah mitigasi, melakukan evakuasi secara tepat, serta mengambil tindakan awal sebelum bantuan dari pihak berwenang tiba.

Sekretaris Daerah Kabupaten Batang, Sri Purwaningsih, SH., menyampaikan apresiasinya atas bantuan program TJSL dalam rangka penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

“Program ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana. Mengingat masih banyak desa di Kabupaten Batang yang belum terbentuk dan memerlukan pembentukan Desa Destana, kami sangat berharap sinergi dan dukungan dari PLN dapat terus berlanjut,” kata Sri.

Baca Juga:  Masih Ragu Sama Emas Digital? Ini Faktanya: Emas Fisik 24 Karat yang Bisa Kamu Miliki Secara Online

General Manager PLN UIP Jawa Bagian Tengah, Kishartanto Purnomo Putro, mengatakan bahwa keberadaan PLN di tengah masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, tetapi juga melalui upaya meningkatkan ketahanan dan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah kerja PLN.

“Kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Melalui program ini, kami ingin mendorong masyarakat Desa Banaran dan Desa Penundan memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kelembagaan yang kuat untuk menghadapi potensi bencana secara mandiri. Bagi PLN, pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang menghadirkan infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat di sekitarnya semakin tangguh dan mampu menjaga keberlanjutan kehidupan ketika menghadapi kondisi darurat,” ujar Kishartanto.

Menurutnya, kolaborasi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan desa.

Dengan adanya DESTANA, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk melakukan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan secara bertahap.

Program pembentukan DESTANA ini juga diarahkan untuk membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan forum relawan desa. Selain itu, masyarakat bersama pemerintah desa didorong menyusun dokumen kebencanaan, peta risiko, serta peta jalur evakuasi sebagai pedoman dalam menghadapi kondisi darurat.

Baca Juga:  Bawa Semangat Hari Kesaktian Pancasila, PLN UIP Jawa Bagian Tengah Raih Penghargaan CSR dan PDB Award 2025

Manager PLN Unit Pelaksana Proyek Jawa Bagian Tengah 4 (UPP JBT 4), Parlindungan, menjelaskan bahwa dari sisi PLN, program ini juga memiliki keterkaitan erat dengan aspek keselamatan ketenagalistrikan, khususnya ketika terjadi bencana yang berpotensi mengganggu jaringan listrik maupun membahayakan masyarakat.

“Dalam kondisi bencana, gangguan pada jaringan listrik dapat terjadi akibat berbagai faktor, seperti pohon tumbang, banjir, maupun kerusakan infrastruktur. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi sangat penting agar mereka mengetahui langkah yang aman ketika terjadi gangguan kelistrikan. Kami memberikan pemahaman mengenai potensi bahaya listrik saat bencana, tindakan awal yang perlu dilakukan, serta mekanisme pelaporan gangguan kepada PLN,” jelas Parlindungan.

Ia menambahkan, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai keselamatan ketenagalistrikan diharapkan dapat mencegah masyarakat mengambil tindakan yang berisiko ketika terjadi gangguan listrik dalam situasi darurat.

“Harapannya, masyarakat dapat memahami bahwa ketika terjadi gangguan listrik saat bencana, keselamatan harus menjadi prioritas. Masyarakat tidak perlu melakukan penanganan sendiri pada jaringan listrik yang mengalami gangguan, tetapi segera menjauh dari lokasi yang berbahaya dan melaporkannya kepada PLN melalui saluran pengaduan yang tersedia,” tambah Parlindungan.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, program yang dilaksanakan ini telah sejalan dengan fokus strategis BPBD dalam membangun sistem ketahanan bencana berbasis komunitas.

Baca Juga:  Buruan Beli! Tiket KA Libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 Bisa Dipesan Mulai Hari Ini

Dirinya juga menekankan bahwa bencana merupakan urusan bersama dan garda terdepan penanggulangan bencana adalah masyarakat di tingkat desa/kelurahan.

”Melalui Destana, kami tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga mendampingi penyusunan peta ancaman, rencana kontinjensi, serta alur evakuasi swadaya. Kami mengapresiasi komitmen pemerintah kecamatan dan desa yang aktif memfasilitasi program ini. Harapan kami, desa-desa yang telah dikukuhkan sebagai Destana benar-benar memiliki sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan,” kata wawan.

Dalam pelaksanaannya, pembentukan DESTANA melibatkan berbagai unsur masyarakat, antara lain pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), lembaga kemasyarakatan, Karang Taruna, PKK, tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok perempuan, kelompok rentan dan penyandang disabilitas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta relawan desa.

Kegiatan dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi DESTANA, diskusi kelompok, kajian risiko secara partisipatif, pembentukan kelembagaan, penyusunan dokumen kebencanaan, simulasi, hingga monitoring dan evaluasi.

Melalui kolaborasi tersebut, PLN bersama BPBD Kabupaten Batang berharap Desa Banaran dan Desa Penundan dapat memiliki sistem kesiapsiagaan bencana yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Keberadaan DESTANA juga diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara masyarakat, pemerintah desa, BPBD, PLN, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menghadapi kondisi darurat.

Program ini menjadi bagian dari komitmen PLN dalam menjalankan TJSL yang tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat agar dapat tumbuh lebih mandiri dan berkelanjutan.***