Peringati Pertempuran Lima Hari, Wali Kota Semarang Ajak Warga Rawat Nilai Perjuangan

InShot_20261021_112713535
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengajak masyarakat untuk terus merawat nilai keberanian, pengorbanan, dan pengabdian yang diwariskan para pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Pesan tersebut disampaikan dalam upacara peringatan ke-81 Pertempuran Lima Hari di kawasan Tugu Muda, Rabu (14/10/2026) malam.

Upacara tersebut diikuti lebih dari 2.000 peserta dan personel gabungan. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pemuda, pejuang, dan masyarakat yang mempertaruhkan jiwa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di hadapan Tugu Muda, Agustina mengingatkan bahwa Pertempuran Lima Hari yang berlangsung pada 14–18 Oktober 1945 terjadi tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Saat itu, kemerdekaan yang telah diraih masih harus dipertahankan melalui perjuangan dan pengorbanan rakyat.

“Malam ini, di hadapan Tugu Muda, kita mengenang pengorbanan mereka. Kita mengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tumbuh dari sebuah keberanian, kehilangan, dan harapan yang diperjuangkan dengan sepenuh jiwa,” ujar Agustina.

Baca Juga:  Warga Temanggung Desak PJ Bupati Tak Ikut Cawe-Cawe Pilkada

Menurutnya, setelah 81 tahun berlalu, wajah Kota Semarang telah berubah dan generasi terus berganti.

Namun, nilai keberanian dalam mengambil tanggung jawab serta semangat pengabdian tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Ia menilai, semangat perjuangan tidak hanya tercermin dalam peristiwa besar di masa lalu, tetapi juga dalam pengabdian orang-orang yang menjalankan tugas sehari-hari, meskipun kerap luput dari perhatian publik.

Agustina mencontohkan tenaga kesehatan yang merawat pasien, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemadam kebakaran yang menangani kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, petugas pengangkut sampah, petugas kebersihan saluran air, hingga relawan dan kader yang bekerja di kampung-kampung.

Menurutnya, mereka memiliki peran penting dalam melindungi warga, menjaga kebersihan lingkungan, serta memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga:  Pemerintah Kota Semarang Lewat DPU Lakukan Penambalan Jalan

“Dari pekerjaan yang sering luput dari perhatian kita belajar bahwa keselamatan, kebersihan, dan kenyamanan sebuah kota tumbuh dari banyak tangan yang bekerja dengan sungguh-sungguh,” kata Agustina.

Ia menegaskan, pengabdian tidak selalu harus dilakukan di hadapan banyak orang.

Dedikasi para petugas lapangan yang tetap menjalankan tugas di tengah berbagai tantangan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keselamatan dan kehidupan masyarakat.

Karena itu, Agustina berharap semangat perjuangan para pahlawan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus berkontribusi dalam membangun Kota Semarang.

Rangkaian peringatan ke-81 Pertempuran Lima Hari di Semarang diawali dengan upacara bendera, pembacaan cukilan sejarah oleh Drs. Stephanus Sukirno, M.S., serta pertunjukan drama kolosal teatrikal sejarah yang melibatkan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) dan Teater Pitoelas.

Baca Juga:  Srikandi PLN Berperan dalam Program Perlindungan Perempuan di Proyek PLTA Upper Cisokan

Selain kegiatan utama di kawasan Tugu Muda, peringatan tahun ini juga dimeriahkan dengan pameran kesejarahan di Lawang Sewu dan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pameran arsip bertajuk Dari Semarang Kita Mulai berlangsung pada 14–20 Oktober 2026 di Lawang Sewu dan Rumah PoHan.

Pameran tersebut menghadirkan dokumentasi sejarah, kelas terbuka, serta diskusi literasi kesejarahan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai perjalanan sejarah Kota Semarang.

Agustina menegaskan, peringatan Pertempuran Lima Hari akan terus dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa sekaligus meneruskan cita-cita kemerdekaan.

Ia berharap nilai keberanian, persatuan, dan pengabdian yang diwariskan para pejuang dapat terus hidup dalam kehidupan masyarakat, sehingga Kota Semarang tetap menjadi tempat yang nyaman, aman, dan tenteram bagi generasi mendatang.***