Wali Kota Semarang Siapkan City Archive dan Museum Bahari untuk Lestarikan Sejarah
MEDAN, (Harianterkini.id) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari keberhasilan menjaga sejarah, identitas, dan memori kolektif masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Seminar Nasional “Menyelamatkan Heritage Kota Maritim: Sejarah dan Pengembangannya” yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Medan, Rabu (1/7).
Seminar yang diinisiasi Pemerintah Kota Semarang itu merupakan kolaborasi dengan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed), Program Doktor Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip), Rumah Sejarah Medan, dan Rumah Budaya Tangga Medan.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, peneliti, pemerhati sejarah, serta jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.
Forum itu tidak hanya menjadi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan bersama untuk menyelamatkan warisan kota-kota maritim Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, urbanisasi, degradasi kawasan pesisir, hingga krisis memori akibat derasnya arus informasi digital.
Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang yang akrab disapa Agustina itu menegaskan bahwa kota yang maju tidak boleh kehilangan jati dirinya.
Menurutnya, pelestarian sejarah harus berjalan seiring dengan pembangunan modern agar Semarang tetap berkembang sebagai kota yang kompetitif tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun masa depan. Kota yang memahami sejarahnya akan memiliki identitas yang kuat, karakter yang jelas, dan arah pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Agustina.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Kota Semarang tengah menyiapkan pembangunan Semarang City Archive dan Museum Bahari Semarang.
Kedua fasilitas itu diproyeksikan menjadi pusat dokumentasi sejarah, pendidikan, penelitian, inovasi, diplomasi budaya, sekaligus destinasi wisata sejarah.
Menurut Agustina, museum dan arsip kota tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi harus menjadi ruang hidup yang mampu menghubungkan generasi masa kini dengan perjalanan panjang peradaban Semarang sebagai kota pelabuhan yang kosmopolitan.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari para akademisi yang hadir sebagai narasumber.
Guru Besar Sejarah Maritim Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., menjelaskan bahwa Semarang telah berkembang sebagai kota maritim jauh sebelum masa kolonial dan menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa serta kebudayaan selama lebih dari seribu tahun.
Sementara itu, Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si., menilai pelestarian sejarah di era digital menghadapi tantangan baru.
Selain ancaman kerusakan fisik bangunan bersejarah, warisan sejarah juga rentan terhadap disinformasi, hoaks, dan bias teknologi.
Karena itu, digitalisasi arsip dan penguatan literasi sejarah menjadi langkah strategis yang perlu terus dikembangkan.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S., yang menekankan bahwa penyelamatan situs-situs maritim Nusantara merupakan agenda nasional untuk menjaga bukti kejayaan peradaban bahari Indonesia.
Adapun Prof. Dr. Suryadi, M.A., dari Leiden University, Belanda, menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam digitalisasi dan repatriasi arsip kolonial yang hingga kini masih tersimpan di berbagai lembaga di Belanda.
Menurutnya, arsip tersebut memiliki nilai strategis dalam merekonstruksi sejarah kota-kota maritim Indonesia, termasuk Semarang.
Komitmen Pemerintah Kota Semarang terhadap pelestarian sejarah juga diwujudkan melalui dua langkah konkret yang dilaksanakan bersamaan dengan seminar tersebut.
Pertama, penyerahan artefak dan arsip peradaban maritim koleksi Dr. Ir. Jimmy Lassang Manahara Siahaan, M.CP., kepada Pemerintah Kota Semarang.
Kedua, repatriasi arsip surat kabar Semarang periode 1858–1942 dari Rumah Sejarah Medan kepada Pemerintah Kota Semarang.
Pengembalian arsip tersebut menjadi tonggak penting dalam membangun kembali memori kolektif Kota Semarang sekaligus memperkuat fondasi pengembangan Semarang City Archive.
Bagi Pemerintah Kota Semarang, pembangunan kota tidak hanya menghadirkan infrastruktur yang modern dan kawasan yang tertata, tetapi juga memastikan identitas sejarah tetap hidup di tengah masyarakat.
Melalui pelestarian heritage dan penguatan arsip sejarah, Semarang diharapkan semakin kokoh sebagai kota maritim yang berbudaya, berdaya saing, dan menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan warisan sejarah perkotaan.***
