Tiga Tahun Perjalanan HS, dari Membuka Lapangan Kerja hingga Berbagi Manfaat Lewat Konser Slank
PURWOKERTO, (Harianterkini.id) – Perjalanan tiga tahun HS tidak hanya ditandai dengan pertumbuhan bisnis dan perkembangan produk. Di balik aktivitas industrinya, HS juga membawa sejumlah program yang diarahkan untuk memberikan manfaat bagi karyawan maupun masyarakat.
Salah satu bentuk apresiasi perusahaan terhadap karyawan diwujudkan melalui program pemberangkatan umrah bagi karyawan berprestasi.
Terbaru, sebanyak 156 karyawan mendapatkan kesempatan untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Program tersebut disebut tidak berhenti pada satu periode. HS berkomitmen untuk terus memberikan apresiasi serupa secara rutin sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kinerja para karyawannya.
Bagi perusahaan, keberadaan karyawan bukan sekadar bagian dari roda operasional bisnis.
Mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan HS sehingga apresiasi diberikan sebagai upaya membangun hubungan yang lebih baik sekaligus memotivasi karyawan untuk terus meningkatkan kinerja.
Dari sisi produk, HS juga terus melakukan pengembangan. Saat ini, produk rokok HS telah memiliki 14 varian yang menyasar selera konsumen yang beragam.
Beberapa produk terbaru di antaranya HS Double Slim dengan kombinasi rasa apel mint dan orange, serta kretek HS Matcha.
Kehadiran varian baru tersebut menjadi bagian dari inovasi perusahaan dalam menghadirkan pilihan produk yang berbeda.
Konser Slank Jadi Ruang Berbagi
Komitmen HS untuk memberikan manfaat juga diwujudkan melalui kegiatan kreatif dan hiburan. Salah satunya melalui konser Berani Kita Beda Tour HS Hey Slank yang digelar di Purwokerto.
Konser tersebut tidak hanya menghadirkan Slank sebagai penampil utama. Sejumlah musisi dari berbagai daerah, mulai dari Purwokerto hingga Yogyakarta, turut ambil bagian dalam rangkaian pertunjukan.
Menariknya, konser juga membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sejumlah tenda disediakan di lokasi acara sehingga pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka kepada para penonton.
Selain itu, terdapat program Slankerspreneur yang menjadi wadah bagi para penggemar Slank yang memiliki ketertarikan di bidang kewirausahaan.
Basis Slank, Ivan Kurniawan alias Ivanka, menjelaskan Slankerspreneur merupakan sebuah gerakan yang tidak terstruktur secara formal.
Namun, gerakan tersebut memberikan ruang kepada para Slankers untuk mengembangkan usaha berdasarkan bakat dan kemampuan masing-masing.
“Slankers ini sudah membersamai lebih dari 30 tahun, saat ini usianya sudah dewasa, sudah punya anak, punya tanggung jawab. Tercetuslah ide ini, mereka berkreasi sesuai bakatnya masing-masing,” kata Ivanka.
Menurut Ivanka, dukungan HS terhadap Slankerspreneur menjadi sesuatu yang berbeda. Sebab, rangkaian konser tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga memberikan peluang bagi para penggemar Slank untuk memperoleh manfaat ekonomi.
Dengan konsep tersebut, konser diharapkan mampu memberikan dampak lebih luas. Musik menjadi pintu masuk untuk mempertemukan masyarakat, komunitas, pelaku UMKM, sekaligus membuka peluang usaha.
Kaka Apresiasi Gagasan M. Suryo
Vokalis Slank, Akhadi Wira Satriaji alias Kaka, turut memberikan apresiasi terhadap perjalanan HS dan sosok M. Suryo.
Menurut Kaka, M. Suryo merupakan sosok yang memiliki banyak ide dan inovasi dalam mengembangkan berbagai kegiatan.
“Jadi wajar aja kalau tiga tahun HS bisa seperti ini. Banyak orang yang sudah terekrut, semoga Pak Haji Suryo selalu sehat badan dan pikirannya, jadi semakin banyak yang merasakan manfaatnya,” ujar Kaka.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana perkembangan HS tidak hanya dilihat dari sisi bisnis, tetapi juga dari banyaknya orang yang terlibat dan mendapatkan manfaat dari berbagai aktivitas perusahaan.
Setelah 18 Tahun, Slank Kembali ke Purwokerto
Bagi Slank, konser di Purwokerto juga memiliki cerita tersendiri. Setelah cukup lama tidak tampil di kota tersebut, grup musik yang telah berdiri selama puluhan tahun itu akhirnya kembali menyapa para penggemarnya.
Drummer Slank, Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim, mengatakan mereka terakhir kali tampil di Purwokerto sekitar 18 tahun lalu.
Bimbim bahkan mengingat penampilan terakhir mereka di Purwokerto terjadi ketika putrinya, Tallulah Alami, masih berusia dua tahun. Kini, Tallulah telah berusia 20 tahun.
“Jadi sudah 18 tahun nggak manggung di Purwokerto,” kata Bimbim.
Kembalinya Slank ke Purwokerto pun menjadi magnet tersendiri. Antusiasme tidak hanya datang dari Slankers lokal, tetapi juga penggemar yang datang dari berbagai daerah.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menilai kehadiran konser tersebut sebagai sebuah gebrakan bagi Banyumas, khususnya Purwokerto.
Menurut Sadewo, keputusan HS menghadirkan Slank menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
“HS masuk ke Purwokerto langsung membawa Slank. Biasanya kecil-kecil yang dibawa, ini yang dibawa langsung Slank, langsung ‘gajah’,” kata Sadewo.
Riding Bersama Slank hingga Panggung Musik
Sebelum konser dimulai, rangkaian kegiatan juga diisi dengan agenda riding bersama Slank dan ratusan pemotor.
Riding tersebut melibatkan komunitas penggemar sepeda motor, khususnya Paguyuban Sekuteris Banyumas Raya (Paseban Raya).
Rombongan memulai perjalanan dari Jembatan Gerilya Soedirman dan berakhir di venue GOR Satria.
Setibanya di lokasi, para peserta kemudian bergabung dengan masyarakat dan Slankers untuk mengikuti rangkaian acara hingga konser utama.
Selain Slank, panggung musik tersebut juga diramaikan sejumlah musisi lintas daerah. Line up konser terdiri atas Polkadots dari Purwokerto, FSTVLST, Karnamereka, dan Afterskema dari Yogyakarta, Preman Disco dari Bandung, serta Souljah dari Jakarta.
Slank kemudian tampil sebagai penampil utama yang menjadi puncak acara.
Bagi M. Suryo, perjalanan tiga tahun HS pada akhirnya bukan semata-mata tentang pertumbuhan bisnis.
Di balik bertambahnya jumlah karyawan, berkembangnya produk, hingga hadirnya berbagai kegiatan kreatif, terdapat komitmen untuk terus membuka lapangan pekerjaan, memberikan kesempatan yang setara, sekaligus berbagi manfaat dengan masyarakat.
Konser di Purwokerto menjadi salah satu gambaran dari komitmen tersebut. Musik, komunitas, UMKM, dan hiburan dipertemukan dalam satu ruang, sehingga sebuah pertunjukan tidak hanya berhenti sebagai tontonan, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan pengalaman dan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.***
