Rumah PoHan Gelar Pameran 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang, Ajak Publik Menelusuri Sejarah Perjuangan

InShot_20261018_090148648
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Rumah PoHan bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang menggelar pameran bertajuk “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang” di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, Kawasan Kota Lama, Semarang, Kamis (15/10/2026).

Pameran yang berlangsung pada 15–20 Oktober 2026 ini mengajak masyarakat menelusuri kembali arti penting Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terjadi pada 15–19 Oktober 1945.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah awal revolusi kemerdekaan Indonesia.

Pembukaan pameran dihadiri berbagai kalangan, mulai dari komunitas pegiat sejarah, akademisi, hingga Legiun Veteran Republik Indonesia.

Anggota DPR RI Komisi VII, Samuel J.D. Wattimena, turut hadir dan menyampaikan sambutan. Sementara itu, pameran secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar.

Pameran ini diselenggarakan oleh Rumah PoHan bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, dengan dukungan Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Kurator pameran, Kesit Widjanarko, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat memahami kembali posisi Semarang dalam sejarah perjuangan nasional.

Menurutnya, Pertempuran Lima Hari tidak hanya perlu dikenang melalui kronologi pertempuran, tetapi juga melalui penelusuran tokoh, dinamika perjuangan, serta pengalaman masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Ia menjelaskan, pemilihan judul “DARI SEMARANG KITA MULAI” terinspirasi dari pernyataan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia.

Baca Juga:  Pertamina Patra Niaga Siap Dukung Kebijakan Pemerintah Dengan Harga Khusus Avtur Nataru di 19 Bandara

“Judul DARI SEMARANG KITA MULAI bersumber dari pernyataan Jenderal Besar A.H. Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Kami ingin mengajak publik melihat kembali posisi penting Semarang dalam sejarah nasional,” ujar Kesit.

Ia menambahkan, pameran tersebut juga menampilkan berbagai sumber sejarah lokal yang selama ini belum banyak digali, termasuk informasi mengenai sejumlah tokoh penting yang terlibat dalam perjuangan.

“Kami berharap pameran ini dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian dan penelusuran sejarah yang lebih luas,” katanya.

Angkat Peran Tokoh dan Masyarakat

Melalui materi yang disajikan, pameran ini memperluas perspektif pengunjung dalam memahami Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Tidak hanya menampilkan kronologi pertempuran dan perjuangan bersenjata, pameran juga mengangkat peran tokoh, jaringan organisasi, serta pengalaman masyarakat dari beragam latar belakang sosial dan budaya.

Sejumlah tokoh yang diperkenalkan dalam pameran tersebut antara lain R.M. Bambang Soeprapto, Ibnu Parna, K.R.M.T. Wongsonegoro, Mgr. Albertus Soegijapranata, dan Mr. Kasman Singodimedjo.

Kehadiran kisah para tokoh tersebut menjadi bagian dari upaya menempatkan perjuangan kemerdekaan dalam konteks yang lebih luas.

Sejarah tidak hanya dibentuk oleh mereka yang bertempur di garis depan, tetapi juga oleh masyarakat yang mengambil peran dalam berbagai bentuk dukungan.

Warga yang menyediakan makanan, merawat korban, menyampaikan informasi, mengangkut kebutuhan perjuangan, hingga menyelamatkan keluarga dari kawasan berbahaya turut menjadi bagian penting dari sejarah pertempuran tersebut.

Baca Juga:  PWI Jateng Sesalkan Aksi Penghalangan dan Pengusiran Wartawan saat Liputan di Rembang

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan merupakan pengalaman kolektif yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Dengan demikian, sejarah Pertempuran Lima Hari tidak hanya dipahami sebagai peristiwa militer, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat Semarang pada masa revolusi.

Semangat Perjuangan Harus Relevan dengan Zaman

Dalam sambutannya, Samuel J.D. Wattimena menekankan pentingnya memaknai kembali semangat perjuangan rakyat Semarang agar tetap relevan dengan tantangan kehidupan masa kini.

Menurutnya, nilai-nilai perjuangan tidak harus diwujudkan melalui bentuk yang sama seperti pada masa kemerdekaan, tetapi dapat diteruskan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Semangat rakyat Semarang pada waktu Pertempuran Lima Hari di Semarang hari ini harus dimaknai ulang. Semangat itu perlu diwujudkan dalam bentuk yang lebih ekspresif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Samuel.

Ia menilai, semangat perjuangan dapat diteruskan melalui berbagai upaya yang memberikan dampak positif bagi kehidupan bersama.

Dengan begitu, peringatan sejarah tidak berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian dan kontribusi masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.

Apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran juga disampaikan pengunjung, Gregorious Hendrawan Manurung. Ia menilai pameran di Rumah PoHan mampu memadukan penyajian artistik dengan materi sejarah yang disusun berdasarkan riset mendalam.

“Pameran di Rumah PoHan ini, selain secara artistik ditata dengan bagus, materi di dalamnya juga dinarasikan dengan baik sekali karena didahului oleh riset yang mendalam terlebih dahulu.

Baca Juga:  Semarang Tunjukkan Wajah Toleransi, Wali Kota Semarang Sambut Rombongan Biksu Thudong di Masjid Al Falah Genuk

Hal ini membuat pengunjung tidak hanya menikmati penyajian visualnya, tetapi juga dapat memahami konteks sejarah yang disampaikan,” ungkap Gregorious.

Dorong Penelusuran Sejarah Lokal

Bagi Rumah PoHan, pameran ini bukan menjadi akhir dari upaya memahami Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi berbagai pihak untuk terus menggali sumber sejarah dan memperkaya dokumentasi mengenai perjuangan kemerdekaan.

Sejarawan, akademisi, peneliti, arsiparis, seniman, budayawan, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat berkolaborasi dalam mengembangkan pengetahuan serta karya kebudayaan yang berangkat dari sejarah lokal.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penelitian, pengumpulan arsip, pendokumentasian kesaksian, serta pengembangan buku, film dokumenter, dan karya seni yang mengangkat perjalanan sejarah Semarang.

Delapan puluh satu tahun setelah Pertempuran Lima Hari, tantangan yang dihadapi bukan hanya menjaga ingatan tentang keberanian para pejuang, tetapi juga memberikan ruang bagi pengalaman masyarakat yang selama ini belum banyak terdokumentasikan.

Melalui pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang”, Rumah PoHan mengajak masyarakat menempatkan sejarah Semarang dalam cakupan sejarah nasional sekaligus menjadikan pengalaman masa lalu sebagai bahan refleksi untuk memahami kehidupan bersama pada masa kini.

Pameran ini terbuka bagi masyarakat di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, Kawasan Kota Lama, Semarang, hingga 20 Oktober 2026.***