Dosen FTP USM Angkat Inovasi Pangan Berbasis Science of Sense

InShot_20261019_222344977
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Semarang (USM), Dr. Mita Nurul Azkia, S.TP., M.Sc., menjadi narasumber dalam kuliah umum pada rangkaian Postdoctoral Program World Class University (WCU) Universitas Diponegoro (Undip), belum lama ini.

Kuliah umum yang diikuti mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip tersebut mengangkat tema “Science of Sense: Mengubah Persepsi Konsumen menjadi Inovasi Produk Pangan”.

Kegiatan ini membahas pentingnya pemahaman terhadap persepsi konsumen dalam menciptakan produk pangan yang inovatif, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Mita menjelaskan bahwa persepsi manusia terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur makanan dapat dimanfaatkan sebagai landasan ilmiah dalam pengembangan produk pangan.

Menurutnya, keberhasilan inovasi pangan tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizi, keamanan pangan, maupun teknologi pengolahan yang digunakan.

Baca Juga:  Berlangsung Meriah! Kampung Toleransi Kenconowungu I Rayakan HUT Ke-7 dengan Syukuran dan Kenang Kasus Kriminalisasi

Tingkat penerimaan konsumen juga menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan suatu produk di pasaran.

Melalui pendekatan Science of Sense, respons pancaindra manusia terhadap karakteristik makanan dapat diterjemahkan menjadi data ilmiah yang terukur.

Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendukung proses pengembangan, evaluasi, hingga penyempurnaan produk pangan.

“Persepsi konsumen bukan sekadar persoalan suka atau tidak suka. Respons terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur dapat menjadi informasi ilmiah yang berharga dalam menciptakan produk pangan yang lebih berkualitas dan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Mita menambahkan, dalam kuliah umum tersebut mahasiswa juga diperkenalkan pada berbagai metode evaluasi sensori yang dapat diterapkan dalam penelitian dan pengembangan produk pangan.

Beberapa metode yang dibahas meliputi hedonic test untuk mengukur tingkat kesukaan konsumen terhadap suatu produk, difference test untuk mendeteksi perbedaan karakteristik sensori antarproduk, serta Quantitative Descriptive Analysis (QDA) untuk mengidentifikasi dan mengukur karakteristik sensori secara kuantitatif.

Baca Juga:  Sultan Skala Brak Kagum pada Ketahanan Fisik Ganjar ketika Keliling Lampung

Selain memahami metode evaluasi sensori, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pengembangan panelis terlatih, penerapan standar pengujian, serta pemanfaatan data sensori sebagai dasar pengambilan keputusan dalam formulasi produk pangan.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa pengembangan produk tidak hanya berorientasi pada aspek teknis dan ilmiah, tetapi juga mempertimbangkan preferensi serta kebutuhan konsumen.

Partisipasi dosen FTP USM dalam forum akademik tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi pangan.

Mita berharap, keterlibatan FTP USM dalam kegiatan akademik lintas perguruan tinggi dapat memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan industri pangan.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Dorong Pertanian Terpadu BSM, Hasil Panen Warga Harus Terserap Pasar

“Kami berharap, melalui partisipasi dalam forum akademik tersebut, FTP Universitas Semarang terus meningkatkan kontribusinya dalam menghasilkan dan menyebarluaskan inovasi teknologi pangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat maupun perkembangan industri,” ungkapnya.

Ia menegaskan, inovasi pangan pada masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi pengolahan.

Pemahaman terhadap kebutuhan, preferensi, dan persepsi konsumen juga harus menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk.

Menurutnya, perpaduan antara pendekatan ilmiah dan pemahaman terhadap respons konsumen dapat membantu menghasilkan produk pangan yang tidak hanya unggul dari sisi kualitas, tetapi juga mampu bersaing di tengah perkembangan industri.

“Sebab, produk pangan yang berhasil bukan hanya produk yang unggul secara ilmiah, melainkan juga produk yang benar-benar diterima dan disukai masyarakat,” tandasnya.***(bgy)