Gelak Tawa Warnai Pisah Sambut Mubalig JAI Semarang

InShot_20250809_223452227
Bagikan:

Caption : Para tokoh lintas agama dan kepercayaan berfoto bersama seusai acara Pisah Sambut Mubalig JAI Semarang, di Masjid Nusrat Jahan, Jl. Erlangga, Semarang, Minggu, 3 Agustus 2025.

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Acara Pisah Sambut Mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Semarang, di Masjid Nusrat Jahan, Jl. Erlangga, Kota Semarang, pada hari Minggu, 3 Agustus 2025, diwarnai oleh canda dan gelak tawa para hadirin.

Gelak tawa itu menyegarkan suasana ketika beberapa momen lucu dikemukakan sejumlah tokoh lintas agama dan kepercayaan.

Kegiatan yang dihadiri para tokoh lintas agama dan kepercayaan itu bertujuan untuk mengantarkan dan mendoakan mubalig JAI Semarang Maulana Saefullah Ahmad Farouk, yang mendapat tugas baru di Jakarta.

Selain itu, juga menyambut kedatangan Maulana Sanusi, yang menggantikan Saefullah di JAI Semarang.

“Kami harus merelakan seorang sahabat seperjuangan dalam menggerakkan moderasi beragama dan kebinekaan untuk pergi dari Semarang,” kata Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang, Setyawan Budy.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Agustina Paparkan Upaya Pemkot Tangani Kemiskinan Di Hadapan Menko Muhaimin

“Selamat bertugas di tempat baru di Jakarta, Maulana Saefullah. Selamat datang pula untuk Maulana Sanusi, yang bertugas menggantikan Maulana Saefullah di JAI Semarang,” imbuhnya.

Menurut Wawan, panggilan akrab Setyawan Budy, kebersamaannya dengan Saefullah selama 9 tahun dilalui dengan suka dan duka.

Mereka sering berbagi cerita dan bahkan air mata. Mungkin ia tidak akan menemukan sosok mubalig lain yang sama seperti Maulana Saefullah Ahmad Farouk.

Wawan menambahkan, meskipun Saefullah lahir di Jawa Barat dan ia lahir di Jawa Tengah, namun seperti ada hubungan batin yang menghubungkan mereka berdua.

Mereka berkegiatan bersama, berziarah bersama, bahkan kungkum bersama.

“Sungguh itu semua merupakan pengalaman berharga yang tidak akan saya lupakan. Saya banyak mendapatkan banyak pelajaran dan hikmah selama bersahabat dengan Saefullah,” ujarnya.

Saefullah menanggapi tentang Pelita Semarang yang dipimpin Setyawan Budi dianggap telah membangun hubungan yang sangat dekat dengan komunitas Ahmadiyah di Jawa Tengah.

Baca Juga:  HUT Golkar ke-61, Ferry Wawancahyono: Mari Jadikan Golkar Rumah Besar Rakyat Indonesia

Pelita memiliki peran penting dalam menjalin kerukunan lintas agama di Kota Semarang. Keterlibatan Setyawan Budi dalam mendirikan Pelita Semarang telah membuka pintu bagi kerja sama yang erat antara Ahmadiyah dengan komunitas dan organisasi lintas agama, terutama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama.

Kedekatan antara Ahmadiyah dengan Pelita tidak hanya sebatas kerjasama lembaga saja, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan sosial.

Dua organisasi ini bergandengan tangan dalam mengumpulkan bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan.

“Melalui Mas Wawan, kami dapat terlibat dalam komunitas lintas agama dan memainkan peran penting dalam mempertemukan pihak-pihak yang minoritas dan terpinggirkan,” ucapnya.

“Kalau tidak ada Mas Wawan, mungkin kami tidak bisa mengenal tokoh-tokoh pluralisme seperti Kiai Taslim Syahlan, Romo Eduardus Didik Chahyono SJ, Romo Warto, Kiai Sun Djok San, Ws. Andi Tjiok, Pdt. Aryanto Nugroho, dan sebagainya,” katanya seraya menambahkan jika Setyawan boleh dikatakan telah menjadi jembatan yang membantu mengintegrasikan komunitas-komunitas minoritas dan memberikan mereka kesempatan untuk berkontribusi dalam menciptakan kerukunan beragama dan kepercayaan di Semarang.

Baca Juga:  Dosen Psikologi Universitas Semarang Katakan Orang Self Harm Bukan Caper, Tapi Ingin Lebih Didengar

Canda dan gelak tawa ketika beberapa tokoh lintas agama yang hadir, seperti Sekjen Asosiasi FKUB se-Indonesia Taslim Syahlan, mubalig LDII Jawa Tengah Sun Djok San, Fungsionaris ICMI Orwil Jawa Tengah Gunoto Saparie, Pdt. Aryanto Nugroho, Romo Didik, Pdt. Linda Mutiara Lumban Tobing, Romo Warto, Andi Tjiok, Penasihat FJG Joko Wahyudi, dan lain-lain, memberikan testimoninya.

Mereka membagikan sejumlah pengalamannya saat bersahabat dan berinteraksi dengan Saefullah selama ini. Beberapa momen lucu dan penuh human interest dikemukakan dengan penuh canda, sehingga mengundang gelak tawa para hadirin.***