Renungan Nasional HUT RI di USM, Prof Komaruddin : “Indonesia Kokoh Jika Pemimpin Berakar Rakyat”

InShot_20250813_191256500
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Suasana hangat penuh kekeluargaan sekaligus khidmat mewarnai acara Renungan Nasional menyongsong HUT Ke-80 Kemerdekaan RI di Menara Universitas Semarang (USM) lantai 10 (rooftop), Semarang, belum lama ini.

Renungan sekaligus sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-38 USM ini mengangkat tema ”Bersatu Padu Maju Negeriku”.

Sejumlah tokoh negeri, pembina, penasihat, pengurus yayasan yang membidani USM, legislator dan pucuk pimpinan universitas hadir dalam malam renungan yang dinaungi sinar bulan bulat sempurna itu.

Acara dibuka dengan refleksi Hari Kemerdekaan yang disampaikan secara virtual oleh Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, MA., PhD.

Dia mengajak hadirin untuk mengenang peristiwa bersejarah yaitu penemuan teknologi cakar ayam oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo, Prof. Komaruddin mengatakan, Ir. Sedijatmo diperintahkan Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno, untuk memasang tiang listrik yang bertegangan tinggi yang memuat beban berat, namun dibangun di atas rawa-rawa di Ancol.

Baca Juga:  Telah Resmi Dibuka, Festival Kota Lama Semarang 2025 Membuat Pengunjung Kagum

Saat itu, memang harus dibangun tiang listrik bertegangan tinggi untuk menyukseskan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962.

“Dan ketika itu Ir Sedijatmo duduk merenung melihat alam sambil menikmati udara sore hari di Ancol. Dia melihat pohon kelapa yang ditiup angin bergerak kesana kemari, ngalor ngidul, ngetan ngulon, tapi kok tidak roboh,” katanya.

Lalu dia berpikir, kok bisa-bisanya tidak tumbang. Akhirnya, aha, dia menemukan kuncinya, yaitu kekuatannya ada pada akarnya.

Akarnya itu banyak, kecil-kecil, tapi berakar kuat ke tanah seperti cakar ayam yang banyak. Sejak itu dia bangun tiang listrik bercakar ayam dan diakui dunia.

Lalu apa hubungannya teknologi cakar ayam dengan peringatan Agustus ini? Menurutnya, kemunculan para pemimpin bangsa ini awalnya datang dari bawah, dari masyarakat.

”Mereka berakar ke masyarakat. Hatinya, pikirannya, sepak terjangnya itu berakar pada masyarakat. Mereka menggeliat, dilindungi oleh rakyat. Bahkan gerilyawan kita dilindungi sampai membuat Belanda bingung karena kuatnya gotong royong yang akhirnya mengantarkan ke negara republik ini,” jelasnya.

Baca Juga:  Warga Bumiputra Indonesia (WBI) JATENG Meminta Semua Pihak Jaga Kondusifitas Polemik Parkir Pasar Semarang

Itu sebabnya, Prof. Komaruddin menyebut negara ini merupakan anak kandung rakyat yang kekuatannya terletak dalam sikap gotong royong dan saling menolong. Sikap ini merupakan watak dasar budaya kita.

“Maka dari itu, hakikatnya pemimpin itu harus merasakan denyut napas dan berakar dari rakyat. Kalau pemimpinnya merakyat, Indonesia kokoh. Jangan sampai menjadi ‘malin kundang’ rakyat,” ungkap mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah itu.

Rektor USM, Dr. Supari, S.T., M.T., dalam sambutannya mengatakan, para pendiri USM dan pimpinan saat ini sudah berkomitmen visi USM adalah ber keindonesiaan.

”Apa pun yang dikerjakan USM, Tri Dharma perguruan tinggi dalam konstruksi untuk memajukan negeri ini,” tandasnya.

Supari menjelaskan, pada usia USM Ke-38 tahun sudah dinyatakan ”Unggul”, yang dinilai sebagai membuka jalan bagi keberkahan selanjutnya.

Baca Juga:  Fakultas Psikologi USM Gelar Psikoedukasi Mindful Parenting untuk Dukung Orang Tua Anak Disabilitas

”Jika ada istilah ”Begins at 40”, di usia 38 tahun, USM sudah Unggul. Beberapa hari yang lalu, telah dikeluarkan izin pembukaan Program Studi Doktor Ilmu Manajemen,” bebernya.

Supari lebih lanjut mengatakan, salah satu implementasi USM Jembatan Masa Depan Anda, bagi mahasiswa dijanjikan ke depan akan sukses.

Dia mengibaratkan jika di industri menjanjikan after sales service, USM menjanjikan after graduation service, yang artinya setelah lulus akan dipantau dan diupayakan karirnya.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof. Dr. Sudharto P Hadi, MES., P.hD., mengatakan bahwa refleksi nasional ini dihadiri berbagai komponen, mulai dari mantan menteri, rektor, dosen, jurnalis, TNI, jaksa.

”Selain refleksi kemerdekaan, malam ini (Jumat-Red) juga sebagai syukuran mendapatkan akreditasi unggul dan mendapatkan izin penyelenggaraan Program Doktor Ilmu Manajemen yang dipelopori Prof Kesi, Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip,” jelasnya.***