Kedaulatan Diri di Era Modern, Refleksi Semangat Kebangkitan Nasional dalam Menghadapi Perubahan Hidup

InShot_20260529_000649369
Bagikan:

Oleh: Dr. N.A.N. Murniati, M.Pd.

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Perubahan dalam kehidupan kerap datang tanpa bisa diprediksi. Transisi karier, perubahan hubungan sosial, hingga perpindahan lingkungan sering kali menghadirkan ketidakpastian yang membuat seseorang merasa kehilangan arah.

Dalam situasi tersebut, konsep kedaulatan diri dinilai menjadi kunci penting agar individu mampu tetap bertahan dan menentukan arah hidupnya sendiri.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Dr. N.A.N. Murniati, M.Pd., dalam refleksi bertajuk “Kedaulatan Diri: Menjadi Nahkoda di Atas Kapal Hidup yang Baru” yang mengaitkan semangat Kebangkitan Nasional dengan tantangan kehidupan modern saat ini.

Menurutnya, perubahan hidup dapat dianalogikan seperti sebuah kapal yang tengah berlayar di tengah samudra luas.

Ada kalanya kapal tersebut tampak kokoh dan siap menghadapi tantangan baru, namun tidak sedikit pula yang justru merasa seperti kapal tua yang kehilangan arah di tengah badai kehidupan.

“Dalam kondisi penuh ketidakpastian, manajemen diri bukan lagi sekadar rutinitas harian, melainkan instrumen navigasi penting untuk menentukan arah kehidupan,” tulisnya.

Baca Juga:  Bambang Raya, Sang Reformasi Karate

Ia menjelaskan, semangat Kebangkitan Nasional yang lahir pada 20 Mei 1908 sejatinya juga merupakan bentuk perjuangan merebut kedaulatan.

Kala itu, para pemuda Boedi Oetomo memilih bangkit dan mengambil kendali atas nasib bangsa yang berada di bawah kolonialisme.

Di era modern, lanjutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat memang berbeda.

Jika dahulu musuh bangsa adalah penjajahan fisik, maka saat ini masyarakat dihadapkan pada disrupsi global, tekanan sosial, kecemasan, hingga krisis arah hidup.

Karena itu, semangat kebangkitan dinilai perlu dimaknai ulang sebagai upaya setiap individu untuk memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri.

“Kebangkitan nasional hari ini adalah kebangkitan personal, yakni komitmen untuk tidak membiarkan keadaan mendikte siapa diri kita,” ungkapnya.

Dalam refleksinya, Murniati menekankan pentingnya kemampuan mengelola emosi, waktu, dan energi secara sadar atau mindfulness agar seseorang tidak hanya hidup dalam “mode reaksi” akibat tekanan lingkungan.

Baca Juga:  Dosen Universitas Semarang Tunjukkan Inovasi Sosial di Forum Global Kewirausahaan Internasional

Menurutnya, individu yang memiliki kedaulatan diri akan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip internal, bukan sekadar mengikuti arus maupun tekanan eksternal.

Ia juga menyoroti pentingnya resiliensi atau ketangguhan dalam menghadapi perubahan hidup.

Resiliensi, kata dia, bukan berarti memaksakan diri terus berjalan tanpa batas, melainkan kemampuan mengelola sumber daya diri agar tetap mampu bertahan dan berkembang.

“Ketangguhan sejati adalah kemampuan untuk tetap menjadi nahkoda bahkan ketika kapal sedang retak,” jelasnya.

Murniati menjabarkan bahwa resiliensi dibangun melalui tiga pilar utama, yakni visi, disiplin, dan keseimbangan emosi.

Visi diibaratkan sebagai mercusuar yang memberi arah dan alasan untuk tetap bertahan di tengah badai kehidupan.

Disiplin menjadi sistem navigasi yang menjaga seseorang tetap berada pada jalurnya, sementara keseimbangan emosi membantu individu tetap tenang dan fokus menghadapi tantangan.

Baca Juga:  Oleh Gunoto Saparie : Quo Vadis Ranperpres Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama?

Selain itu, ia mengingatkan bahwa manajemen diri tidak boleh membuat seseorang kehilangan sisi kemanusiaannya.

Produktivitas dan target hidup perlu diimbangi dengan empati, intuisi, serta kejujuran terhadap perasaan diri sendiri.

“Keselarasan antara logika dan hati akan menciptakan ketenangan batin. Ketika diri kita tenang, maka cara menghadapi tantangan hidup juga menjadi lebih bijaksana,” ujarnya.

Ia menilai, semangat Kebangkitan Nasional sejatinya tidak lahir dari gerakan besar semata, melainkan dari keteguhan visi dan kesadaran individu-individu yang memilih bangkit dan tidak menyerah pada keadaan.

Karena itu, di tengah era modern yang penuh perubahan dan disrupsi, setiap orang dituntut menjadi “nahkoda” atas kehidupannya sendiri.

“Pada akhirnya, kemenangan sejati bukan milik mereka yang memiliki kapal tercepat, tetapi mereka yang paling berdaulat atas kemudinya sendiri,” pungkasnya.

Penulis merupakan dosen Program Magister Manajemen Pendidikan UPGRIS dengan bidang keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan.***(bgy)