CEO Terakhir Generasi Ketiga, Irwan Hidayat Siapkan Tongkat Estafet Kepemimpinan Sido Muncul

WhatsApp Image 2026-06-11 at 15.47.54
Bagikan:

JAKARTA (Harianterkini.id) – Di usia 79 tahun, sosok di balik kesuksesan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, justru kembali mengambil peran strategis sebagai Chief Executive Officer (CEO). Langkah tersebut bukan untuk mengejar prestasi pribadi, melainkan menuntaskan sebuah tanggung jawab moral sebelum menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi berikutnya.

Dalam wawancara bersama jurnalis senior Andi F. Noya, Irwan menegaskan dirinya ingin menjadi CEO terakhir dari generasi ketiga keluarga pendiri Sido Muncul.

“Saya punya ikatan moral yang kuat dengan Sido Muncul. Takdir saya ada di sini. Saya ingin memastikan perusahaan ini menjadi perusahaan yang full compliance, sempurna, tidak boleh salah, sebelum saya serahkan kepada generasi penerus,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Irwan, masa kepemimpinannya sebagai CEO hanya akan berlangsung sekitar satu tahun. Setelah itu, kepemimpinan akan diserahkan kepada generasi keempat yang kini telah memiliki pengalaman kerja dan pendidikan yang memadai.

Di tengah sorotan pasar modal terhadap penurunan kinerja penjualan Sido Muncul pada kuartal pertama, Irwan justru mengungkapkan bahwa kondisi tersebut merupakan keputusan yang disengaja.

Ia menjelaskan bahwa sebelum kembali menjabat CEO, perseroan menghadapi persoalan stok produk yang menumpuk di tingkat distributor hingga mencapai tiga bulan persediaan, terutama untuk produk andalan Tolak Angin dan Kuku Bima.

“Kami sengaja menahan penjualan. Saya lebih memilih kondisi yang sehat daripada sekadar tampilan laporan keuangan yang bagus,” kata Irwan.

Menurutnya, penumpukan stok terjadi akibat strategi penjualan yang mendorong distributor membeli dalam jumlah besar demi mengejar target dan mempercantik laporan penjualan.

Baca Juga:  Hotel Ciputra Semarang memperingati Tahun Baru Islam dengan Kegiatan Pemberian Beasiswa Kepada Anak Asuh Al Kahfi

Dampaknya, harga produk di pasar mulai mengalami tekanan akibat persaingan antar-distributor yang menjual dengan harga lebih rendah untuk mengurangi stok.

“Kami ingin stok kembali normal. Idealnya satu bulan di pabrik dan dua minggu di distributor. Kalau stok terlalu banyak, itu tidak sehat bagi sistem distribusi maupun merek,” jelasnya.

Irwan menegaskan bahwa penurunan penjualan yang tercatat bukan disebabkan melemahnya permintaan konsumen. Justru konsumsi produk Sido Muncul tetap stabil, bahkan meningkat di sejumlah wilayah.

“Demand konsumen tidak turun. Yang kami tahan adalah pengiriman ke distributor supaya stok mereka tidak berlebihan,” katanya.

Irwan juga menanggapi keluarnya saham Sido Muncul dari indeks MSCI yang sempat menjadi perhatian investor.

Baginya, ukuran utama keberhasilan perusahaan bukanlah posisi dalam indeks pasar modal, melainkan kepercayaan konsumen terhadap produk.

“Yang penting produk tetap diminati masyarakat. Perusahaannya tetap dihormati orang. Itu yang utama,” ujarnya.

Ia menilai banyak perusahaan saat ini terlalu fokus pada tampilan kinerja jangka pendek.

“Kalau saya yang penting isinya. Jangan tampilannya bagus tapi kenyataannya tidak sehat,” tegasnya.

Menyiapkan Generasi Keempat

Salah satu fokus utama Irwan saat ini adalah memastikan proses regenerasi berjalan baik. Namun, ia menegaskan bahwa jabatan tertinggi perusahaan tidak otomatis diberikan kepada anak kandungnya.

Meski putrinya kini menjabat sebagai Direktur Marketing dan menjadi anggota generasi keempat yang paling senior, keputusan kepemimpinan akan tetap mempertimbangkan kemampuan dan kesiapan.

Baca Juga:  Dosen Teknik Sipil USM Raih Gelar Doktor, Teliti Perilaku Beton SCC Berserat Baja Terkekang

“Belum tentu anak saya yang dipilih. Yang terpenting siapa yang paling siap memimpin perusahaan,” katanya.

Saat ini terdapat 13 anggota generasi keempat keluarga besar Sido Muncul yang aktif membangun komunikasi dan mempersiapkan masa depan perusahaan melalui forum internal yang mereka bentuk sendiri, yakni “family chapter”.

Irwan mengaku sengaja memberi ruang bagi generasi muda untuk menyusun aturan dan kesepakatan mereka sendiri.

“Mereka punya hukum adat mereka sendiri. Kalau kami ikut campur nanti malah kacau karena cara berpikir kami berbeda,” ujarnya sambil tersenyum.

Berbeda dengan banyak perusahaan keluarga yang terpecah akibat konflik internal, Irwan menilai fondasi utama Sido Muncul adalah nilai-nilai yang ditanamkan orang tua dan pendiri perusahaan.

Ia mengenang pesan sang ibu yang selalu mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antarsaudara.

“Kalau sama saudara saja tidak baik, apalagi dengan orang lain. Kalau saudara berantem terus, kepercayaan orang juga turun,” kenangnya.

Menurut Irwan, perbedaan pendapat dalam keluarga merupakan hal yang wajar. Namun konflik tidak boleh berkembang menjadi pertikaian yang merusak.

“Beda pendapat itu biasa. Yang penting jangan sampai kehilangan kesadaran bahwa saudara adalah partner terbaik yang kita miliki,” ujarnya.

Berbasis Ilmiah, Kunci Keberhasilan Tolak Angin

Dalam wawancara tersebut, Irwan juga mengungkap salah satu keputusan paling penting dalam sejarah Sido Muncul, yakni mengubah industri jamu tradisional menjadi berbasis penelitian ilmiah.

Gagasan itu muncul sejak 1985 ketika ia melihat produk farmasi memiliki tingkat kepercayaan tinggi karena didukung penelitian dan pembuktian ilmiah.

Baca Juga:  Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis, DPR Dorong Masyarakat Jadi Mitra BGN

“Saya berpikir, kalau konsumen dihadapkan pada beberapa produk dan hanya satu yang punya bukti ilmiah, pasti dia memilih yang ada buktinya,” katanya.

Namun cita-cita tersebut baru dapat diwujudkan setelah Sido Muncul membangun fasilitas produksi modern pada 2002 yang memenuhi standar industri farmasi.

Sejak saat itu, berbagai produk Sido Muncul menjalani uji praklinis, uji toksisitas, dan pembuktian khasiat secara ilmiah.

Menurut Irwan, langkah tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mengantarkan Tolak Angin menjadi pemimpin pasar jamu masuk angin di Indonesia.

Di penghujung perbincangan, Irwan kembali menegaskan filosofi hidup yang selama ini menjadi pegangan dalam membangun bisnis.

Menurutnya, kesuksesan dan kekayaan bukanlah sesuatu yang bisa dikejar secara langsung.

“Kekayaan itu tidak bisa dikejar. Yang ada justru kita yang dikejar oleh kekayaan. Caranya sederhana, lakukan segala sesuatu dengan baik, sungguh-sungguh, dan bangun kepercayaan,” ujarnya.

Baginya, keberhasilan Sido Muncul bukan semata hasil kecerdasan bisnis, melainkan kombinasi kerja keras, nilai keluarga, dan keberuntungan yang diberikan Tuhan.

“Kalau saya bisa seperti sekarang, itu karena beruntung. Yang 10 persen kemampuan, 90 persen keberuntungan,” kata Irwan.

Kini, setelah hampir delapan dekade perjalanan hidupnya, Irwan Hidayat tengah menyiapkan babak baru dalam sejarah Sido Muncul: menyerahkan perusahaan yang dibangun keluarganya selama lebih dari 70 tahun kepada generasi berikutnya dengan fondasi tata kelola yang lebih kuat, sehat, dan berkelanjutan.