BYD Siapkan Ekspansi Showroom di Jateng, Optimistis Pasar Dual Mode Tumbuh

IMG-20260616-WA0013
Bagikan:

SEMARANG (Harianterkini.id) – BYD tak sekadar menawarkan klaim efisiensi kendaraan elektrifikasi. Pabrikan otomotif asal Tiongkok itu mencoba membuktikannya langsung di medan jalan nyata melalui kegiatan BYD Media Challenge dan test drive teknologi Dual Mode (DM) di Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).

Dalam pengujian tersebut, teknologi yang menggabungkan tenaga listrik dan mesin berbahan bakar itu diklaim mampu mencatat efisiensi hingga 65 kilometer per liter, sekaligus menawarkan jarak tempuh lebih dari 1.100 kilometer dalam satu siklus penggunaan.

Pengujian melibatkan sejumlah jurnalis otomotif dan media dengan rute dari dealer BYD Haka Semarang menuju kawasan Kopeng, Salatiga, melintasi jalan menanjak dan tikungan perbukitan, lalu berlanjut ke Kopi Banaran Tuntang sebelum kembali ke Jalan Kompol Maksum, Semarang.

Rute tersebut sengaja dipilih untuk menggambarkan kondisi perjalanan harian masyarakat tanpa rekayasa khusus.

Peserta tak hanya menjajal performa kendaraan di berbagai karakter jalan, tetapi juga mengikuti tantangan efisiensi energi listrik dan bahan bakar untuk melihat bagaimana sistem bekerja dalam penggunaan riil.

Head of Marketing, PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan Jawa Tengah dipilih sebagai lokasi ketiga pembuktian performa teknologi Dual Mode setelah Jakarta dan Medan.

Menurutnya, wilayah ini memiliki karakter jalan yang cukup representatif untuk menguji kemampuan kendaraan elektrifikasi di berbagai kondisi.

Namun lebih dari sekadar pembuktian teknologi, BYD melihat kehadiran Dual Mode sebagai jawaban atas tantangan transisi kendaraan listrik di Indonesia.

Baca Juga:  PN Jakpus Hadirkan Saksi di Sidang Dugaan Sengketa Lahan Tambang, Ini Faktanya

Luther menjelaskan, teknologi DM sengaja dibawa ke pasar nasional untuk menjawab keraguan sebagian masyarakat yang belum siap sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV).

“Memang teknologi DM ini terkesan baru di Indonesia, tetapi secara global sudah sangat berkembang. Kami melihat saat ini adalah momen yang tepat untuk membawa teknologi ini ke Indonesia,” ujar Luther.

Secara global, BYD mencatat telah menjual sekitar 16,5 juta kendaraan. Menariknya, hampir 50 persen penjualan tersebut berasal dari kendaraan berteknologi Dual Mode, yang mengombinasikan mesin konvensional dengan sistem elektrifikasi.

Menurut Luther, kondisi infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di sejumlah daerah masih menjadi tantangan utama, terutama di luar kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Di sisi lain, tingkat kesiapan konsumen untuk langsung berpindah ke kendaraan listrik penuh juga dinilai belum terlalu tinggi.

“Kami melihat masih ada tantangan dari sisi infrastruktur. Selain itu, kesiapan konsumen untuk langsung berpindah ke kendaraan listrik penuh juga belum terlalu tinggi,” jelasnya.

Faktor harga bahan bakar yang relatif tinggi juga menjadi pertimbangan BYD menghadirkan teknologi ini.

Melalui sistem Dual Mode, konsumen dinilai tetap bisa menikmati efisiensi kendaraan elektrifikasi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada stasiun pengisian daya.

“Teknologi ini memberikan solusi bagi konsumen yang masih memiliki kekhawatiran soal jarak tempuh dan pengisian daya. Dengan DM, pengguna memiliki fleksibilitas karena tetap ada opsi menggunakan bahan bakar,” katanya.

Baca Juga:  Perkuat Sinergi, PLN Audiensi dengan Kejati Jateng

Sementara itu, Product Expert BYD Indonesia, Boby Bharata, menjelaskan sistem Dual Mode dirancang bekerja secara otomatis untuk menentukan sumber tenaga paling efisien sesuai kebutuhan kendaraan.

“Pengemudi cukup mengemudi seperti biasa. Sistem akan membaca kondisi jalan dan kebutuhan tenaga kendaraan untuk menentukan kapan menggunakan tenaga listrik dan kapan mesin bekerja demi menjaga efisiensi optimal,” jelasnya.

Menurut Boby, teknologi tersebut menawarkan tiga keunggulan utama, yakni efisiensi energi tinggi, biaya operasional lebih rendah, serta emisi gas buang yang lebih kecil dibanding kendaraan konvensional.

Dalam penggunaan harian di perkotaan, kendaraan lebih banyak memanfaatkan tenaga listrik sehingga konsumsi bahan bakar dapat ditekan signifikan.

Sementara untuk perjalanan jauh, sistem secara otomatis mengombinasikan tenaga listrik dan mesin bensin agar performa tetap optimal tanpa kekhawatiran kehabisan daya.

Selain aspek teknologi, BYD juga mengklaim menghadirkan produk yang disesuaikan dengan karakter konsumen Indonesia. Luther menyebut masyarakat Indonesia cenderung mencari kendaraan dengan kapasitas besar, tangguh, nyaman, serta harga yang kompetitif.

“Karakter kendaraan yang diinginkan masyarakat Indonesia adalah kendaraan yang bisa membawa banyak penumpang, durable, kuat, dan tentu dengan harga yang terjangkau,” ungkapnya.

Untuk pasar Indonesia, BYD M6 Dual Mode ditawarkan dengan harga mulai Rp298 juta hingga sekitar Rp380 juta secara nasional dengan lima pilihan varian, mulai tipe standar hingga premium.

Baca Juga:  Waspada Karhutla, Empat Daerah di Riau Tetapkan Status Siaga Darurat

“Untuk wilayah Semarang masih kami kalkulasi lagi, tetapi secara nasional harganya mulai Rp298 juta sampai Rp380 juta,” ujarnya.

BYD mengaku respons pasar terhadap kendaraan ini cukup tinggi sejak harga diumumkan. Saat ini, perusahaan masih melakukan penyesuaian antara kapasitas pasokan unit dan jumlah pemesanan konsumen.

“Antusias masyarakat cukup tinggi setelah kami memperkenalkan harga. Jumlah peminatnya sudah mencapai ribuan, sehingga kami masih melakukan kalkulasi supply dan order,” katanya.

Untuk mendukung layanan purna jual, BYD memastikan jaringan yang dimiliki telah disiapkan untuk menangani kendaraan dengan teknologi baru tersebut.

Saat ini perusahaan memiliki sekitar 97 jaringan layanan yang telah dilengkapi fasilitas perawatan kendaraan, termasuk untuk teknologi Dual Mode.

“Ketika membangun jaringan distribusi, kami sudah mempersiapkan fasilitas untuk maintenance dan pengelolaan kendaraan, termasuk untuk teknologi DM ini,” jelas Luther.

Di Jawa Tengah, BYD melihat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik terus meningkat. Dari sekitar 1.600 kendaraan listrik yang beredar di wilayah tersebut, kontribusi BYD disebut telah mencapai sekitar 40 persen.

Penguatan jaringan penjualan juga terus dilakukan. Selain dua jaringan di Kota Semarang, BYD telah hadir di Solo, Yogyakarta, dan sejumlah kota lainnya.

“Pada 17 Juni nanti kami juga akan membuka secara bersamaan empat showroom baru di Jawa Tengah. Ini bagian dari komitmen kami memperkuat layanan dan mendekatkan kendaraan listrik kepada masyarakat,” pungkasnya.***