Di Seminar HAM USM, Presiden BEM UGM Tekankan Pentingnya Kritik Objektif

InShot_20260617_225413648
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025, Tiyo Ardianto, mengajak mahasiswa untuk mengedepankan kritik yang objektif dibandingkan kebencian dalam menyikapi berbagai kebijakan publik.

Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dari fungsi kontrol sosial, sedangkan ujaran kebencian justru dapat menghilangkan objektivitas.

Hal tersebut disampaikan Tiyo saat menjadi pembicara dalam Seminar Hak Asasi Manusia (HAM) bertajuk “HAM di Era Digital: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Kebebasan yang Bertanggung Jawab” yang digelar di Gedung Prof. Ir. Joetata Hadihardja, Universitas Semarang (USM), Kamis, 11 Juni 2026.

“Mahasiswa harus fokus pada kritik, bukan pada kebencian. Mari bicara tentang objektivitas dan kritik terhadap kebijakan publik. Jika suatu saat menyentuh aspek yang bersifat personal, lakukan secara bertanggung jawab, penuh perhitungan, dan strategis,” ujar Tiyo.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Tinjau Titik-Titik Pengungsian Warga Terdampak Banjir dan Pastikan Bantuan Tersalurkan

Ia menilai, selain memiliki pola pikir kritis, mahasiswa juga harus memiliki keberanian agar kebebasan berekspresi memiliki makna.

Menurutnya, kesadaran akan kebebasan yang dimiliki harus menjadi landasan dalam menggunakan hak berekspresi secara bertanggung jawab.

“Setiap mahasiswa harus menyadari kebebasannya. Setelah menyadari kebebasan itu, maka kebebasan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Tiyo menambahkan, derasnya arus informasi di era digital menuntut mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu maupun ujaran kebencian.

“Hari ini kita berhadapan dengan situasi di mana informasi terlalu banyak dan tidak semuanya terverifikasi. Yang dibutuhkan adalah berpikir kritis.

Baca Juga:  Gandeng BRIN, Mbak Ita Dorong Petani Gunakan Teknologi TSS Bisa Hemat Modal dan Hasilkan 20 Ton Per Hektar

Dengan berpikir kritis, kita tidak akan mudah terjebak pada kebohongan, informasi palsu, maupun ujaran kebencian,” jelasnya.

Ia berharap para peserta seminar mampu menjadi generasi yang berani menyampaikan pendapat sekaligus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan secara bertanggung jawab.

“Saya berharap peserta seminar hari ini memiliki keberanian yang lebih daripada sebelumnya. Kita semua mungkin bebas, tetapi tanpa keberanian, kebebasan itu menjadi hampa dan tanpa makna,” tuturnya.

Seminar yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Semarang tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang berasal dari siswa SMA di Kota Semarang dan mahasiswa USM.

Selain Tiyo Ardianto, seminar juga menghadirkan narasumber dari Amnesty International Indonesia, Claudia Destianira dan Michelle Dionisius.

Baca Juga:  Satu Tahun Kepemimpinan Agustina Wilujeng Pramestuti–Iswar Aminuddin, Semarang Lebih Sejahtera Lewat Program “Semarang Bersih”

Ketua Pelaksana Seminar HAM, Hapsari Okta, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pembekalan kepada generasi muda mengenai hak asasi manusia, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital.

“Peserta seminar berasal dari SMA di Kota Semarang dan mahasiswa Universitas Semarang dengan jumlah sekitar 150 peserta. Harapannya, seminar ini dapat memberikan pembekalan kepada peserta mengenai HAM, media, serta berbagai lingkup yang berkaitan dengan hak asasi manusia,” ujarnya.

Menurut Hapsari, melalui seminar tersebut peserta diharapkan semakin memahami pentingnya hak asasi manusia, meningkatkan literasi digital, serta mampu memanfaatkan kebebasan berekspresi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.***(bgy)