Tak Mewariskan Harta, Sekolah Rakyat Jadi Tumpuan Masa Depan Anaknya

IMG-20260625-WA0003

DOK. ISTIMEWA : Bangunan Sekolah Rakyat yang disiapkan pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Bagikan:

Oleh: Bintang Diega Pratama

SEMARANG (Harianterkini.id) – Pendidikan yang layak masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga miskin di Indonesia. Bukan karena anak-anak mereka tak ingin belajar, melainkan karena penghasilan orang tua sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Ketika biaya seragam, buku, transportasi hingga uang saku mulai menumpuk, sekolah kerap menjadi pilihan yang harus dikalahkan oleh keadaan.

Persoalan itu belum sepenuhnya terselesaikan meski angka kemiskinan nasional menunjukkan tren menurun.

Data Badan Pusat Statistik mencatat, per September 2025 terdapat 23,36 juta penduduk miskin atau 8,25 persen dari total penduduk Indonesia. Sebanyak 11,18 juta orang tinggal di perkotaan, sementara 12,18 juta lainnya berada di wilayah perdesaan.

Di saat dunia kerja semakin kompetitif dan keterampilan menjadi syarat utama untuk bertahan, keterbatasan akses pendidikan berpotensi memperpanjang rantai kemiskinan.

Anak-anak yang lahir dari keluarga berpenghasilan rendah berisiko mengulang cerita yang sama seperti orang tuanya, berhenti sekolah lebih cepat dan masuk ke sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu.

Kekhawatiran itu pernah menghantui Musfik (38), pedagang ikan asal Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Setiap hari, sebelum azan Subuh berkumandang, Musfik sudah berangkat menuju tempat pelelangan ikan.

Dengan sepeda motor tua, ia membawa keranjang kosong untuk diisi ikan segar yang kemudian dijual kembali di pasar.

Pendapatannya tak bisa ditebak, ada hari ketika dagangan habis sebelum tengah hari dan ia pulang membawa uang yang cukup untuk kebutuhan keluarga.

Namun ada pula masa-masa sepi ketika sebagian ikan tidak laku, sementara modal yang telah dikeluarkan sulit kembali.

Baca Juga:  Soal Pendapatan Asli Daerah (PAD), Ketua PAPDA Semarang : "Harus Menyentuh Kebutuhan Masyarakat" 

“Kalau sedang ramai bisa lumayan. Tapi kalau pembeli sepi, kadang hanya cukup buat makan, bahkan pernah nombok,” ujarnya, Rabu (24/6).

Musfik tidak pernah membayangkan pekerjaannya akan membawanya hidup berkecukupan, yang terus ia pikirkan justru masa depan kedua anaknya.

Herdi, anak sulungnya, kini bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Bocah itu dikenal rajin dan tak sungkan membantu orang tuanya berjualan. Seusai sekolah, ia sering ikut ke pasar, menjaga lapak, atau sekadar membantu membereskan ikan dagangan.

Melihat anaknya tumbuh dengan kemauan belajar yang tinggi, Musfik berusaha keras agar Herdi tidak mengalami nasib serupa dengannya.

DOK. ISTIMEWA: Musfik mengajak Herdi, putranya, membantu berjualan ikan sebagai upaya menanamkan nilai kerja keras dan tanggung jawab sejak dini.

Musfik hanya lulusan SMP, keterbatasan ekonomi membuatnya harus berhenti sekolah dan bekerja sejak usia muda. Pengalaman itulah yang membuatnya hampir setiap malam menyampaikan pesan yang sama kepada Herdi.

“Sekolah yang rajin. Biar ayah yang cari jalan, yang penting kamu jangan sampai berhenti sekolah,” ungkap Musfik.

Bagi Musfik, pendidikan bukan sekadar kemampuan membaca atau berhitungz melainkan oendidikan adalah bekal untuk mengubah kehidupan.

Ia percaya, anak-anak yang memiliki kesempatan belajar lebih tinggi akan mempunyai peluang lebih besar mendapatkan pekerjaan yang layak dan kehidupan yang lebih baik.

Kesadaran itulah yang membuat Musfik terus mencari jalan agar Herdi dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP tanpa terbebani biaya yang sulit dijangkau keluarganya.

Sebagai keluarga yang tercatat sebagai penerima bantuan sosial, Musfik memahami bahwa kebutuhan pendidikan akan semakin besar seiring bertambahnya usia anak-anaknya.

Beruntung, ia cukup aktif mengikuti perkembangan informasi di lingkungan sekitar. Saat mengetahui adanya program Sekolah Rakyat yang diinisiasi pemerintah, Musfik tak menunggu lama.

Baca Juga:  Tim PkM Universitas Semarang Beri Penyuluhan Hukum Kepada Warga Penggaron Lor

Ketika Herdi lulus sekolah dasar, ia segera mengarahkan putranya untuk mendaftar ke Sekolah Rakyat.

Ia mendampingi Herdi mengikuti proses pendaftaran hingga seleksi, kuota yang terbatas membuat persaingan cukup ketat, namun Musfik tak ingin kehilangan kesempatan.

Baginya, Sekolah Rakyat menawarkan sesuatu yang selama ini sulit dijangkau keluarga miskin seperti dirinya.

Selain membebaskan biaya pendidikan, sekolah tersebut menyediakan asrama, kebutuhan makan, perlengkapan belajar, serta pembinaan karakter bagi para siswa.

“Kalau Herdi bisa diterima, saya tenang. Anak saya tetap sekolah, masa depannya lebih jelas, dan saya tidak terlalu terbebani biaya,” katanya.

Harapan Musfik bukanlah harapan yang berdiri sendiri. Di banyak sudut Indonesia, orang tua dengan kondisi ekonomi terbatas memiliki mimpi yang sama, yaitu melihat anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang lebih baik daripada yang pernah mereka rasakan.

Di Jawa Tengah, Sekolah Rakyat mulai hadir sebagai salah satu upaya memperluas akses pendidikan bagi keluarga miskin.

Hingga pertengahan 2026, terdapat 14 Sekolah Rakyat yang beroperasi di 13 kabupaten dan kota dengan jumlah siswa mencapai 1.275 anak, mulai jenjang SD hingga SMA.

Sekolah-sekolah rintisan tersebut tersebar di Pati, Banyumas, Temanggung, Wonosobo, Sragen, Jepara, Banjarnegara, Kebumen, Blora, hingga Kota Semarang.

Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional yang telah menghadirkan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun menargetkan penambahan sekolah baru pada 2026 melalui kerja sama dengan pemerintah daerah. Kabupaten Cilacap, Brebes, Sukoharjo, dan Rembang diproyeksikan mulai menerima siswa pada tahun ajaran 2026/2027.

Baca Juga:  Dr. Supari (Rektor USM) : "Penguatan Karakter Mahasiswa Jadi Kunci Hadapi Era Disrupsi" 

Sementara di Kota Semarang, pembangunan Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) di Rowosari, Kecamatan Tembalang, hampir rampung.

Sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare itu telah mencapai progres pembangunan sekitar 90 persen dan disiapkan untuk menampung 1.080 siswa dari keluarga kurang mampu.

Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, mengatakan pembangunan ditargetkan selesai pada 10 Juli 2026.

“Secara bangunan sudah hampir selesai. Tapi masih ada banyak detail yang harus disiapkan sebelum siswa benar-benar menempati sekolah ini,” ujarnya saat meninjau langsung lokasi pembangunan pada Rabu (24/6).

Ruang kelas, asrama, dapur umum, toilet, hingga masjid telah berdiri. Pemerintah kini tengah menuntaskan berbagai fasilitas pendukung seperti perlengkapan dapur, sarana asrama, taman, dan sistem pemeliharaan kawasan agar seluruh aktivitas belajar dapat berjalan optimal.

Bagi Musfik, bangunan-bangunan baru di Rowosari banyak tersimpan harapan seorang ayah yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari jual beli ikan agar anaknya tidak berhenti sekolah karena persoalan biaya.

Ia mungkin tak mampu mewariskan sawah, rumah besar, atau tabungan yang cukup. Namun ia ingin mewariskan kesempatan, kesempatan bagi Herdi untuk duduk di ruang kelas, mengenal dunia yang lebih luas, dan menata masa depan yang selama ini hanya bisa dibayangkan oleh seorang pedagang ikan dari Mijen.

Sebab bagi keluarga seperti Musfik, kemiskinan boleh saja menjadi bagian dari masa lalu. Namun melalui pendidikan, masa depan anak-anak mereka masih bisa ditulis dengan cerita yang berbeda.***