Inspiratif! Guru SD di Tengaran Kabupaten Semarang Jadi Sopir Antar Murid Pulang demi Keselamatan

InShot_20260716_181335283
Bagikan:

UNGARAN, (Harianterkini.id) – Usai bel pulang berbunyi di SD Negeri Bener 01, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, suasana sekolah tidak langsung sepi. Di halaman sekolah, sebuah mobil Suzuki Carry keluaran 2003 tampak bersiap membawa para siswa pulang ke rumah masing-masing.

Yang menarik, pengemudi mobil itu bukanlah sopir khusus, melainkan Gani Prasasti, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Beberapa menit sebelumnya, ia masih berdiri di lapangan mengajar para siswanya.

Kini, ia berganti peran menjadi pengemudi yang mengantar mereka pulang dengan selamat.

Bagi Gani, mengemudikan mobil antar siswa bukan sekadar tugas tambahan, melainkan bentuk kepedulian sekolah terhadap keselamatan peserta didik.

Setiap hari, ia mengantarkan sekitar 15 hingga 20 siswa menuju sejumlah titik pemberhentian di Desa Bener.

“Ada rute yang sudah ditentukan. Paling jauh sekitar tiga kilometer untuk dua siswa pindahan. Hampir setiap dusun di Desa Bener memiliki tiga sampai empat titik pemberhentian,” ujar Gani, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, layanan tersebut menjadi solusi bagi orang tua yang tidak bisa menjemput anak sepulang sekolah karena bekerja.

Baca Juga:  Operasi Aman Candi 2025, Satgas Binmas Gencar Beri Penyuluhan di Kawasan Industri Semarang

“Ini bagian dari pelayanan sekolah agar siswa bisa pulang dengan aman dan selamat. Alhamdulillah, orang tua justru merasa sangat terbantu dengan adanya mobil antar ini,” katanya.

Program mobil antar siswa mulai dijalankan sejak Juni 2026. Selama mengoperasikan kendaraan itu, Gani mengaku tidak mengalami kendala berarti.

Meski demikian, ia sesekali membutuhkan bantuan ketika harus mengantar siswa hingga ke titik-titik pemberhentian yang berbeda.

“Saya dibantu wali kelas I yang selesai mengajar sekitar pukul 10.00 WIB. Penjaga sekolah juga sering ikut membantu sehingga proses mengantar siswa lebih mudah,” ungkapnya.

Di balik hadirnya layanan tersebut, tersimpan semangat gotong royong para guru. Kepala SD Negeri Bener 01, Sugiyatno, menjelaskan mobil yang digunakan merupakan bekas angkutan umum yang dibeli dan dimodifikasi menjadi kendaraan antar siswa.

“Total biaya sekitar Rp20 juta, sudah termasuk pemasangan stiker dan perawatan awal. Semua berasal dari gotong royong para guru,” jelasnya.

Ia mengatakan, pembelian dilakukan secara tunai melalui patungan guru. Sebagian bahkan rela meminjam dana dari koperasi simpan pinjam untuk kemudian diangsur.

Baca Juga:  KAI Daop 4 Semarang Resmikan Perjalanan Perdana KA Brumbung Cargo Relasi Pasoso–Brumbung

“Semuanya dilakukan dengan sukarela dan penuh keikhlasan. Tujuannya semata-mata untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siswa,” katanya.

Sugiyatno menuturkan, ide menghadirkan mobil antar lahir setelah pihak sekolah melakukan survei kepada orang tua sekitar setahun lalu. Dari hasil survei diketahui banyak orang tua mampu mengantar anak ke sekolah pada pagi hari, tetapi kesulitan menjemput saat siang karena harus bekerja.

“Dari situ muncul komitmen kami untuk membantu mengantar siswa pulang. Namun layanan ini baru sebatas antar pulang, belum bisa menjemput ke sekolah karena keterbatasan tenaga dan sarana,” ujarnya.

Menariknya, sekolah tidak menetapkan tarif tetap bagi siswa yang menggunakan layanan tersebut. Setiap siswa cukup memberikan biaya operasional secara sukarela dengan memasukkan uang ke dalam kotak yang tersedia di dalam mobil.

“Seluruh uang yang terkumpul dipakai untuk membeli bahan bakar. Tidak ada kewajiban membayar. Ada yang memberi Rp1.000, ada Rp2.000, bahkan kalau tidak membawa uang pun tetap boleh ikut,” tutur Sugiyatno.

Baca Juga:  Demi Keselamatan Bersama, KAI Tegas Melarang Masyarakat Beraktivitas di Jalur Kereta Api

Keberadaan mobil antar itu juga dinilai meningkatkan keselamatan siswa. Letak SD Negeri Bener 01 yang berada tepat di tepi Jalan Raya Semarang-Solo membuat arus kendaraan di depan sekolah selalu padat, sehingga layanan antar menjadi salah satu upaya mengurangi risiko kecelakaan.

Meila Mumtaza Wahyuni, siswi kelas IV, mengaku senang bisa menggunakan mobil antar sekolah. Selain merasa lebih aman, perjalanan pulang bersama teman-temannya juga menjadi momen yang menyenangkan.

“Naik mobil ini lebih aman dan seru karena bisa ngobrol sama teman-teman. Biasanya saya bayar Rp2.000,” ucapnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, mobil Suzuki Carry tersebut dapat melakukan satu hingga beberapa kali perjalanan setiap hari, menyesuaikan jumlah siswa yang menggunakan layanan.

Kendaraan yang dulunya mengangkut penumpang di jalan raya kini memiliki fungsi baru, menjadi simbol kepedulian dan semangat gotong royong para guru yang ingin memastikan setiap anak didiknya tiba di rumah dengan aman.***