Tim PkM USM Beri Pendampingan UMKM Tahu Iqbal Kudus

InShot_20260815_002750876
Bagikan:

KUDUS, (Harianterkini.id) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Semarang (PkM USM) memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM Tahu Iqbal di Kelurahan Ploso, Kabupaten Kudus, melalui penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses produksi tahu.

Tim PkM USM terdiri atas Drs. Wawan Setiawan, M.M. selaku ketua, serta Edi Widodo, S.Kom., M.Kom. dan Fahrudin, S.Si., M.Si. sebagai anggota.

Ketua Tim PkM USM, Drs. Wawan Setiawan, M.M., mengatakan kegiatan tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Inovasi Mesin Pemeras Sari Kedelai dalam Industri Pembuatan Tahu”. Pendampingan dilaksanakan selama tiga bulan, mulai Juli hingga September 2026.

“Kegiatan PkM sudah dimulai sejak 13 Juli 2026 di UMKM Tahu Iqbal, sentra industri tahu di Kelurahan Ploso, Kabupaten Kudus,” kata Wawan.

Menurut dia, kegiatan tersebut bertujuan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas UMKM.

Baca Juga:  Dekan Fakultas Psikologi Universitas Semarang Lepas 15 Lulusan

Selain itu, kegiatan tersebut juga mendukung SDGs tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Upaya itu dilakukan melalui efisiensi penggunaan bahan baku sekaligus meminimalkan limbah pangan dalam proses produksi tahu.

“Kegiatan ini juga mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) ke-5, yakni perguruan tinggi harus menunjukkan hasil kerja dosen yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Dalam pendampingan tersebut, Tim PkM USM memberikan solusi berupa penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG). Salah satunya melalui bantuan mesin pemeras bubur kedelai dengan sistem sentrifugal atau mekanis yang ditujukan untuk meningkatkan rendemen tahu.

Selain bantuan peralatan, tim juga memberikan pendampingan dalam sistem manajemen stok dengan menggunakan metode pencatatan sederhana dan terstruktur.

Wawan menjelaskan, selama ini proses pengolahan tahu di UMKM Tahu Iqbal masih dilakukan dengan metode sederhana. Kondisi tersebut terjadi mulai dari proses pencucian kedelai hingga teknik steaming atau pengukusan bubur kedelai untuk mengekstrak sari kedelai.

Baca Juga:  Kota Semarang Kembali Raih Prestasi Tingkat Nasional Melalui Tiga Guru Hebat

Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan sejumlah kendala dalam proses produksi. Pertama, sari kedelai belum dapat diekstrak secara maksimal sehingga ampas tahu masih memiliki kadar air cukup tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya rendemen tahu yang dihasilkan.

Kedua, proses pemerasan yang masih dilakukan secara manual membutuhkan waktu relatif lama dan menguras tenaga pekerja. Beban fisik tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan dan berdampak terhadap konsistensi jumlah produksi setiap harinya.

“Melalui penggunaan mesin pemeras bubur kedelai, proses ekstraksi diharapkan menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, produktivitas dapat meningkat dan tenaga pekerja dapat lebih dioptimalkan,” jelasnya.

Tidak hanya persoalan teknis produksi, Tim PkM USM juga menemukan kendala pada aspek manajemen persediaan bahan baku.

UMKM Tahu Iqbal belum memiliki sistem pengelolaan stok bahan baku yang terdokumentasi secara sistematis. Pembelian kedelai dan bahan bakar masih dilakukan secara reaktif tanpa didukung perhitungan persediaan pengaman atau safety stock yang memadai.

Baca Juga:  Pertama Kalinya, Pemerintah Kota Semarang Gelar Apresiasi Keterbukaan Informasi

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dua persoalan. Di satu sisi, terjadi penumpukan stok yang berisiko mengalami kerusakan serta menyebabkan modal tertahan. Di sisi lain, kekurangan bahan baku dapat menyebabkan proses produksi terpaksa berhenti sementara.

“Pencatatan keluar-masuk barang juga belum terdokumentasi secara rapi, sehingga menyulitkan dalam menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara presisi,” ungkap Wawan.

Melalui pendampingan tersebut, Tim PkM USM berharap UMKM Tahu Iqbal tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi, tetapi juga memiliki sistem pengelolaan persediaan yang lebih tertata.

Dengan kombinasi penerapan teknologi tepat guna dan perbaikan manajemen usaha, program tersebut diharapkan dapat membantu UMKM Tahu Iqbal meningkatkan daya saing sekaligus mendukung keberlanjutan usaha di tengah perkembangan industri pangan.***(bgy)