Hadapi Kemarau Panjang, Pemerintah Kota Semarang Kembangkan Penyiraman Otomatis Taman Kota

InShot_20260824_231634681
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Semarang dalam menjaga ruang terbuka hijau tetap asri dan nyaman. Untuk memastikan taman-taman kota tetap terawat, Pemkot Semarang mulai memperkuat pemanfaatan teknologi melalui sistem penyiraman otomatis berbasis timer.

Inovasi tersebut diterapkan Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) di sejumlah taman aktif.

Sistem ini memungkinkan penyiraman tanaman dilakukan secara otomatis berdasarkan jadwal dan durasi yang telah ditentukan.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, perawatan taman perlu mendapatkan perhatian lebih selama musim kemarau.

Selain menjaga tanaman tetap sehat, keberadaan taman yang terawat juga penting untuk memastikan ruang publik tetap nyaman digunakan masyarakat.

“Musim kemarau membuat kebutuhan perawatan taman menjadi lebih besar. Kita perlu memastikan taman-taman kota tetap terawat dan nyaman,” kata Agustina, Jumat (21/8/2026).

“Karena itu, pemanfaatan teknologi seperti sistem penyiraman otomatis perlu terus dikembangkan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Satreskoba Polres Demak Ungkap Kasus Narkotika Jenis Sabu

Menurutnya, penggunaan sistem otomatis menjadi salah satu langkah untuk mengatasi kendala penyiraman yang selama ini masih banyak mengandalkan armada mobil tangki.

Mobilitas kendaraan di tengah kepadatan lalu lintas terkadang membuat proses penyiraman tidak dapat dilakukan sesuai jadwal.

Dengan sistem berbasis timer, penyiraman dapat dilakukan secara lebih teratur sehingga kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi tepat waktu.

Kepala Disperkim Kota Semarang Murni Ediati, yang akrab disapa Pipie, menjelaskan sistem penyiraman yang diterapkan saat ini menggunakan pengaturan timer sesuai kebutuhan masing-masing taman.

“Dengan sistem timer, penyiraman berjalan otomatis sesuai jadwal. Tanaman mendapatkan air tepat waktu tanpa khawatir terkendala keterlambatan armada tangki di perjalanan,” jelas Pipie.

Saat ini, sistem penyiraman otomatis telah beroperasi penuh di lima taman, yakni Lapangan Pancasila Simpang Lima, Taman Tugu Muda, Taman Diponegoro, Taman Citra Satwa, dan Taman Imam Barjo.

Pemkot Semarang juga terus memperluas penerapan teknologi tersebut.

Pada 2026, Disperkim tengah melakukan instalasi sistem penyiraman otomatis di Taman Kalibanteng, Taman Madukoro, dan Taman Parikesit.

Baca Juga:  Bazaar Inspirasi MR.D.I.Y. di Java Mall Semarang: Penawaran Spesial yang Tak Boleh Dilewatkan

Pipie mengatakan, pengembangan sistem tersebut dilakukan secara bertahap dengan sasaran mencakup taman-taman pusat kota dan taman aktif lainnya.

“Target kami, sistem penyiraman otomatis ini diterapkan secara bertahap di seluruh pilar taman pusat kota dan taman aktif. Ini bentuk modernisasi pemeliharaan ruang hijau kita,” katanya.

Meski menawarkan kemudahan dalam menjaga keteraturan penyiraman, sistem otomatis tetap membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Ketersediaan sumber air, pompa, sensor, hingga jaringan penyiraman harus dipastikan berfungsi dengan baik.

Pemeliharaan secara berkala juga diperlukan agar sistem dapat bekerja optimal dan mampu mengurangi berbagai kendala yang selama ini muncul dalam proses penyiraman secara manual.

Bagi Pemkot Semarang, penerapan teknologi tersebut bukan sekadar upaya menghadapi musim kemarau. Inovasi itu juga diarahkan menjadi bagian dari pengembangan konsep Smart Park dalam kerangka pembangunan Smart City Kota Semarang.

Agustina menegaskan, penggunaan teknologi dalam pengelolaan fasilitas publik harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga:  Ajang Anugerah Humas Indonesia di Surabaya, Wali Kota Semarang Raih Penghargaan Pemimpin Perempuan Terpopuler

“Pemanfaatan teknologi harus menjawab kebutuhan di lapangan. Taman kota harus tetap terawat dan nyaman digunakan masyarakat, sekalipun kita menghadapi musim kemarau,” tuturnya.

Di sisi lain, Agustina mengajak masyarakat ikut berperan menjaga taman dan berbagai fasilitas publik yang telah disediakan pemerintah. Menurutnya, keberadaan teknologi tetap membutuhkan dukungan kepedulian masyarakat agar ruang terbuka hijau dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Teknologi membantu pemerintah merawat kota, tetapi keberlanjutannya butuh kepedulian bersama. Mari kita jaga taman-taman ini agar tetap asri, sejuk, dan nyaman untuk kita semua,” pungkasnya.

Pengembangan sistem penyiraman otomatis tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan taman kota yang semakin modern, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kondisi cuaca.

Dengan kombinasi teknologi dan partisipasi masyarakat, ruang hijau di Kota Semarang diharapkan tetap menjadi ruang publik yang teduh dan nyaman meski musim kemarau berlangsung panjang.***