Transformasi Mulai Berbuah, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun

IMG-20260831-WA0015
Bagikan:

JAKARTA (Harianterkini.id) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan kinerja positif hingga akhir Triwulan II 2026. Di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan, BRI mampu menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat fundamental, kualitas aset, dan profitabilitas.

Hingga akhir Juni 2026, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut tetap ditopang fokus BRI pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sebanyak 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM.

Hal itu disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Hery didampingi Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K., Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, serta Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.

Hery mengatakan, capaian tersebut diraih di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30 persen, sementara inflasi tercatat 3,34 persen.

Penguatan aktivitas UMKM juga terlihat dari Indeks Bisnis UMKM yang meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Posisi indeks di atas 100 menunjukkan pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi dan memiliki optimisme terhadap aktivitas usahanya.

“Kondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena UMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental perekonomian nasional. Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery.

Baca Juga:  Sosialisasi "BERTEMAN" Tembus 38 Kegiatan, KAI Daop 1 Libatkan Railfans

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, BRI terus menjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite. Transformasi tersebut diarahkan pada dua agenda utama, yakni memperkuat funding franchise serta melakukan penyempurnaan bisnis inti sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru.

Dari sisi pendanaan, BRI fokus memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. Perseroan juga mengoptimalkan berbagai kanal digital, mulai dari akuisisi merchant, penguatan transaksi BRImo, QRIS, hingga BRILink Agen.

Selain itu, BRI memperkuat bisnis mikro melalui penyempurnaan proses bisnis, peningkatan kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta penerapan manajemen risiko yang lebih granular.

Perseroan juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting untuk mendapatkan nasabah berkualitas, serta memperluas layanan bullion bank.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” kata Hery.

Implementasi transformasi tersebut tercermin dari kinerja keuangan BRI hingga Triwulan II 2026. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen yoy. Kredit dan pembiayaan meningkat 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut didukung Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy. Sementara itu, net interest income BRI meningkat 9,9 persen yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga tumbuh 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat,” ujar Hery.

Baca Juga:  Rombongan Helikopter Kapolda Jambi Berhasil Dievakuasi

Peningkatan profitabilitas BRI juga diikuti perbaikan sejumlah indikator fundamental. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada Triwulan II 2026.

Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Kualitas aset juga semakin sehat dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Sementara Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Di sisi profitabilitas, Return on Asset (ROA) BRI tetap berada di kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” tutur Hery.

Di tengah diversifikasi bisnis, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai core business. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6 persen yoy. Dengan demikian, sekitar 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group mengalir ke sektor UMKM.

Menurut Hery, besarnya porsi tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi sumber pertumbuhan tidak mengubah karakter utama BRI sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan. Penguatan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate, serta pengembangan new core dilakukan untuk membangun struktur bisnis yang lebih terdiversifikasi, sementara UMKM tetap menjadi fondasi utama.

Baca Juga:  SKK Migas Jabanusa Beri Kuliah Umum di Universitas Mataram

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Hery.

Komitmen BRI terhadap UMKM tidak hanya diwujudkan melalui penyaluran pembiayaan, tetapi juga melalui program pemberdayaan yang menyasar pelaku usaha dari tingkat desa hingga komunitas.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha, sedangkan platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM.

Sementara itu, pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

Dari sisi pembiayaan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

Hery menegaskan, pendekatan tersebut menunjukkan posisi BRI bukan hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga sebagai penggerak dan pemberdaya ekonomi kerakyatan.

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.

Menurut Hery, keberhasilan BRI tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba, tetapi juga dari dampaknya terhadap pelaku usaha dan perekonomian masyarakat.

“Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.***