Rob Ancam Investasi, Kendal Kejar Solusi Pengaman Pesisir dan Air Bersih
KENDAL, (Harianterkini.id) – Pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Kendal membawa peluang ekonomi yang besar. Namun, di balik geliat investasi tersebut, persoalan pesisir perlahan menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah kini menjadi perhatian serius. Jika tidak ditangani secara terintegrasi, kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas industri sekaligus memengaruhi daya tarik investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal.
Pemerintah pun mulai mencari berbagai langkah untuk menjaga kawasan pesisir tetap aman, sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat dan industri terhadap air bersih dapat terpenuhi.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), material sisa pembakaran batu bara, sebagai bahan alternatif untuk mendukung pembangunan infrastruktur pengaman pantai.
Pembahasan mengenai persoalan tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan di Kantor Bupati Kendal, Jumat (11/9/2026).
Asisten Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan Pangan, Suraji mengatakan bahwa Kendal berada dalam posisi strategis karena menjadi salah satu kawasan yang masuk prioritas awal pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Giant Sea Wall Kendal-Semarang-Demak.
Namun, posisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan. Kawasan pesisir Kendal masih menghadapi ancaman rob permanen dan penurunan muka tanah, sementara wilayah yang sama terus berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri di Jawa Tengah.
“Kabupaten Kendal menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi menjadi bagian prioritas Giant Sea Wall, namun di sisi lain masih menghadapi kesenjangan layanan air bersih serta ancaman banjir rob permanen yang bisa mengganggu iklim investasi di KEK Kendal,” ujar Suraji.
Per September 2026, perencanaan teknis Giant Sea Wall disebut telah mencapai sekitar 80 persen. Pembangunan fisik ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada akhir 2026 atau awal 2027.
Mencari Material yang Tepat
Besarnya skala pembangunan pengaman pantai membuat kebutuhan material menjadi perhatian tersendiri.
Giant Sea Wall Pantura direncanakan membentang sekitar 575 kilometer. Proyek tersebut tentu membutuhkan material konstruksi dalam jumlah sangat besar.
Di tengah kebutuhan itu, tim peneliti Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ali Awaluddin dan Dr Rafif Zufarihsan, menawarkan FABA sebagai salah satu alternatif.
Ali menjelaskan, produksi FABA secara nasional diperkirakan mencapai sekitar 25,2 juta ton per tahun. Sebagian sumbernya berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang tersebar di sepanjang Pantura.
Kondisi tersebut dinilai memberikan keuntungan dari sisi logistik karena sumber material relatif dekat dengan kawasan yang membutuhkan pembangunan infrastruktur.
“Potensi produksi FABA nasional mencapai sekitar 25,2 juta ton per tahun dan tersebar di PLTU sepanjang Pantura,” katanya.
Dalam pemaparan hasil pengujian, beton berbasis FABA disebut memiliki ketahanan terhadap korosi akibat air laut dan serangan sulfat.
Densitasnya juga sekitar 12 persen lebih rendah dibandingkan beton konvensional, sehingga berpotensi menguntungkan untuk konstruksi di atas tanah lunak kawasan pesisir.
Tak hanya untuk beton, FABA juga dikaji sebagai material timbunan. Hasil pengujian yang dipaparkan menunjukkan material tersebut memenuhi persyaratan geoteknik sebagai timbunan pilihan.
Dari aspek lingkungan, hasil pengujian leaching juga menunjukkan kandungan logam berat berada di bawah baku mutu.
Meski demikian, pemanfaatan FABA tetap membutuhkan pengujian dan pengawasan secara berkelanjutan. Karakteristik material dapat berbeda tergantung sumber dan proses pembakaran pada masing-masing PLTU.
Rencana pemanfaatan FABA di KEK Kendal selanjutnya diarahkan sebagai proyek percontohan atau pilot project.
Pelaksanaannya akan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, serta sejumlah kementerian melalui skema kolaborasi Pentahelix.
Air Tanah Tak Bisa Terus Diandalkan
Pengamanan pesisir, bagaimanapun, bukan satu-satunya pekerjaan rumah Kendal.
Penyediaan sumber air baku juga menjadi bagian penting dari upaya mengatasi persoalan penurunan muka tanah.
Ketergantungan yang tinggi terhadap air tanah, terutama untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri dan permukiman, perlu dikurangi.
Karena itu, percepatan pembangunan Bendungan Kali Bodri dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional dinilai menjadi langkah penting.
Ketersediaan air bersih yang memadai diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap air tanah.
Sebab, ekstraksi air tanah secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap penurunan muka tanah di kawasan pesisir.
Dengan kata lain, pengembangan industri tidak cukup hanya dibarengi pembangunan kawasan dan akses transportasi.
Infrastruktur dasar seperti air bersih dan sistem pengendalian banjir juga harus dipersiapkan sejak awal.
Tanpa perencanaan yang matang, pertumbuhan industri justru berisiko menghadirkan persoalan baru yang pada akhirnya dapat memengaruhi keberlanjutan investasi.
Ada Pengawalan dari Sisi Hukum
Pemanfaatan FABA juga mendapat perhatian dari aspek hukum.
Perwakilan Kejaksaan Tinggi yang hadir dalam rapat menyatakan dukungan terhadap pemanfaatan FABA sebagai material alternatif.
Namun, penggunaannya tetap harus disertai kepastian mengenai status aset, transparansi transaksi, serta pemenuhan seluruh ketentuan lingkungan.
Pendampingan hukum melalui Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) juga disiapkan untuk memastikan pemanfaatan material tersebut tidak menimbulkan persoalan hukum maupun potensi kerugian negara.
Sebagai tindak lanjut, tim gabungan akan melakukan site visit ke lokasi yang dipersiapkan sebagai pilot project di Kendal.
Hasil peninjauan lapangan tersebut nantinya akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi kepada Badan Pengelola Sentra Pembangunan (BOPPJ).
Bagi Kendal, tantangan pesisir kini tidak lagi sekadar persoalan bagaimana menahan air laut agar tidak masuk ke daratan.
Di tengah ekspansi kawasan industri, pengamanan pesisir dan ketersediaan air bersih menjadi dua kebutuhan yang saling berkaitan.
Menjaga keduanya berarti bukan hanya melindungi masyarakat dari ancaman rob dan penurunan muka tanah, tetapi juga memastikan roda industri dapat terus bergerak dan investasi di Kendal memiliki fondasi yang berkelanjutan.***
