UKM Pilus Universitas Semarang Gelar Malam Renungan AIDS Nusantara 2025

InShot_20251211_173738854
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pusat Informasi dan Layanan Konseling (Pilus) Universitas Semarang (USM) menyelenggarakan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2025,di Ruang BEM Universitas Semarang Menara Lantai 4, baru-baru ini.

Kegiatan yang mengambil tema ”Malam Diam, Hati Bicara Melawan Stigma, Memulihkan Harapan” itu diikuti anggota internal UKM Pilus. Kegiatan dibuka oleh Ketua Panitia, Zahra Aulia Ramadhani.

Dalam sambutannya, Zahra memberikan apresiasi seluruh panitia dan peserta yang telah mengikuti kegiatan.

Baca Juga:  Lakukan Audiensi Terkait Pengolahan Sampah, Anggota DPR RI Perwakilan Jawa Tengah Siap Berkolaborasi Dengan Pengurus Kwartir Cabang Pramuka Kota Semarang 

Dia berharap, melalui MRAN 2025, peserta dapat menjadi lebih peka dan empati terhadap pejuang HIV/AIDS.

”Kami menggandeng Duta GenRe Kota Semarang, yaitu Harlan A. Ganur dan Fadhilah Aulia untuk memberikan pemaparan tentang HIV/AIDS, penularan, pencegahan, serta pentingnya dukungan sosial terhadap ODHA,” katanya.

Respons peserta cukup tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan dalam sesi diskusi yang membahas pencegahan HIV/AIDS, pemahaman ilmiah, serta dampak stigma sosial.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Ajak Karang Taruna Rawat Cemara Laut demi Lestarikan Pesisir Pulau Tirang

Harlan berharap, melalui sesi materi, diskusi, dan renungan malam, peserta belajar untuk memahami lebih dalam tentang HIV/AIDS bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Selain itu juga menghapus stigma, menumbuhkan empati, serta membangun lingkungan kampus yang inklusif adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Baca Juga:  Tanggul Kali Plumbon Jebol Dini Hari, Pemerintah Kota Semarang Lakukan Penanganan Darurat

Sesi Renungan Malam menjadi puncak kegiatan, di mana ruangan dibuat gelap, lilin dinyalakan sebagai simbol harapan, kesyahduan suasana menggambarkan dukungan moral terhadap mereka yang hidup dengan HIV/AIDS dan para korban yang telah meninggal.

Peserta menuliskan pesan empati untuk ODHA melalui sticky notes yang ditempelkan pada papan yang sudah disediakan.

”Kami mengajak peserta untuk menghentikan stigma, memupuk empati, dan membangun kampus inklusif,” ungkapnya.***(bgy)