Kunjungi Sido Muncul, Mahasiswa FK Unnes Didorong Jadi Dokter yang Melek Herbal dan Riset

IMG-20260507-WA0017
Bagikan:

KABUPATEN SEMARANG (Harianterkini.id) — Transformasi jamu Indonesia menuju panggung kesehatan modern menjadi sorotan dalam kunjungan industri mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK Unnes) ke pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis (7/5/2026).

Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, yang membagikan perjalanan panjang industri herbal Indonesia, mulai dari akar tradisional hingga strategi digital untuk membawa jamu masuk ke ranah medis modern.

Di hadapan para calon dokter, Irwan menegaskan bahwa tren dunia kini mulai kembali melirik pengobatan berbasis alam atau back to nature setelah puluhan tahun didominasi obat sintetis.

Ia mengawali paparannya dengan mengulas sejarah farmasi dunia sejak 1897, saat ilmuwan Jerman Felix Hoffmann berhasil menciptakan Aspirin dari senyawa salisin pohon willow.

“Sebelum 1897, semua obat berasal dari alam. Aspirin menjadi sintesa obat pertama yang sukses dan sejak itu dunia perlahan meninggalkan obat alami karena obat kimia dianggap lebih cepat dan praktis,” ujar Irwan.

Baca Juga:  Masyarakat Dukung AMMTC, Perlihatkan Kecantikan Labuan Bajo Kepada Dunia

Namun menurutnya, perubahan tren global membuka peluang besar bagi kebangkitan jamu Indonesia, asalkan dibarengi pendekatan ilmiah yang kuat dan mampu diterima dunia medis.

Irwan mengungkapkan, tantangan terbesar industri herbal bukan lagi soal bahan baku, melainkan validasi ilmiah dan birokrasi regulasi internasional yang panjang serta mahal.

Karena itu, Sido Muncul memilih langkah percepatan melalui pengembangan Sido Herbalpedia, sebuah portal literatur berbasis riset yang dirancang menjadi pusat edukasi herbal bagi masyarakat maupun tenaga kesehatan.

Menurutnya, inovasi tersebut menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional dan pendekatan medis modern berbasis data.

“Kita tidak bisa hanya menunggu proses bertahun-tahun. Kalau semua harus menunggu lisensi formal dengan biaya besar, inovasi akan berjalan lambat. Maka kami melakukan uji pra-klinis mandiri untuk membuktikan manfaat herbal secara nyata,” tegasnya.

Baca Juga:  GP Ansor Luncurkan Think Tank Asta Cita Center untuk Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Ia mencontohkan sejumlah produk seperti Sambiroto dan Temulawak yang kini terus diuji melalui pendekatan riset cepat namun tetap akurat.

“Kalau hasilnya tidak signifikan, kami langsung evaluasi dan mencari formula baru. Jadi yang kami bangun bukan sekadar klaim, tetapi keyakinan ilmiah berbasis hasil,” tambahnya.

Dalam suasana yang hangat dan penuh inspirasi, Irwan juga membagikan sisi personal perjalanan hidupnya yang jarang diketahui publik.

Ia mengaku masa kecilnya dipenuhi berbagai penyakit berat, mulai dari malaria yang tak terdeteksi selama berbulan-bulan, gangguan ginjal, hingga depresi dan fobia kesehatan.

Kondisi tersebut bahkan membuat berat badannya sempat turun drastis hingga 32 kilogram.
Pengalaman panjang melawan sakit itulah yang kemudian membentuk pandangannya tentang pentingnya hidup sehat, pengendalian pola makan, hingga praktik autophagy atau puasa intermiten.

Baca Juga:  JAM-Intelijen Reda Manthovani Lantik Pejabat Eselon II dan III di Lingkungan JAM INTEL

“Dulu saya sering sakit-sakitan. Tapi saya belajar, selain menjaga tubuh, kontribusi kepada orang lain juga menjadi obat terbaik. Karena itu Sido Muncul harus bisa memberi manfaat dan inspirasi bagi masyarakat,” kenangnya.

Cerita tersebut membuat suasana diskusi terasa lebih emosional. Para mahasiswa tidak hanya mendapat wawasan tentang industri herbal, tetapi juga pelajaran tentang ketekunan, inovasi, dan semangat hidup dari salah satu tokoh besar industri jamu nasional.

Kegiatan kunjungan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari FK Unnes kepada Irwan Hidayat, dilanjutkan sesi foto bersama di kawasan pabrik Sido Muncul yang dikenal mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan.

Melalui kunjungan ini, FK Unnes berharap kolaborasi antara dunia akademik dan industri herbal nasional semakin erat, sekaligus memperkuat posisi jamu Indonesia sebagai bagian penting dari kedaulatan kesehatan nasional.***