400 Kapal Nelayan Padati Tambak Lorok dalam Puncak Sedekah Laut 2026

InShot_20260511_152611284
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Sekitar 400 kapal nelayan memadati perairan Tambak Lorok dalam puncak tradisi Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026, Minggu, 10 Mei 202610.

Ritual tahunan masyarakat pesisir utara Kota Semarang ini menjadi simbol rasa syukur atas limpahan hasil laut sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Rangkaian kegiatan adat tersebut kembali menegaskan kuatnya identitas budaya masyarakat nelayan yang masih terjaga di tengah arus modernisasi kawasan pesisir.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa tradisi sedekah laut bukan sekadar ritual budaya, melainkan bentuk penghormatan masyarakat terhadap laut yang menjadi sumber penghidupan utama.

Baca Juga:  Pemprov Jateng Ajak Warga Tanam Pohon Sekitar Pantai Jawa Untuk Cegah Abrasi

“Ini adalah bakti kita kepada laut. Kita memohon agar laut tetap menjaga kita, menjadi sumber rezeki, serta menghadirkan sinergi antara manusia dan alam untuk membawa ketenangan, ketenteraman, dan kesejahteraan,” ujar Wali Kota Semarang yang akrab disapa Agustina itu.

Mengusung tema Nguri-uri Kabudayan dan Pelestarian Tradisi, perayaan ini diawali dengan doa arwah jama’, khataman Al-Qur’an, serta malam tirakatan yang digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Baca Juga:  Kementerian UMKM dan Pemkab Wonosobo Dorong Digitalisasi Usaha Mikro Lewat Workshop JURAGAN UMKM

Puncak acara berlangsung melalui kirab kepala kerbau yang mengelilingi kawasan kampung nelayan, sebelum dilanjutkan prosesi larung sesaji ke tengah laut menggunakan kapal TNI Angkatan Laut bersama Wali Kota Semarang.

Usai prosesi tersebut, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dan ditutup pengajian akbar pada Senin, 11 Mei 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Agustina menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat nelayan yang tetap konsisten menjaga tradisi leluhur di tengah perubahan sosial dan pembangunan kawasan pesisir.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak pernah kehilangan akar budayanya. Larung sesaji menjadi cerita tentang karya, karsa, dan rasa, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas limpahan berkah dari laut,” katanya.

Baca Juga:  Kota Semarang Kembali Raih Prestasi Tingkat Nasional Melalui Tiga Guru Hebat

Ia juga menekankan bahwa tradisi sedekah laut memiliki nilai penting dalam mengingatkan masyarakat akan perlunya menjaga ekosistem laut serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang kian sulit diprediksi.

Lebih lanjut, Agustina berharap tradisi ini dapat terus menjadi perekat solidaritas masyarakat pesisir sekaligus pengingat bahwa pembangunan kawasan harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan keselamatan para nelayan sebagai penopang utama kehidupan maritim Kota Semarang.***