Wali Kota Semarang Perluas Bisyaroh, Hampir 10 Ribu Penggerak Keagamaan di Semarang Terima Apresiasi

InShot_20260709_233321929
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Di balik kehidupan masyarakat yang harmonis, ada banyak sosok yang selama ini mengabdi tanpa banyak sorotan. Mulai dari modin yang mendampingi warga di saat duka, guru mengaji yang menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak, hingga marbot yang setiap hari menjaga rumah ibadah.

Kepada mereka, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti memberikan perhatian lebih melalui perluasan program bisyaroh.

Pada 2026, jumlah penerima bisyaroh meningkat signifikan menjadi 9.992 orang, naik dari 6.572 penerima pada 2025.

Kenaikan tersebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap para penggerak keagamaan dan sosial yang selama ini berperan menjaga kehidupan spiritual sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Agustina itu mengatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan wujud kehadiran pemerintah bagi mereka yang telah mengabdikan diri dengan penuh keikhlasan.

Baca Juga:  Lapas Kelas 1 Semarang Jalin Kolaborasi Untuk Berikan Edukasi Dan Konsultasi Hukum Kepada Warga Binaan

“Kami ingin negara hadir melalui Pemerintah Kota Semarang untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang selama ini mengabdikan diri melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan,” ujar Agustina, Selasa 7 Juli 2026.

“Peran modin, guru mengaji, guru madrasah, marbot, dan seluruh penggerak keagamaan sangat besar dalam menjaga harmoni sosial dan membangun karakter masyarakat. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian,” imbuhnya.

Perluasan penerima bisyaroh menyasar berbagai kelompok. Guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) meningkat dari 3.000 menjadi 4.000 orang.

Guru Madrasah Diniyah (Madin) bertambah dari 1.000 menjadi 1.390 orang, sementara petugas kemakmuran masjid atau marbot meningkat dari 531 menjadi 885 orang.

Pemerintah Kota Semarang bahkan menargetkan jumlah penerima dari kalangan marbot mencapai 1.000 orang pada 2027.

Tidak hanya itu, tahun ini menjadi momentum pertama bagi guru Raudhatul Athfal (RA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) untuk menerima bisyaroh.

Baca Juga:  Ikatan Ibu-Ibu USM Gelar Peringatan Hari Kartini, Angkat Tema Rona Wanita Nusantara

Sebanyak 320 guru RA memperoleh penghargaan tersebut setelah sebelumnya belum pernah masuk dalam daftar penerima.

Sementara itu, para modin tetap mendapatkan perhatian khusus. Pemerintah Kota Semarang memberikan bisyaroh sebesar Rp1 juta setiap bulan yang disalurkan secara triwulanan sebagai bentuk penghargaan atas tugas kemanusiaan yang mereka emban.

Komitmen tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Paguyuban Pengurus Jenazah Semarang (P2JS)/Modin Kota Semarang periode 2026–2031 sekaligus membuka Pelatihan Pemulasaraan Jenazah bagi modin se-Kota Semarang di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.

Dalam kesempatan itu, sebanyak 18 pengurus P2JS periode 2026–2031 yang diketuai Widodo Lestari, S.Ag., resmi dikukuhkan.

Pemerintah Kota juga menggelar pelatihan pemulasaraan jenazah secara bertahap selama dua hari agar dapat diikuti seluruh 1.000 modin di Kota Semarang.

Di hadapan para peserta, Agustina kembali menegaskan komitmennya agar seluruh modin di Kota Semarang memperoleh bisyaroh sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka.

Baca Juga:  Pemerintah Kota Semarang Apresiasi Inovasi Pelajar di Pasar Johar yang Rubah Jelantah Jadi Bermanfaat

“Saya berkomitmen bahwa semua modin harus dapat bisyaroh ini. Mereka menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat mulia, hadir mendampingi warga di saat-saat paling sulit. Pemerintah Kota harus memberikan dukungan dan penghargaan yang layak atas pengabdian tersebut,” tegasnya.

Menurut Agustina, tugas modin tidak hanya sebatas mengurus pemulasaraan jenazah, tetapi juga menjadi penguat bagi keluarga yang sedang menghadapi kehilangan.

Peran tersebut menjadi bagian penting dari pelayanan sosial yang telah lama mengakar di tengah kehidupan masyarakat Semarang.

Ke depan, Pemerintah Kota Semarang akan terus mengevaluasi sekaligus memperluas cakupan penerima bisyaroh seiring bertambahnya kebutuhan pelayanan masyarakat di tingkat kelurahan.

Melalui kebijakan ini, pembangunan di Kota Semarang diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui infrastruktur fisik, tetapi juga melalui perhatian kepada para penggerak keagamaan yang selama ini menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kehidupan sosial masyarakat.***