Wali Kota Semarang Praktik Langsung Membuat Ndas Maling, Dorong Jadi Warisan Budaya Tak Benda

InShot_20260714_232052572
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti tak sekadar hadir menyaksikan tradisi Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari di Kelurahan Kudu, Kecamatan Genuk.

Di tengah kemeriahan kegiatan yang berlangsung Minggu (12/7), ia turut mencoba langsung membuat jajanan tradisional Ndas Maling, kuliner khas yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Dengan didampingi para ibu-ibu warga Kelurahan Kudu, Agustina mempraktikkan proses pembuatan Ndas Maling yang berbahan dasar tepung beras, kelapa parut, dan gula jawa.

Kudapan bercita rasa manis gurih dengan tekstur kenyal tersebut selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari yang rutin digelar setiap tahun.

Bagi Agustina, Ndas Maling bukan sekadar jajanan tradisional, melainkan menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang kuat.

Nama unik tersebut berasal dari cerita masyarakat Menanging yang dahulu dikenal sebagai tempat orang-orang datang memohon keselamatan, termasuk mereka yang pernah melakukan kesalahan atau tindak kejahatan.

Baca Juga:  Padma Hotel Semarang Hadirkan "Dancing Snowflakes", Sensasi Liburan Akhir Tahun yang Magis

Menurut cerita turun-temurun, jajanan itu menjadi simbol harapan agar perilaku buruk, termasuk aksi pencurian, menjauh dari wilayah tersebut sekaligus menjadi pengingat agar setiap orang meninggalkan perbuatan yang tidak baik.

Melihat kekayaan nilai budaya tersebut, Agustina langsung menginstruksikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang untuk serius mengusulkan Ndas Maling sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan.

“Ndas Maling ini nanti mau saya video, terus saya kirimkan ke Jakarta, supaya bisa jadi Warisan Budaya Tak Benda,” ujar Agustina.

Ia menilai jajanan khas Kelurahan Kudu itu layak memperoleh pengakuan resmi karena memiliki sejarah, filosofi, sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat yang masih terjaga hingga kini.

Selain mendorong pengusulan WBTB, Agustina juga menindaklanjuti sejumlah kebutuhan yang disampaikan warga.

Ia meminta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat menambah dukungan hewan kurban pada pelaksanaan tradisi tahun depan. Sementara kepada Dinas Pekerjaan Umum, ia menginstruksikan agar menyiapkan kebutuhan toren air serta mengkaji penambahan saluran di lokasi kegiatan.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Terima Perwakilan Buruh, Siapkan Usulan UMK Minimal 3,7 Juta dan Pastikan Ada UMSK

Perbaikan area makam melalui skema tanah wakaf juga menjadi perhatian pemerintah kota.

Tradisi Haul Mbah Senari sendiri berlangsung sejak Sabtu (11/7) malam. Salah satu prosesi yang paling dinantikan adalah pemotongan kambing nazar warga tepat pukul 00.00 dini hari.

Daging kambing kemudian dimasak langsung di area makam tanpa boleh dicicipi terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada masyarakat.

Bersamaan dengan prosesi buka luhur atau penggantian kain penutup makam leluhur Dusun Menanging, warga juga membagikan jajanan Ndas Maling kepada para pengunjung.

Kudapan tersebut bahkan kerap diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa berkah bagi siapa pun yang mendapatkannya.

Agustina mengapresiasi kuatnya semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan, katanya, terselenggara murni dari swadaya warga tanpa menggunakan anggaran Pemerintah Kota Semarang.

Baca Juga:  Pembekalan Wisuda Ke-75 USM, Lulusan Diminta Siap Kerja Tanpa Drama

Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah menjadi modal penting untuk menjaga warisan budaya lokal sekaligus mengembangkan potensi wisata berbasis tradisi.

Ke depan, Agustina berharap Ndas Maling juga dapat lolos kurasi Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) sehingga dapat dikembangkan sebagai produk oleh-oleh khas Kota Semarang, khususnya dari Kecamatan Genuk.

Melalui proses kurasi tersebut, kemasan maupun cita rasa diharapkan semakin menarik tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dengan langkah tersebut, Pemerintah Kota Semarang optimistis Ndas Maling tidak hanya dikenal sebagai sajian khas dalam tradisi Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari, tetapi juga memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sekaligus menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Kota Semarang yang semakin dikenal masyarakat luas.***