Jejak Arthur Rimbaud di Semarang, Ketika Sang Penyair Jenius Prancis Singgah di Kota Pelabuhan Jawa

InShot_20260808_001532095
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Nama Arthur Rimbaud dikenal sebagai salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa penyair asal Prancis tersebut pernah menginjakkan kaki di Kota Semarang pada 1876, ketika memilih meninggalkan dunia sastra dan bergabung sebagai serdadu Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL).

Kisah singkat Rimbaud di Semarang menjadi bagian menarik dari sejarah kota sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara pergolakan politik di Eropa dengan perubahan besar yang terjadi di Hindia Belanda pada paruh kedua abad ke-19.

Penyair Jenius yang Lahir dari Masa Perang

Jean Nicolas Arthur Rimbaud lahir di Charleville, Prancis, pada 20 Oktober 1854. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak berbakat dengan prestasi akademik yang menonjol, terutama dalam bidang bahasa dan sastra.

Tahun 1870 menjadi titik balik kehidupannya. Saat Perang Prancis–Prusia meletus pada 19 Juli 1870, berbagai institusi pendidikan di Prancis ditutup. Situasi tersebut memberi ruang bagi Rimbaud untuk mengekspresikan gagasan-gagasan yang menentang kemapanan.

Pada usia 15 hingga 16 tahun, ia melahirkan sejumlah puisi yang kemudian dianggap sebagai karya klasik, di antaranya Le Dormeur du Val dan Ma Bohème.

Di masa yang sama, ia juga beberapa kali melarikan diri dari rumah dan bahkan sempat ditahan karena bepergian tanpa tiket kereta sebelum dibebaskan berkat bantuan gurunya, Georges Izambard.

Baca Juga:  Suyono, Warga Kelurahan Bandarharjo Bersyukur Dapat Bantuan Program RTLH dari Pemerintah Kota Semarang

Sikap pemberontakan terhadap norma sosial dan sastra inilah yang kemudian menempatkan Rimbaud sebagai salah satu pelopor puisi modern dan simbolisme.

Perubahan Besar di Hindia Belanda

Sementara Eropa dilanda perang, Hindia Belanda juga memasuki babak baru.

Pada 1870, pemerintah kolonial memberlakukan Undang-Undang Agraria yang membuka kesempatan bagi perusahaan swasta asing menyewa lahan dalam jangka panjang. Kebijakan tersebut mengakhiri era Sistem Tanam Paksa dan menjadi awal Politik Pintu Terbuka.

Perubahan itu mendorong berkembangnya perkebunan tebu, kopi, tembakau, hingga karet di Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, pembangunan jaringan kereta api dipercepat untuk mengangkut hasil perkebunan menuju pelabuhan ekspor.

Semarang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan dan transportasi terpenting di Jawa.

Bergabung dengan KNIL

Pada Mei 1876, Rimbaud mengambil keputusan yang mengejutkan. Ia mendaftarkan diri sebagai prajurit KNIL di Harderwijk, Belanda.

Sebagai imbalan kontrak dinas selama enam tahun, ia menerima uang pendaftaran sebesar 300 gulden.

Setelah menjalani pelatihan singkat, Rimbaud berangkat menuju Hindia Belanda menggunakan kapal uap Prins van Oranje.

Kapal tersebut tiba di Batavia pada pertengahan Juli 1876 sebelum perjalanan dilanjutkan menuju Semarang.

Semarang, Persinggahan Pertama di Jawa Tengah

Pada akhir Juli 1876, Rimbaud bersama rombongan tentara diberangkatkan ke Semarang menggunakan kapal uap Minister Fransen van de Putte.

Menurut sejumlah catatan sejarah, setibanya di Semarang ia ditempatkan sementara di Tangsi Militer Bubakan sebelum dikirim ke pedalaman Jawa Tengah.

Baca Juga:  Hadiri Sesaji Rewanda di Goa Kreo, Wali Kota Semarang Rencanakan Musrenbang Pariwisata Gandeng Pokdarwis dan Desa Wisata

Kala itu Semarang merupakan kota pelabuhan yang ramai dengan aktivitas perdagangan internasional. Pedagang Eropa, Arab, Tionghoa, dan pribumi memenuhi kawasan pelabuhan yang menjadi salah satu pusat ekonomi Hindia Belanda.

Bagi Rimbaud, suasana kota tropis tersebut menjadi pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan tanah kelahirannya di Prancis.

Menyusuri Jalur Kereta Pertama di Indonesia

Dari Semarang, Rimbaud bersama pasukannya melanjutkan perjalanan menuju Salatiga.

Mereka berangkat menggunakan kereta api dari Stasiun Samarang di kawasan Kemijen yang dioperasikan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Stasiun tersebut tercatat sebagai stasiun kereta api komersial pertama di Indonesia.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kedungjati dan Tuntang sebelum para prajurit berjalan kaki menuju markas militer di kawasan Salatiga dan Benteng Willem I di Ambarawa.

Hanya Dua Pekan Menjadi Serdadu

Rimbaud ternyata tidak bertahan lama sebagai tentara.

Ia tercatat berada di tangsi militer Salatiga hanya sekitar dua minggu, yakni pada 2–15 Agustus 1876.

Sejumlah sejarawan menilai kehidupan militer yang disiplin bertolak belakang dengan karakter Rimbaud yang bebas.

Selain itu, terdapat kemungkinan pasukannya akan dikirim ke Perang Aceh yang tengah berlangsung.

Pada 15 Agustus 1876, Rimbaud menghilang dari kesatuannya saat apel pagi. Tindakannya dikategorikan sebagai desersi, yakni pelanggaran berat dalam hukum militer kolonial.

Baca Juga:  Hadir di Kota Semarang, Honda FESTIPARK Sukses Sapa Ribuan Pengunjung

Militer Hindia Belanda kemudian secara resmi menyatakan dirinya hilang pada 30 Agustus 1876.

Diduga Kembali Melalui Semarang

Beberapa kajian sejarah menyebut Rimbaud diduga berjalan kembali menuju Semarang untuk mencari jalan keluar dari Hindia Belanda.

Pelabuhan Semarang saat itu menjadi salah satu pelabuhan internasional yang ramai disinggahi kapal dagang asing.

Dalam sejumlah rekonstruksi sejarah, Rimbaud dipercaya berhasil menyusup ke kapal dagang Inggris Wandering Chief yang kemudian membawanya meninggalkan Jawa dan kembali ke Eropa.

Meski detail pelariannya masih menjadi bahan kajian para sejarawan, kisah tersebut semakin menguatkan posisi Semarang sebagai bagian dari perjalanan hidup penyair legendaris itu.

Jejak Sejarah di Kota Semarang

Kunjungan Arthur Rimbaud ke Semarang memang berlangsung sangat singkat. Namun peristiwa tersebut menjadi bagian unik dalam sejarah Kota Semarang sekaligus sejarah sastra dunia.

Kawasan Bubakan, Kota Lama Semarang, jalur rel peninggalan NIS, hingga Stasiun Tuntang menjadi lokasi-lokasi yang diyakini berkaitan dengan perjalanan sang penyair sebelum akhirnya meninggalkan Hindia Belanda.

Lebih dari satu abad kemudian, nama Arthur Rimbaud tetap dikenang bukan hanya sebagai penyair revolusioner Prancis, tetapi juga sebagai sosok yang pernah menapakkan jejaknya di Semarang—kota pelabuhan yang menjadi pintu masuk sekaligus diduga menjadi jalan pelariannya menuju kebebasan.***