IPEMI Jateng Dorong UMKM Naik Kelas, Bidik Pasar Eropa melalui Belgia

InShot_20260812_113116030
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Peluang produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Tengah untuk menembus pasar Eropa mulai dibuka lebih lebar. Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Jawa Tengah bersama My Bumi menggelar Forum Seminar dan Kurasi Produk UMKM di Hotel Front One HK Semarang, Selasa (11/8).

Mengusung tema Green Passport to Europe: Empowering Small Business for Sustainable Global Impact, forum tersebut menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memahami potensi pasar internasional sekaligus mempersiapkan produk agar mampu memenuhi standar perdagangan global.

Langkah tersebut dinilai strategis seiring persiapan Indonesia menghadapi pasar Uni Eropa melalui kerangka Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Ketua IPEMI Jawa Tengah, Hj. Lies Iswar Aminuddin, mengatakan kolaborasi bersama My Bumi merupakan bagian dari upaya mendorong pengusaha muslimah, khususnya pelaku UMKM, agar tidak berhenti pada pasar domestik.

“Ini dalam rangka mendorong pemberdayaan ekonomi pengusaha muslimah agar mampu naik kelas ke pasar global,” ujarnya.

Menurut Lies, Belgia menjadi sasaran awal yang dibidik untuk membuka akses produk UMKM Jawa Tengah ke pasar Eropa. Ia berharap pasar tersebut nantinya dapat menjadi pintu masuk menuju negara-negara Eropa lainnya.

“Sebagai langkah awal kita membidik pasar Belgia. Diharapkan bisa menjadi pintu pembuka pasar negara-negara Eropa lainnya,” katanya.

Ia menambahkan, forum tersebut tidak hanya memberikan gambaran mengenai peluang pasar, tetapi juga memperkenalkan standar yang harus dipenuhi pelaku UMKM sebelum membawa produknya ke pasar internasional.

Baca Juga:  Sido Muncul Kenalkan Pesona Wisata Sumba Timur ke Panggung Global

“Lewat forum ini bisa didapat peluang pasar yang bisa ditangkap oleh pelaku UMKM kita. Termasuk dengan standar yang diterapkan, tentunya kualitas produk kita juga harus menyesuaikan,” jelasnya.

Puluhan Produk Berpotensi Masuk Pasar Belgia

Kolaborasi tersebut telah memasuki tahap kurasi produk. Setidaknya terdapat 80 jenis produk UMKM di bawah binaan IPEMI Jawa Tengah yang dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan di Eropa, khususnya Belgia.

Lies menyebut produk makanan ringan atau kudapan menjadi salah satu kategori yang berpotensi menarik perhatian konsumen Belgia.

Selain itu, terdapat produk kerajinan dan kebutuhan rumah tangga, mulai dari kelengkapan sofa, tas, topi hingga perlengkapan perhotelan.

Beberapa produk pangan lokal bahkan disebut memiliki peluang cukup besar karena sesuai dengan selera konsumen di Belgia.

“Coco chips minatnya sangat besar di sana. Bahan dari kelapa tua yang dijadikan chips atau keripik ternyata banyak disukai masyarakat sana. Termasuk tomato chips, bahkan rengginang,” ungkapnya.

Menurut dia, rengginang juga memiliki penggunaan yang cukup menarik karena dapat dijadikan camilan atau bekal anak sekolah. Produk jamu turut masuk dalam daftar produk yang dinilai memiliki potensi pasar.

Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas, terutama dari sisi keamanan pangan, standar produksi hingga kemasan agar mampu memenuhi persyaratan pasar Eropa.

Baca Juga:  BPS Bantah Soal Jalan Provinsi Riau yang Disebut Rusak Terpanjang di Indonesia

“Peluang ini harus ditangkap dari sisi peningkatan kualitas makanan hingga kemasannya,” tegas Lies.

SDM dan Ketertelusuran Jadi Kunci

Dalam forum tersebut, My Bumi turut memaparkan berbagai peluang produk UMKM di pasar Eropa, khususnya Belgia.

Pelaku usaha juga mendapatkan pembekalan mengenai sejumlah persyaratan yang perlu diperhatikan agar produk dapat memenuhi standar perdagangan internasional.

CEO My Bumi, Fatmi Woro Dwi Martanti, mengatakan kesiapan ekspor tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas produk.

Faktor sumber daya manusia (SDM), pola pikir, kepemimpinan dan literasi bisnis juga menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan ekspor.

“Kesenjangan SDM seperti mindset, kepemimpinan dan literasi bisnis seringkali menjadi penyebab utama kegagalan ekspor sebelum masalah fisik produk muncul,” katanya.

Menurut Woro, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi UMKM Indonesia untuk melakukan pembenahan.

Waktu yang tersedia sebelum IEU-CEPA berlaku efektif perlu dimanfaatkan untuk memperkuat berbagai aspek yang menjadi persyaratan memasuki pasar Eropa.

“Khususnya membenahi kualitas SDM, ketertelusuran rantai pasok, dokumentasi uji tuntas, sertifikasi berkelanjutan dan kepatuhan asal barang,” jelasnya.

Woro yang juga Ketua PPLN IPEMI Belgia itu menilai kesiapan sejak dini akan membuat UMKM lebih mampu memanfaatkan peluang ketika akses pasar Eropa semakin terbuka.

Sementara itu, dalam sesi Give Your Product a Passport, Expert Export European, Emmanuel Weitzel, mengingatkan bahwa konsumen dan pembeli Eropa semakin memperhatikan asal-usul serta proses produksi sebuah barang.

Baca Juga:  Sambut Tahun Naga Kayu, Danamon Ajak Nasabah Manfaatkan Setiap Peluang

Menurutnya, terdapat tiga pertanyaan utama yang perlu mampu dijawab pelaku usaha ketika produknya hendak masuk pasar Eropa, yakni dari mana produk berasal, bagaimana produk tersebut dibuat, serta apa dampaknya terhadap lingkungan.

“Penting juga transparansi ketertelusuran dan prinsip ‘buktikan kebenaran kecil, jangan janjikan kebohongan besar’ untuk membedakan produk jujur dari praktik greenwashing,” ujarnya.

Pemkot Semarang Dukung UMKM Tembus Pasar Global

Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi langkah IPEMI Jawa Tengah dan My Bumi dalam memberikan edukasi sekaligus pendampingan kepada pelaku UMKM.

Menurut Iswar, peningkatan kapasitas menjadi bagian penting agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Nah, melalui kegiatan ini, sudah waktunya UMKM kita naik kelas. Kalau sekadar omon-omon, maka UMKM akan gitu-gitu saja. Kalau mau naik kelas ya memang harus ada kegiatan edukasi, pendampingan seperti ini,” ujarnya.

Iswar berharap semakin banyak produk UMKM Jawa Tengah, termasuk dari Kota Semarang, yang mampu menembus pasar Eropa. Jika hal tersebut terwujud, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

“Ketika UMKM Jateng dan Kota Semarang bisa tembus pasar Eropa, maka ekonomi kerakyatan bisa terdongkrak. Lebih luas akan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar UMKM,” pungkasnya.***