HKG PKK ke-54, Wali Kota Semarang Dorong Pemberdayaan Ekonomi Dimulai dari Rumah

InShot_20260901_234319948
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang semakin memperkuat peran dalam pemberdayaan ekonomi keluarga.

Menurut Wali Kota Semarang yang akrab disapa Agustina itu, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar.

Perubahan justru dapat dibangun dari lingkungan terdekat, yakni keluarga dan rumah.

Hal tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri Festival Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Kota Semarang yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (27/8).

Festival yang mengusung tema “PKK Berdaya Tangguh Mandiri Menuju Semarang Semakin Hebat” tersebut menjadi ajang silaturahmi, peningkatan kapasitas sekaligus apresiasi bagi para kader PKK dari 16 kecamatan di Kota Semarang.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Kota Semarang Lies Iswar, jajaran pengurus TP PKK Kota Semarang, serta para kader PKK dari seluruh kecamatan.

Ketua TP PKK Kota Semarang Lies Iswar mengatakan, HKG PKK menjadi momentum untuk kembali memperkuat semangat para kader dalam menjalankan peran pemberdayaan keluarga dan lingkungan.

Menurutnya, banyak potensi di sekitar keluarga yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat.

“PKK bergerak dari keluarga dan kembali untuk memberikan manfaat bagi keluarga,” ujar Lies.

Sementara itu, Agustina menilai kekuatan PKK berada pada kedekatan para kader dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kader yang berada di tengah-tengah warga dinilai memiliki posisi strategis untuk mengetahui sekaligus merespons kebutuhan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Baca Juga:  KKN Internasional USM di Kuala Lumpur Perkuat Diplomasi Pendidikan

“Yang membuat mereka bergerak menjaga lingkungannya, menjaga warganya, menjaga seluruh komunitasnya hanya satu. Apa itu? Cinta mereka kepada bangsanya sendiri,” kata Agustina.

Ia menegaskan, pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana di tingkat keluarga. Dari rumah, berbagai aspek kehidupan seperti kesehatan, pangan, lingkungan, budaya hingga ekonomi dapat dikembangkan secara bersama-sama.

“Pemberdayaan itu dimulai dari rumah. Dari rumah kita bisa membangun kesehatan, pangan, lingkungan, budaya sampai ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Dorong UP2K Berkembang Jadi UMKM

Salah satu potensi yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).

Agustina mengatakan, kegiatan produktif yang pada awalnya dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dapat dikembangkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.

“Sekarang semakin banyak kader PKK yang berkembang menjadi pelaku UMKM dan entrepreneur. Ini yang harus kita dorong,” katanya.

Menurut Agustina, usaha berbasis rumah tangga membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan agar mampu naik kelas menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Karena itu, pemberdayaan keluarga perlu terhubung dengan ekosistem usaha yang lebih luas, mulai dari pendampingan, promosi, digitalisasi hingga akses terhadap pasar.

Potensi tersebut sejalan dengan besarnya jumlah pelaku usaha mikro di Kota Semarang.

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM, lebih dari 30.800 pelaku usaha mikro telah terintegrasi dalam Sistem Informasi Usaha Mikro (Si Umi).

Untuk memperluas ruang pertumbuhan usaha keluarga, Agustina mendorong penguatan Waras Ekonomi sebagai ekosistem yang dapat menghubungkan kader PKK dan pelaku UP2K dengan platform digital, media, mitra usaha serta akses pasar.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Pererat Silaturahmi dengan Ulama, Mohon Dukungan Sukseskan MTQ Nasional 2026

“Kalau kita bisa menghubungkan mereka dengan pasar, dengan media, dengan platform digital dan dengan mitra usaha, maka usaha yang dimulai dari rumah bisa mempunyai kesempatan untuk tumbuh lebih besar,” jelasnya.

Dengan ekosistem tersebut, usaha keluarga diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi mampu berkembang menjadi sumber penghasilan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Omah Tematik Jadi Wujud Pemberdayaan

Semangat pemberdayaan juga terlihat dalam pelaksanaan Festival HKG PKK ke-54 melalui Stan Tematik yang menampilkan berbagai praktik pemberdayaan masyarakat.

Beragam tema dihadirkan, mulai dari kesehatan, pangan, lingkungan, ekonomi, inklusivitas, kebencanaan, budaya hingga pariwisata.

Konsep tersebut diwujudkan melalui Omah Kesehatan, Omah Pangan, Omah TOGA, Omah UP2K, Omah Pilah Sampah, Omah Inklusif, Omah Tangguh Bencana, Omah Budaya, Omah Wisata, dan Omah Ramah Anak.

Agustina menilai keberadaan Omah Tematik menjadi gambaran bagaimana 10 Program Pokok PKK dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Tidak hanya memberikan manfaat sosial, berbagai kegiatan tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif.

Festival HKG PKK ke-54 turut dimeriahkan dengan Lomba Hadroh dan Lomba Stan Tematik. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi para kader untuk menampilkan kreativitas, produk unggulan, keunikan serta identitas wilayah masing-masing.

“Kompetisi itu jangan hanya dilihat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah kita bertemu, saling belajar, membangun komunitas dan membuka peluang,” ujar Agustina.

Baca Juga:  Prodi D3 Manajemen Perusahaan FE USM Evaluasi Implementasi Kurikulum OBE untuk Perkuat Mutu Pembelajaran

Pariwisata Buka Peluang Ekonomi Warga

Selain pemberdayaan keluarga dan UMKM, Agustina juga melihat sektor pariwisata sebagai salah satu ruang yang dapat memperluas peluang ekonomi masyarakat.

Menurutnya, kampung, komunitas, pelaku UMKM dan kader PKK dapat mengambil peran dalam pengembangan pariwisata melalui produk, kreativitas, seni budaya maupun potensi yang dimiliki setiap wilayah.

Ia berharap pada 2027 pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata di Kota Semarang semakin memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kota Semarang akan kita buat sedemikian rupa bagaimana menjadi sebuah destinasi wisata yang memberi manfaat kepada warganya,” tegasnya.

Agustina menekankan, pengembangan pariwisata tidak semata-mata mengenai pembangunan destinasi. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat di sekitar destinasi ikut tumbuh dan memperoleh manfaat ekonomi.

Produk UMKM, kuliner, kerajinan, seni budaya, kreativitas komunitas hingga potensi kampung dapat menjadi bagian dari ekosistem pariwisata Kota Semarang.

Di tengah tantangan ekonomi dan daya beli masyarakat, Agustina juga mengajak kader PKK untuk terus membangun kepedulian terhadap warga, termasuk membantu masyarakat yang membutuhkan akses pekerjaan maupun peluang usaha.

Posisi kader PKK yang bersentuhan langsung dengan keluarga dan lingkungan dinilai menjadi modal penting dalam menggerakkan perubahan dari tingkat paling bawah.

Karena itu, PKK diharapkan tidak hanya menjalankan berbagai program, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

“Teruslah bergerak dari rumah bersama keluarga untuk menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi Kota Semarang,” pungkasnya.***