Wali Kota Semarang Dorong Gerakan Pangan Murah Lebih Sering Hingga Tingkat RW

InShot_20260904_001937363
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Bagi warga, mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau tentu menjadi kabar baik. Apalagi ketika bahan pangan tersebut hadir lebih dekat, tanpa harus pergi jauh ke pusat perbelanjaan.

Semangat itulah yang kini ingin diperkuat Pemerintah Kota Semarang melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) lewat program Kempling Semar.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong agar kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung sesekali, tetapi semakin rutin hingga menyentuh lingkungan Rukun Warga (RW).

Dorongan itu disampaikan Agustina saat mengikuti GPM Serentak melalui Kempling Semar di Kecamatan Banyumanik, Senin (31/8).

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian GPM tingkat RW yang digelar sepanjang Agustus 2026.

Bagi Agustina, keberadaan pangan murah seharusnya tidak sekadar menjadi program temporer.

Kehadirannya perlu dijaga secara konsisten agar masyarakat memiliki akses yang lebih mudah terhadap bahan pangan berkualitas dengan harga yang tetap terjangkau.

“Harapannya kegiatan pangan murah ini tidak berhenti pada hari ini saja, tetapi tetap berlanjut dan konsisten sepanjang tahun,” kata Agustina.

Dalam dialog daring bersama 16 kecamatan, Agustina juga melihat langsung komoditas yang paling banyak diburu masyarakat. Beras dan telur menjadi dua bahan pokok yang disebut paling cepat habis.

Baca Juga:  BPKN RI Apresiasi Langkah Tegas KPPU Bongkar Kartel Bunga Pinjaman Online

Tingginya permintaan tersebut menjadi catatan penting bagi Pemkot Semarang untuk menyesuaikan jumlah pasokan sekaligus mempertimbangkan peningkatan frekuensi pelaksanaan GPM di tingkat masyarakat.

“Jika memungkinkan, frekuensinya bisa ditingkatkan, paling tidak sepekan sekali. Semakin sering digelar, tentu manfaatnya akan semakin dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Pangan Murah Mendekat ke Kampung

Kempling Semar dirancang dengan konsep pelayanan pangan yang mendekat kepada warga. Kegiatan berlangsung setiap hari secara bergiliran dari satu kampung ke kampung lainnya.

Pelaksanaannya melibatkan kolaborasi pemerintah kota, mitra distributor pangan, serta pengurus wilayah setempat.

Dengan pola tersebut, masyarakat tidak perlu menunggu kegiatan besar untuk memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, GPM di Kota Semarang telah digelar di 1.085 titik dengan total omzet mencapai Rp5,013 miliar.

Sementara khusus GPM Serentak tingkat RW selama Agustus 2026, kegiatan tersebut telah menjangkau 729 RW dari total 1.532 RW yang ada di Kota Semarang.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Lantik 2.324 PPPK dan 4 Pejabat Fungsional

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng telah disalurkan kepada masyarakat, selain berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemkot Semarang untuk memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan intensitas program pangan murah hingga ke lingkungan warga.

Tak Hanya Membeli, Warga Diajak Memproduksi

Upaya menjaga ketahanan pangan di Kota Semarang juga tidak berhenti pada penyediaan bahan pokok murah.

Pemkot Semarang mulai mendorong kemandirian pangan keluarga melalui program Bulir Padi atau Budi Daya Pekarangan Pangan dan Gizi.

Melalui program tersebut, masyarakat diajak memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah untuk menghasilkan bahan pangan secara mandiri.

Mulai dari menanam tanaman pangan, membuat kolam lele, hingga memelihara ayam petelur dapat dilakukan di lingkungan RT maupun RW.

Menurut Agustina, langkah tersebut penting sebagai bentuk persiapan menghadapi berbagai kemungkinan gejolak ekonomi maupun perubahan kondisi pasokan pangan.

“Kita perlu membangun ‘rumah pangan’ mandiri dari tingkat keluarga untuk mengantisipasi potensi gejolak maupun tantangan ekonomi di masa depan,” jelasnya.

Konsep itu diharapkan membuat ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dari halaman rumah, lingkungan RT, hingga RW, masyarakat dapat ikut mengambil peran dalam menyediakan sebagian kebutuhan pangannya sendiri.

Baca Juga:  UPZ Alqodar Sendangmulyo Salurkan Dana Zakat Rp71 Juta untuk Pendidikan dan Pemberdayaan Warga

Bank Indonesia Beri Apresiasi

Langkah Pemkot Semarang dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan turut mendapat perhatian dari Bank Indonesia.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, menilai Kempling Semar menjadi inovasi yang mampu mendekatkan intervensi pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya menyentuh persoalan harga, tetapi juga membantu memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap pangan dengan lebih mudah.

“Kami mengapresiasi komitmen Kota Semarang yang konsisten melakukan langkah nyata dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga. Kempling Semar menjadi bentuk intervensi yang tepat waktu dan langsung dirasakan masyarakat,” ujar Andi.

Dengan dorongan agar GPM dapat digelar lebih sering hingga tingkat RW, Pemkot Semarang berharap pangan murah semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bukan sekadar hadir ketika harga mulai bergejolak, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan pangan warga secara berkelanjutan.***