Dosen Teknik Sipil USM Kenalkan Inovasi Rumah Apung Berbahan Styrofoam Berlapis Beton Ringan

InShot_20260906_002212153
Bagikan:

DEMAK, (Harianterkini.id) – Persoalan lingkungan pesisir yang terus berkembang mendorong perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Salah satunya dilakukan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Semarang (USM) melalui pengembangan alternatif platform rumah apung.

Tim tersebut memperkenalkan inovasi platform rumah apung berbahan styrofoam dengan pelapis beton ringan kepada masyarakat Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Inovasi ini dikembangkan sebagai alternatif platform rumah apung yang diharapkan lebih adaptif terhadap karakteristik lingkungan pesisir. Selain mempertimbangkan aspek kekuatan konstruksi, platform juga dirancang dengan memperhatikan kemudahan pemeliharaan dan keberlanjutan penggunaannya.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya USM menerapkan hasil riset perguruan tinggi agar dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir.

Baca Juga:  Pasangan Cagub Luthfi-Yasin Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dengan Rumah Perlindungan di Setiap Kecamatan

Ketua Tim PKM, Dr. Ir. Dhamang Budi Cahyono, S.T., M.T., IPM., ACPE, mengatakan pengembangan inovasi tersebut merupakan bagian dari penerapan hasil riset Teknik Sipil USM untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

“Pendekatan yang dilakukan tidak hanya mempertimbangkan aspek konstruksi, tetapi juga kemudahan pemeliharaan dan keberlanjutan penggunaan platform rumah apung,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, anggota tim PKM, Ir. Kukuh Wisnuaji Widiatmoko, S.T., M.T., memberikan kontribusi dari aspek sumber daya air dan lingkungan perairan.

Menurutnya, kajian terhadap kondisi perairan menjadi penting karena platform rumah apung harus mampu beradaptasi dengan perubahan muka air, pasang surut, serta kondisi lingkungan pesisir.

Sementara itu, anggota tim lainnya, Dr. Ir. Anik Kustirini, S.T., M.Si., dan Ir. Trias Widorini, S.T., M.Eng., memberikan kontribusi dari bidang struktur.

Kontribusi tersebut terutama berkaitan dengan konsep kekuatan dan kestabilan, sistem perlindungan material, serta penerapan konstruksi platform agar dapat berfungsi secara aman dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Siap-siap! PLN Jadi Raksasa Pelaku Carbon Trading yang Melantai di Bursa Karbon Indonesia

Pengenalan inovasi dilakukan melalui observasi, diskusi, penjelasan teknis, hingga demonstrasi konsep platform. Masyarakat diajak memahami perbedaan karakteristik platform berbahan blue barrel atau drum plastik dengan alternatif platform berbahan styrofoam yang dilapisi beton ringan.

Menurut Dhamang, diskusi bersama masyarakat juga diarahkan pada sejumlah aspek yang berkaitan langsung dengan penggunaan platform rumah apung.

“Diskusi juga diarahkan pada aspek kemudahan pemeliharaan, potensi kerusakan, ketahanan terhadap lingkungan perairan, serta kemungkinan penerapannya pada rumah apung,” jelasnya.

Perwakilan masyarakat setempat, Bowo Prasetya, mengatakan masyarakat turut terlibat dalam kegiatan pengenalan dan diskusi mengenai kebutuhan platform rumah apung.

Pembahasan mencakup ketahanan material, pemeliharaan, daya apung, hingga stabilitas platform. Selama ini, masyarakat setempat telah memanfaatkan blue barrel atau drum plastik biru sebagai salah satu material pengapung pada platform rumah apung.

Baca Juga:  Bulan Ramadan, Donasi Pegawai PLN Beri Sambungan Listrik Gratis Bagi 2.597 Keluarga Prasejahtera

Menurut Bowo, blue barrel memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan dan kemudahan pemasangan. Namun, penggunaannya di lingkungan perairan juga menghadapi sejumlah tantangan.

Beberapa di antaranya adalah potensi kebocoran, kerusakan akibat benturan, serta penempelan organisme laut seperti tritip.

“Kondisi itu dapat memengaruhi daya apung dan kesetimbangan platform apabila tidak dilakukan pemeliharaan secara rutin,” katanya.

Melalui inovasi tersebut, tim PKM Teknik Sipil USM berharap pengembangan platform rumah apung tidak hanya menjadi hasil riset di lingkungan akademik, tetapi juga dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat pesisir.

Dengan pendekatan yang menggabungkan aspek teknologi, konstruksi, lingkungan, dan kebutuhan pengguna, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat di kawasan pesisir.