Semarang Sambut MTQ Nasional XXXI dengan Dugderan, Rebana hingga Panggung Budaya

InShot_20260912_002059209
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Semarang tak ingin menjadi sekadar tempat berlangsungnya perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026.

Saat para kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang ke Kota Atlas, suasana kota juga disiapkan untuk ikut bercerita.

Tradisi, seni, literasi, hingga ekspresi Islami akan hadir sebagai bagian dari cara Kota Semarang menyambut tamu-tamu dari seluruh Indonesia.

MTQ Nasional XXXI dijadwalkan berlangsung pada 12 hingga 19 September 2026.

Sebagai tuan rumah, Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan kekayaan budaya lokal.

Bagi Agustina, MTQ bukan semata-mata kompetisi membaca dan memahami Al-Qur’an.

Lebih dari itu, perhelatan nasional tersebut menjadi ruang perjumpaan antardaerah sekaligus kesempatan bagi Semarang memperkenalkan wajah kotanya.

“MTQ Nasional bukan hanya tentang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an. Ini adalah momentum perjumpaan. Kita mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan kekayaan budaya lokal,” ujar Agustina usai menghadiri Residensi Silang Rimbaud, Kamis (10/9).

Menurutnya, para kafilah dan tamu yang datang diharapkan tidak hanya mengikuti rangkaian perlombaan, tetapi juga membawa pulang pengalaman tentang keramahan, keberagaman, sejarah, dan karakter Kota Semarang.

Salah satu yang akan menjadi warna tersendiri dalam penyelenggaraan MTQ adalah Nostalgia Mini Dugderan.

Baca Juga:  Monitoring Pemilu, Kejati Minta Kepala Desa dan ASN Jaga Integritas pada Pemilu 2024

Kegiatan ini berlangsung di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman pada 13 hingga 18 September 2026.

Nuansa pasar rakyat akan dihadirkan untuk menghidupkan kembali atmosfer Dugderan, tradisi khas Semarang yang selama ini lekat dengan momentum menyambut Ramadan.

Pengunjung dapat menikmati beragam kuliner lokal, seperti kue putu dan martabak. Berbagai mainan tradisional, termasuk gerabah dan kapal othok-othok, juga akan menghiasi kawasan tersebut.

Suasana itu kemudian mencapai puncaknya melalui Kirab Budaya Mini Dugderan pada Jumat (18/9).

Prosesi kirab diawali dengan pembacaan Suhuf Halaqah dan pemukulan bedug. Setelah itu, masyarakat akan diajak mengikuti tradisi pembagian roti Ganjel Rel.

Yang menarik, kirab tersebut tidak hanya menampilkan satu warna budaya. Barisan Pecinan, Barisan Koja, pertunjukan Barongsai Semarangan hingga keterlibatan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) akan turut mewarnai parade.

Bagi Agustina, keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan yang ingin ditampilkan Semarang kepada para tamu dari berbagai daerah.

“Kota Semarang punya Dugderan, punya kekayaan seni dan budaya yang sangat beragam. Ini yang ingin kita tampilkan. Kita menyambut saudara-saudara dari seluruh Indonesia dengan budaya kita, tetapi tetap dalam semangat persaudaraan dan nilai-nilai keislaman,” katanya.

Tak berhenti pada tradisi Dugderan, semarak MTQ juga akan merambah ruang seni, literasi, dan kreativitas.

Baca Juga:  Keberhasilan Transformasi dan Inovasi Digital Pelayanan Pelanggan PLN Meraih 2 Penghargaan Internasional

Sejumlah kegiatan seperti Pameran Kaligrafi Internasional, Festival Kaligrafi, Lomba Cerpen, Lomba Mewarnai, Lomba Bacaan Surat Pendek, kegiatan musik untuk anak-anak, serta berbagai pertunjukan seni disiapkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pendukung MTQ Nasional XXXI.

Keterlibatan pelajar, anak-anak, seniman, komunitas, dan masyarakat menjadi perhatian tersendiri. Pemerintah Kota Semarang ingin atmosfer MTQ dapat dirasakan lebih luas, tidak hanya oleh para peserta dan pendamping kafilah.

“MTQ harus menjadi milik bersama. Anak-anak, pelajar, seniman, komunitas, masyarakat, dan para kafilah dari berbagai daerah semuanya harus bisa merasakan semangat MTQ,” ungkap Agustina.

Ia berharap nilai-nilai Al-Qur’an dapat hadir dalam berbagai bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kita ingin Al-Qur’an hadir melalui kompetisi, seni, literasi, kreativitas, dan kegiatan yang dekat dengan masyarakat,” lanjutnya.

Salah satu agenda yang juga membawa nuansa seni Islami adalah Lomba Rebana Tingkat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Bagi Agustina, rebana bukan sekadar pertunjukan musik. Seni tersebut merupakan bagian dari tradisi keislaman yang telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Melalui lomba tingkat nasional tersebut, Semarang ingin membuka ruang bagi kelompok-kelompok rebana dari berbagai daerah untuk bertemu, berkreasi, sekaligus mempererat silaturahmi.

Baca Juga:  Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang Raih Penghargaan Bandara Udara Sehat 2024

“Rebana adalah bagian dari tradisi keislaman yang tumbuh kuat di tengah masyarakat. Melalui Lomba Rebana Tingkat Nasional, kita ingin memberikan ruang bagi seni Islami untuk berkembang sekaligus mempertemukan kelompok-kelompok dari berbagai daerah,” tuturnya.

“ Ada silaturahmi, ada kreativitas, dan ada semangat untuk bersama-sama menjaga tradisi,” imbuh Agustina.

Beragam agenda tersebut menjadi cara Semarang menghidupkan MTQ Nasional XXXI di berbagai ruang kota. Tradisi lokal, seni Islami, literasi, hingga kreativitas masyarakat dirangkai menjadi satu kesatuan untuk menyambut para tamu Nusantara.

Bagi kota yang dikenal dengan keberagaman budaya dan kehidupan masyarakatnya, MTQ menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa nilai keagamaan dapat berjalan beriringan dengan budaya, kreativitas, dan semangat kebersamaan.

Agustina pun mengajak masyarakat Semarang untuk ikut meramaikan berbagai kegiatan selama penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.

“Kami ingin MTQ Nasional XXXI meninggalkan kesan yang baik. Semarang adalah kota yang religius, terbuka, kaya budaya, kreatif, dan ramah kepada siapa pun,” katanya.

“Monggo, sedulur-sedulur dari seluruh Indonesia datang ke Semarang. Kita sambut bersama MTQ ini dengan kegembiraan, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia,” pungkasnya.***