Dugaan Keracunan MBG di Bawang Batang, 287 Orang Alami Gejala Gangguan Kesehatan
BATANG, (Harianterkini.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menjadi perhatian setelah ratusan penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan pada Selasa (22/9/2026).
Para penerima manfaat dilaporkan mengalami sejumlah gejala, mulai dari mual, pusing, muntah, diare hingga sakit perut.
Tidak hanya siswa, sejumlah orang tua juga ikut mengalami keluhan setelah menyantap makanan MBG yang dibawa pulang anak mereka.
Pemerintah Kabupaten Batang bergerak melakukan penanganan setelah jumlah warga yang datang ke fasilitas kesehatan terus bertambah.
Berdasarkan data Pemkab Batang hingga Rabu (23/9) malam pukul 20.38 WIB, tercatat 276 orang terdampak. Angka tersebut disebut masih dapat berubah karena proses pendataan masih berlangsung.
Sementara itu, laporan terbaru pada Kamis (24/9) pagi menyebut jumlah warga yang mengalami gejala telah mencapai 287 orang.
Angka tersebut juga belum bersifat final karena warga masih berdatangan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Wakil Bupati Batang Suyono turun langsung meninjau kondisi sejumlah korban yang menjalani perawatan di RSUD Batang pada Rabu malam.
Suyono mengatakan, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan untuk menangani warga yang mengalami keluhan.
“Pukul 20.38 total 275 yang terdaftar di Bawang. Jadi perkembangan tetap kita tunggu, yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini menjadi kejadian yang terakhir,” kata Suyono, seperti dikutip dari keterangan resmi Pemkab Batang. Data tersebut kemudian diperbarui menjadi 276 orang.
Berasal dari 11 Lembaga Pendidikan
Kasus dugaan keracunan tersebut diketahui berkaitan dengan penerima manfaat MBG dari satu dapur SPPG yang melayani sejumlah lembaga pendidikan di Kecamatan Bawang.
Pemkab Batang mencatat terdapat 11 lembaga pendidikan yang menjadi penerima manfaat dari dapur tersebut.
Di antaranya SDN 1 Bawang, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Qurota ‘Ayun, RA Al Hidayah dan MI Salafiyah Pasusukan.
Total penerima manfaat dari dapur SPPG tersebut mencapai sekitar 2.700 orang. Namun, angka 2.700 merupakan jumlah penerima manfaat, bukan jumlah warga yang mengalami dugaan keracunan.
Keluhan kesehatan mulai dirasakan beberapa jam setelah makanan dikonsumsi.
Menurut Suyono, siswa mengonsumsi makanan sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian sejumlah keluhan mulai muncul pada siang hingga sore hari.
Orang tua juga ikut mengalami gejala setelah mencicipi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka.
Telur Dicurigai, Pemeriksaan Laboratorium Dilakukan
Di tengah proses penanganan, muncul dugaan sementara bahwa salah satu menu yang berkaitan dengan keluhan warga adalah olahan telur.
Namun, pemerintah daerah menegaskan dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
“Sampel makanan telah diambil untuk kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Dari keterangan korban, salah satu menu yang dicurigai menjadi penyebab adalah olahan telur. Namun, pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut,” kata Suyono.
Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan penyebab munculnya gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.
Karena itu, pemerintah mengingatkan agar tidak ada pihak yang terburu-buru menyimpulkan sumber penyebab sebelum hasil pemeriksaan resmi diperoleh.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah kehati-hatian, operasional dapur SPPG yang menyediakan makanan tersebut dihentikan sementara.
Pemkab Batang juga akan melakukan evaluasi terhadap pengelolaan dapur, termasuk penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam proses pengolahan hingga distribusi makanan.
Koordinator wilayah dan pengelola SPPG akan dipanggil untuk dimintai keterangan sekaligus menjalani evaluasi.
Suyono menegaskan keamanan makanan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program MBG.
“Ini rawan sekali. Sekali lagi, para yang mempunyai SPPG, hati-hati. SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia,” tegasnya.
Suyono juga menyatakan pemerintah daerah belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Menurutnya, penetapan KLB membutuhkan pembahasan dan rapat tersendiri.
Kondisi Pasien Mulai Membaik
Sementara itu, perkembangan kondisi korban pada Kamis pagi menunjukkan tanda positif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Ida Susilaksmi memastikan tidak ada laporan korban meninggal dunia dalam kasus dugaan keracunan MBG tersebut.
Ida mengatakan dirinya memantau kondisi pasien hingga hampir tengah malam dan kembali melakukan pemantauan sejak pagi hari.
“Sejauh saya memantau pagi ini kondisi aman. Tadi pagi saya memantau di RSUD Batang, tadi malam saya sampai pukul 23.45 WIB, tadi pagi pukul 05.30 WIB saya ke situ lagi hingga 06.30 WIB. Aman, alhamdulillah, kondisinya sudah membaik semuanya,” ujar Ida, Kamis (24/9/2026).
Menurut Ida, sejumlah gejala yang sebelumnya dialami pasien mulai berkurang, termasuk diare, mual, muntah dan pusing.
Ia sekaligus membantah kabar yang beredar mengenai adanya korban meninggal dunia.
“Kalau ada laporan yang meninggal pasti iya. Kalau ada yang meninggal pasti kita langsung ditelepon,” tegasnya.
Dinkes Batang saat ini masih melakukan pemantauan dan merapikan data jumlah pasien karena pencatatan pada malam sebelumnya berlangsung sangat dinamis.
Pemerintah Minta Pengawasan MBG Diperketat
Kasus di Bawang tersebut menjadi evaluasi bagi pelaksanaan program MBG, khususnya dalam memastikan makanan yang diberikan kepada masyarakat memenuhi standar keamanan dan kualitas pangan.
Pemkab Batang menempatkan keselamatan penerima manfaat sebagai prioritas. Sementara itu, siswa yang dalam kondisi sehat tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar, sedangkan siswa yang masih sakit atau menjalani perawatan diminta beristirahat hingga kondisinya pulih.
Dengan jumlah warga terdampak yang masih berkembang, pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan terus melakukan pendataan, pemeriksaan medis, serta penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi para korban.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi bagian penting untuk memastikan apakah keluhan kesehatan tersebut benar berkaitan dengan makanan MBG dan apa penyebabnya.***
