Dari Keluarga untuk Kota, Wali Kota Semarang Dorong Perempuan Jadi Penggerak Perubahan

InShot_20261011_230311501
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Perubahan sebuah kota tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan, kepedulian terhadap sesama, hingga upaya memperkuat ekonomi keluarga dapat menjadi langkah sederhana yang membawa dampak luas.

Dalam proses itu, perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan.

Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dalam talkshow “Perempuan Bicara, Semarang Bergerak” bertema “Perempuan, Keluarga, dan Masa Depan Kota Semarang”.

Kegiatan yang diselenggarakan PC Fatayat NU Kota Semarang itu diikuti ribuan kader perempuan.

Di hadapan para peserta, Agustina mengingatkan bahwa perempuan bukan sekadar pendamping dalam pembangunan.

Perempuan memiliki kedudukan setara dengan laki-laki dan berperan penting dalam menentukan arah kemajuan Kota Semarang.

“Laki-laki dan perempuan itu seperti sepasang sayap dari seekor burung yang terbang tinggi. Jika salah satu sayap itu patah, maka burung itu tidak akan dapat lagi terbang. Kita berada pada posisi sebagai salah satu sayap apabila Kota Semarang ini ingin maju. Posisi kita setara,” ujarnya.

Baca Juga:  Kota Semarang Raih Penghargaan Harmony Award 2025 dan Jadi Kota Terbaik Pertama Se-Indonesia Kelola Kerukunan Umat Beragama

Bagi Agustina, salah satu ruang yang dapat menjadi titik awal gerakan perempuan adalah lingkungan rumah tangga.

Kebiasaan memilah dan mengelola sampah, menjaga kebersihan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi sekitar merupakan langkah nyata yang dapat dimulai dari keluarga.

Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah upaya penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang.

Menurut Agustina, persoalan sampah membutuhkan kesadaran bersama yang tumbuh dari masyarakat, termasuk melalui peran perempuan di lingkungan tempat tinggal.

“Awareness terhadap sampah yang ada di wilayah kita itu datangnya dari kita. Bapak-bapak wis ora sabar. Kenapa? Karena kita tekun. Maka cocok ini perempuan berbicara, Semarang bergerak. Tugas kita adalah membangunkan kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga:  Asintel Kejati Jateng Sunarwan Minta ASN Jaga Netralitas dan Kondusifitas dalam Pemilu 2024

Namun, kontribusi perempuan tidak berhenti pada urusan rumah tangga dan lingkungan.

Pemberdayaan ekonomi keluarga juga menjadi bagian penting dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.

Melalui program Waras Ekonomi untuk UMKM dan IKM, perempuan diharapkan turut mengambil bagian dalam mengembangkan usaha serta memperkuat kemandirian ekonomi.

Perhatian terhadap keluarga dan kelompok rentan juga tercermin dalam agenda percepatan penanganan stunting serta rencana pembentukan Rumah Inspirasi bagi penyandang disabilitas di setiap kecamatan.

Semangat tersebut sejalan dengan peluncuran program “Fatayat Berdaya – Perempuan Menjaga Keluarga, Merawat Kota”.

Program ini membawa pesan bahwa kepedulian terhadap keluarga dapat berjalan beriringan dengan kontribusi untuk masyarakat dan lingkungan yang lebih luas.

Baca Juga:  Gowes 20 KM Keliling Ikon Semarang, Fun Bike XL Weekend Rush Targetkan 500 Peserta

Agustina pun mengajak para kader perempuan agar tidak hanya berhenti pada diskusi dan kegiatan organisasi.

Gagasan yang lahir dari pertemuan harus dibawa pulang, diterapkan, dan dikembangkan bersama warga di lingkungan masing-masing.

“Mari kita berbicara tidak hanya untuk bergerak secara sendiri, tetapi juga untuk menggerakkan lingkungan kita. Melakukan sesuatu untuk memberi manfaat dan menyebarkan energi positif bagi lingkungan tempat kita,” pungkasnya.

Melalui gerakan tersebut, perempuan diharapkan menjadi bagian dari perubahan yang tumbuh dari lingkup terkecil.

Sebab, ketika keluarga semakin kuat, lingkungan semakin terjaga, dan masyarakat saling peduli, langkah-langkah sederhana itu dapat menjadi kontribusi berarti bagi masa depan Kota Semarang.***