Belajar Mengenal Kedamaian Jawa Tengah Melalui Kreativitas Majalah Papan Ruang Ayem di 11th Komukino Fest 2025

WhatsAppImage2025-12-24at12.21.53PM

Tim mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) di balik kampanye Ruang Ayem berfoto bersama di depan stan hasil karya praktikum mata kuliah Komunikasi Antar Budaya di Gedung Muladi USM, Kamis (18/12) lalu.

Bagikan:

SEMARANG (Harianterkini.id) – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menampilkan kampanye budaya bertajuk Ruang Ayem dalam rangka 11th Komukino Fest 2025 yang digelar di Gedung Muladi USM, Kamis (18/12). Kampanye ini menjadi bagian dari praktikum mata kuliah Komunikasi Antar Budaya dan menarik perhatian pengunjung melalui sajian Majalah Papan Dinding atau mading bertema identitas lokal Jawa Tengah.

Pembukaan stan Ruang Ayem berlangsung pukul 11.00 WIB dan dihadiri sejumlah tamu undangan. Hadir meninjau langsung Sub Koordinator Kemitraan dan Kelembagaan Pemuda Bidang Kepemudaan, Makmur Efendi, S.Pd., MM., serta Widya Prada Bidang Ketenagakerjaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Nur Sahid, S.Sos. Dari internal kampus, Wakil Rektor I, Dekan Universitas Semarang, dan perwakilan dosen turut memberikan apresiasi terhadap karya mahasiswa.

Baca Juga:  Gerakkan Riau Halal Fair di Daerah, Gubernur Riau Minta Dukungan Pemda

Perwakilan tim Ruang Ayem, Bunga, mempresentasikan konsep kampanye kepada para tamu. Ia menjelaskan bahwa Ruang Ayem dirancang sebagai media edukasi budaya untuk memperkenalkan kembali Jawa Tengah sebagai ruang yang memberikan ketenangan melalui harmoni tradisi, kuliner, dan pariwisata di enam wilayah karesidenan.

Tampilan visual Majalah Papan Dinding (Mading) pada stan Ruang Ayem yang menyajikan rincian kuliner khas dan destinasi wisata hidden gem dari enam karesidenan di Jawa Tengah sebagai sarana edukasi budaya bagi pengunjung.

Karesidenan Pati ditampilkan sebagai wilayah pesisir dengan tradisi Sedekah Laut Juwana dan Sedekah Laut Lasem di Rembang, serta tradisi Buka Luwur Sunan Kudus. Kuliner Nasi Gandul dan Soto Kemiri diperkenalkan bersama destinasi Agrowisata Jolong di Pati.

Karesidenan Surakarta disajikan melalui tradisi Mondosiyo di Karanganyar, Sadranan di Boyolali, dan Padusan di Klaten. Informasi kuliner meliputi Nasi Liwet Solo, Selat Solo, dan Sate Kere. Destinasi Museum Sangiran di Sragen dan The Heritage Palace turut diperkenalkan.

Baca Juga:  Tim PkM USM Beri Pelatihan Senam Otot Kepada Lansia di Kelurahan Bangetayu Kulon untuk Lawan Penuaan

Karesidenan Kedu diangkat melalui ritual Ruwatan Rambut Gimbal di Wonosobo dan Banjarnegara, tradisi Nyadran di Magelang, serta Jolenan di Purworejo. Kuliner Kupat Tahu Magelang dan Getuk Nyamlut ditampilkan bersama Embung Kledung di Temanggung sebagai destinasi wisata alam.

Sebagai wilayah tuan rumah, Karesidenan Semarang ditampilkan dengan tradisi Dugderan dan Saparan di Salatiga. Kuliner khas seperti Lumpia Semarang, Soto Bangkong, dan Tahu Gimbal menjadi sorotan. Informasi wisata mencakup Candi Gedong Songo dan Umbul Sidomukti.

Karesidenan Pekalongan menonjolkan identitas batik melalui tradisi Sedekah Bumi di Brebes dan festival batik Pekalongan. Kuliner Nasi Megono, Soto Tauco, dan Sate Blengong diperkenalkan bersama destinasi Curug Putri di Brebes dan Pantai Pasir Kencana.

Baca Juga:  Oak Tree Emerald Hotel & Conventions Semarang Perkenalkan Paket Wedding 2026 lewat "Marvelous Dinner"

Karesidenan Banyumas menutup rangkaian informasi budaya melalui kuliner Mendoan dan Soto Sokaraja. Destinasi wisata yang ditampilkan meliputi Telaga Sunyi, Baturraden di Purwokerto, dan Benteng Pendem di Cilacap.

Tim Ruang Ayem menyampaikan bahwa kampanye ini bertujuan menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap budaya Jawa Tengah di kalangan generasi muda. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi budaya sekaligus menunjukkan peran mahasiswa sebagai penghubung komunikasi budaya yang kreatif dan relevan di tengah perkembangan zaman.***