Krabat Pecinan Resmi Jadi Desa Wisata ke-14, Wali Kota Semarang Dorong Ekonomi Warga

InShot_20260927_201106748
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Lorong-lorong bersejarah di kawasan Pecinan Semarang kini memiliki ruang baru untuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Desa Wisata Krabat (Kranggan Hebat) Pecinan resmi ditetapkan sebagai desa wisata ke-14 di Kota Semarang.

Peresmian dilakukan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti di kawasan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Minggu (20/9/2026).

Berbeda dengan sejumlah desa wisata di wilayah perbukitan seperti Gunungpati dan Mijen, Krabat Pecinan tumbuh di tengah denyut pusat Kota Semarang.

Kawasan ini menawarkan jejak sejarah, budaya Tionghoa-Nusantara, seni, kuliner, hingga keberadaan klenteng-klenteng yang telah berusia ratusan tahun.

Yang menjadi kekuatan utama Desa Wisata Krabat adalah keterlibatan warga.

Pengembangannya menggunakan pendekatan dari bawah atau bottom-up, dengan masyarakat Kelurahan Kranggan menjadi bagian penting dalam menghidupkan berbagai potensi yang dimiliki kawasan tersebut.

Baca Juga:  Hadir di Bajawa, Badan Gizi Nasional Beri Pembekalan ke UMKM untuk Mendorong Program MBG

Bagi Agustina, pola tersebut menjadi kunci agar desa wisata tidak hanya menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat.

“Desa wisata itu tumbuh dari warganya sendiri. Ketika dikembangkan secara bottom-up, masyarakat dan komunitasnya yang membangun secara spesifik. Desa wisata akan jauh lebih hidup, memiliki jiwa, dan dampaknya terasa langsung pada perekonomian warga lokal,” ujar Agustina.

Semangat menghidupkan kawasan juga terlihat dari keterlibatan generasi muda. Salah satunya melalui Mural Fest 2026, sebuah kompetisi untuk mempercantik jalan inspeksi dan gang-gang di kawasan Pecinan yang diikuti pelajar dan mahasiswa dengan dukungan Mowilex.

Bagi Agustina, kehadiran anak muda memberikan warna tersendiri bagi kawasan bersejarah tersebut.

Seni visual menjadi salah satu cara generasi muda mengenal sekaligus ikut merawat warisan budaya yang ada di lingkungannya.

Baca Juga:  Mahasiswa Teknik Sipil USM Pelajari Proyek Tol Jogja–Solo Melalui Field Trip 2026

“Anak-anak muda datang membawa warna, mengekspresikan nilai harmoni dan akulturasi di ruang-ruang sejarah kita. Ini proses budaya di mana generasi muda ikut menjaga dan memperindah lingkungan,” ungkap Agustina.

Di sisi lain, pengembangan Krabat Pecinan juga mempertemukan komunitas dengan pelaku usaha.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krabat Pecinan menjalin kemitraan dengan industri perhotelan, salah satunya Hotel Horison, untuk menyusun paket wisata heritage berbasis komunitas.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuat pengalaman wisatawan tidak berhenti pada kunjungan ke satu lokasi, tetapi berkembang menjadi perjalanan yang mengenalkan sejarah, budaya, kuliner, serta kehidupan masyarakat di kawasan Pecinan.

Aktivitas wisata dan budaya di kawasan tersebut juga akan semakin semarak melalui Mooncake Festival 2026 bertajuk “Cahaya Harmoni Semarang” yang berlangsung pada 23–27 September 2026.

Sejumlah kegiatan telah disiapkan, mulai dari Heritage Food Festival di Gang Warung, pertunjukan Gambang Semarang, atraksi Barongsai, tradisi Tok Panjang di Klenteng See Hoo Kiong, video mapping di Klenteng Tay Kak Sie, hingga pagelaran Wayang Kulit di Klenteng Siu Hok Bio.

Baca Juga:  UKM Pilus Universitas Semarang  Sukses Gelar Konselor Sebaya

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bagaimana kawasan Pecinan tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Melalui Desa Wisata Krabat, potensi sejarah dan budaya tersebut diharapkan dapat semakin terintegrasi dengan aktivitas komunitas dan ekonomi warga.

Dengan demikian, wisata di Pecinan bukan sekadar tentang bangunan tua, kuliner legendaris, maupun tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Lebih dari itu, Krabat Pecinan menjadi ruang bagi warga, komunitas, pelaku usaha, dan generasi muda untuk bersama-sama menghidupkan kawasan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Semarang.***