Mahasiswa Ilmu Komunikasi USM Gelar Kampanye Kesetaraan Gender di Masjid Jami’ Al Qodar

InShot_20260515_013525683
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar kampanye bertema “Laki-laki Peduli, Perempuan Berdaya, Masyarakat Setara” sebagai bentuk implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan yang dilaksanakan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas tersebut berlangsung di Masjid Jami’ Al Qodar, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, pada Kamis, 7 Mei 2026, pukul 19.30 – 21.00 WIB.

Kegiatan ini dihadiri dosen pengampu mata kuliah Yuliyanto Budi Setiawan serta diikuti 25 peserta dari Komunitas Pijar Remaja Masjid Jami’ Al Qodar.

Selain itu, hadir pula narasumber Tri Mulyani yang memberikan pemaparan dari perspektif hukum terkait isu kesetaraan gender.

Kampanye ini digagas oleh 13 mahasiswa Ilmu Komunikasi USM sebagai bagian dari praktik pembelajaran yang menekankan keterlibatan langsung dalam masyarakat, khususnya dalam isu komunikasi jender dan kelompok minoritas.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang, Galang Kekuatan ASN Bantu Pekerja Rentan

Dalam keterangannya, Yuliyanto Budi Setiawan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman dasar mengenai pentingnya kesetaraan gender.

Hal itu diharapkan dapat mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil, dengan laki-laki yang peduli, perempuan yang berdaya, serta relasi sosial yang setara.

Ia menekankan bahwa remaja dan pemuda merupakan kelompok yang perlu dibekali pemahaman gender sejak dini untuk mencegah ketidakadilan serta membangun pola pikir yang inklusif di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga hingga masyarakat luas.

“Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pengertian kesetaraan gender, perbedaan antara seks biologis dan gender sebagai konstruksi sosial, hingga berbagai bentuk ketidakadilan seperti diskriminasi, stereotip, dan kekerasan berbasis gender,” ujarnya.

Baca Juga:  Hotel Ciputra Semarang Tawarkan “Merdeka Escape”, Liburan Mewah Rayakan 80 Tahun RI

Sementara itu, Tri Mulyani dalam pemaparannya menjelaskan kesetaraan gender dari sudut pandang hukum serta faktor-faktor sosial yang memengaruhinya.

Ia menyoroti pentingnya pemahaman yang komprehensif mengenai perbedaan gender dan seks, pembakuan peran, hingga lingkaran ketidakadilan yang masih terjadi di masyarakat.

“Kesetaraan gender itu ada aturan adat, negara, agama, dan norma sosial. Maka orang harus terus menuntut ilmu dan berpendidikan agar paham, karena ilmu itu cahaya,” kata Tri Mulyani.

Ia menambahkan, semakin luas wawasan seseorang, maka semakin terbuka pula cara pandangnya dalam memahami persoalan sosial, termasuk isu gender dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta dari Komunitas Pijar terlihat aktif mengajukan pertanyaan, terutama terkait penerapan kesetaraan gender dalam konteks agama, budaya lokal, serta upaya mengubah pola pikir patriarki dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Diduga Hanyut Di Sungai Desa Ngabul, Nenek Berusia 65 Tahun Ditemukan Sudah Dalam Kondisi Meninggal

Selain diskusi, peserta juga mengikuti sesi refleksi dengan mengisi survei melalui pemindaian kode QR yang disediakan panitia.

Hasil survei menunjukkan 92 persen atau 23 peserta menyatakan sangat puas terhadap kegiatan tersebut.

Sebagian besar peserta juga menyatakan komitmen untuk tidak membedakan orang lain, menolak praktik diskriminasi, serta lebih menghargai setiap individu secara setara.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang edukasi yang mendorong perubahan pola pikir generasi muda, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam mengedukasi masyarakat mengenai isu jender melalui komunikasi yang inklusif dan partisipatif.***(bgy)