Gen Z Mengejar Hemat, AstraPay Menjadi Sahabat

IMG-20260705-WA0020

Jessica menggunakan AstraPay untuk mengisi token listrik sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari. Kemudahan transaksi digital serta berbagai promo dan cashback membuat AstraPay menjadi pilihan praktis bagi Generasi Z dalam mengelola pengeluaran. (Dok. Istimewa)

Bagikan:

Oleh : Bintang Diega Pratama

SEMARANG (Harianterkini.id) – Suara notifikasi dari ponsel sering kali lebih ampuh menghentikan langkah dibanding panggilan siapa pun.

Terlebih ketika yang muncul adalah tawaran cashback atau diskon besar-besaran. Di tengah derasnya arus belanja digital, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan promo.
Bukan hanya untuk berburu harga murah, tetapi juga sebagai bagian dari kebiasaan dalam mengelola kebutuhan sehari-hari.

Fenomena itu terlihat hampir di mana-mana, mulai dari membeli kopi, membayar transportasi, berbelanja kebutuhan kos, hingga mengisi token listrik, hampir semuanya kini dilakukan melalui aplikasi pembayaran digital.

Promo, cashback, dan poin loyalitas menjadi pertimbangan sebelum tombol “Bayar” ditekan.

Berbagai survei perilaku konsumen menunjukkan lebih dari 60 persen Gen Z di Indonesia memilih berbelanja secara daring karena adanya promo atau potongan harga.

Mereka dikenal sebagai generasi yang sangat adaptif terhadap teknologi, tetapi juga paling sensitif terhadap harga.

Namun di balik stigma bahwa Gen Z gemar berburu diskon dan cenderung konsumtif, terdapat cerita lain yang jarang terlihat.

Tidak sedikit anak muda yang justru memanfaatkan promo sebagai strategi bertahan hidup di tengah meningkatnya biaya hidup, salah satunya adalah Jessica.

Perempuan berusia 22 tahun itu berasal dari Sumatra, sejak diterima di salah satu universitas ternama di Semarang, Jawa Tengah, ia harus belajar hidup mandiri jauh dari keluarga.

Uang kiriman orang tua menjadi satu-satunya sumber pemasukan yang harus dikelola dengan cermat.

Menurut Jessica, ia percaya setiap rupiah punya arti. “Kalau uang habis sebelum akhir bulan, ya itu konsekuensi dari cara kita mengelola uang,” tuturnya, Senin (29/6).

Rutinitasnya nyaris tak berbeda dengan mahasiswa kebanyakan, sejak pagi ia berpindah dari satu ruang kuliah ke ruang lainnya.

Siang hari diisi diskusi dan menyusun tugas kelompok, sementara malam menjadi waktu untuk menuntaskan laporan serta mempersiapkan presentasi.

Aktivitas yang padat membuat sebagian besar harinya dihabiskan di luar kamar kos, yang hanya menjadi tempat singgah sejenak sebelum kembali memulai kesibukan esok hari.

Baca Juga:  XLSMART Buka Program Pre-Order iPhone17 dengan Penawaran Eksklusif myPRIO DEAL, Didukung eSIM

Di sela-sela rutinitas kuliah yang padat, ada satu perubahan kecil yang terjadi dalam keseharian Jessica. Ia nyaris tak lagi membawa uang tunai.
Dompetnya kini lebih sering berisi kartu identitas, sementara hampir seluruh transaksi mulai dari membeli makan, membayar ongkos transportasi, hingga berbelanja kebutuhan harian, diselesaikan melalui aplikasi pembayaran digital.

Baginya, ponsel telah menjadi dompet utama yang selalu menemaninya ke mana pun.

Penggunaan uang elektronik bukan sekadar mengikuti tren, ada alasan yang jauh lebih sederhana dan semuanya terasa lebih praktis, lebih aman, dan yang terpenting, membantunya mengontrol pengeluaran.

Dengan setiap transaksi yang otomatis tercatat, ia bisa lebih mudah mengetahui ke mana uangnya pergi dan memastikan pengeluaran tetap sesuai anggaran.

“Kalau pakai aplikasi, semua transaksi tercatat. Saya jadi tahu uang keluar buat apa saja. Itu membantu supaya tidak kebablasan belanja,” ujarnya.

Di antara beberapa aplikasi pembayaran digital yang digunakan, AstraPay menjadi salah satu yang paling sering menemaninya beraktivitas.

Aplikasi uang elektronik milik PT Astra Digital Arta (Grup Astra) itu digunakan hampir setiap hari.

Mulai menerima kiriman uang dari orang tua, membayar makan siang menggunakan QRIS, membeli kebutuhan sehari-hari, hingga berbelanja perlengkapan kosmetik.

Namun ada satu transaksi yang hampir selalu ia lakukan setiap minggu, yaitu membeli token listrik untuk kamar kos.

Sebagai mahasiswa rantau, listrik bukan hanya soal kebutuhan saja, melainkan penentu kenyamanan saat belajar hingga larut malam.

Karena itu Jessica tidak pernah membiarkan saldo token listriknya habis, setiap kali mengisi token, ia hampir selalu membuka AstraPay.

Bukan hanya karena prosesnya cepat, tetapi juga karena sering tersedia promo maupun cashback yang bisa dimanfaatkan.

“Kalau memang harus beli listrik, sekalian cari yang ada promo. Lumayan, nanti poinnya juga bisa dipakai lagi,” katanya.

Nominal cashback yang diperoleh memang tidak selalu besar, tetapi untuk Jessica penghematan tidak selalu diukur dari besarnya angka.

Baca Juga:  ‎Event Megawati Run Di Semarang Banjir Hadiah, Buruan Daftar...!!!

Sedikit demi sedikit, cashback dan poin yang terkumpul mampu mengurangi pengeluaran bulanannya.

Bahkan ia mengaku sengaja menunggu waktu-waktu tertentu ketika promo sedang berlangsung untuk membeli kebutuhan yang memang sudah direncanakan.

Bukan membeli karena lapar mata, melainkan membeli ketika memang diperlukan.

“Kuncinya jangan karena ada promo terus jadi beli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan,” ujarnya.

Kebiasaan itu perlahan membentuk pola pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, jessica mulai membuat daftar kebutuhan bulanan.

Ia membiasakan diri mencatat setiap pengeluaran, menetapkan batas belanja, serta memanfaatkan poin loyalitas untuk transaksi berikutnya.

Kebiasaan sederhana itu membuat pengeluarannya tetap terkendali, sehingga sebagian uang kiriman dari orang tua masih bisa disisihkan sebagai tabungan.

Baginya, pepatah lama “menabung pangkal kaya” tetap relevan, hanya caranya yang berubah mengikuti perkembangan zaman.

Jika dulu menabung identik dengan celengan atau buku tabungan, kini disiplin mengelola keuangan bisa dimulai dari riwayat transaksi dalam aplikasi digital.

Fenomena seperti yang dialami Jessica menunjukkan perubahan perilaku konsumen muda Indonesia.

Digitalisasi ternyata tidak hanya mengubah cara orang membayar, tetapi juga mengubah cara mereka mengambil keputusan finansial.

Promo bukan lagi sebagai alat pemasaran, namun bagi sebagian anak muda promo menjadi instrumen untuk menghemat. Perubahan perilaku tersebut juga tercermin dalam pertumbuhan industri pembayaran digital nasional.

CEO AstraPay, Rina Apriana, mengatakan memasuki tahun keenam operasionalnya, AstraPay telah digunakan oleh lebih dari 17,5 juta pengguna dengan jumlah transaksi melampaui 90 juta transaksi setiap tahun.

Menurutnya, peningkatan transaksi tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta.
Di sejumlah wilayah juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan nasional.

“Kalau kita lihat secara nasional, kemudian bergeser ke Jawa Timur, memang kontribusi Malang dan Jawa Timur sendiri terhadap total AstraPay nasional cukup signifikan, sekitar 20 sampai 30 persen,” ujarnya, belum lama ini.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan pembayaran digital semakin diterima masyarakat sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Baca Juga:  Jaksa Prestasi Dr. Sugeng Riyanta Resmi Jabat Wakajati Jateng, Ini Profilnya

Tidak hanya untuk berbelanja di pusat perbelanjaan modern, tetapi juga digunakan di toko kelontong, warung makan, hingga berbagai pelaku usaha mikro.

Memasuki tahun 2026, AstraPay memilih fokus memperkuat penetrasi pasar sekaligus meningkatkan jumlah transaksi digital.

Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperluas kerja sama dengan lebih banyak pelaku UMKM agar mereka dapat menerima pembayaran melalui QRIS AstraPay.

“Jadi kita masuk, kemudian stabilisasi, mantapkan, lalu kembangkan lagi. Bersama tim SRC kami ingin menjangkau lebih banyak UMKM agar menggunakan QRIS AstraPay maupun soundbox untuk mendukung transaksi digital,” jelas Rina.

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak hanya menyentuh sisi konsumen, tetapi juga membantu mempercepat digitalisasi sektor usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

Bagi Jessica, perkembangan itu mungkin terasa jauh dari kehidupan kampusnya dan tanpa disadari, ia merupakan bagian dari perubahan tersebut.

Setiap kali memindai kode QR untuk membayar makan siang, membeli token listrik, atau menukarkan poin menjadi potongan harga, tanpa disadari ia sedang membangun kebiasaan finansial baru.

Bukan sekadar bertransaksi, tetapi belajar mengelola pengeluaran dengan lebih cermat, memanfaatkan setiap kesempatan untuk berhemat, dan menjadikan efisiensi sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Pada akhirnya, kisah Jessica membuktikan bahwa Generasi Z tidak selalu identik dengan gaya hidup impulsif.

Di balik kegemaran mereka berburu promo, tersimpan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi sekaligus kesadaran untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak.

Promo memang tetap menjadi daya tarik, namun bagi generasi digital, nilai sebenarnya bukan terletak pada besarnya diskon yang diperoleh.

Melainkan pada kemampuan mengubah setiap promo menjadi peluang untuk berhemat, mengatur pengeluaran, dan menjaga kondisi keuangan tetap sehat.

Di era ekonomi digital, menabung tidak selalu dimulai dari memasukkan uang ke dalam celengan.

Kadang, ia justru dimulai dari satu keputusan sederhana saat memilih aplikasi pembayaran yang mampu membantu setiap rupiah bekerja lebih cerdas.***