Alunan Gamelan di Balik Tembok Lapas Semarang, Warga Binaan Asah Bakat dan Belajar Menempa Diri
SEMARANG, (Harianterkini.id) – Alunan suara gamelan terdengar syahdu dari Graha Pancasila Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang, Kamis (20/8/2026) pagi. Di tengah suasana pembinaan di balik tembok pemasyarakatan, sembilan warga binaan tampak serius mengikuti setiap ketukan instrumen yang dimainkan.
Bukan sekadar memainkan alat musik tradisional Jawa, kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian yang dirancang untuk memberikan ruang bagi warga binaan dalam mengembangkan bakat, melatih kedisiplinan, sekaligus membangun ketenangan diri.
Latihan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Sembilan warga binaan mengikuti arahan secara langsung dari dalang sekaligus seniman karawitan, Ki Kusni Kesdik.
Mereka didampingi jajaran staf Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemasy) Lapas Kelas I Semarang.
Satu per satu peserta mempelajari teknik dasar memainkan instrumen gamelan. Mereka dilatih mengenali ketukan, menjaga tempo, hingga menyatukan irama dengan pemain lainnya.
Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. Setiap pemain dituntut tidak hanya mampu memainkan instrumennya sendiri, tetapi juga harus mendengarkan dan menyesuaikan diri dengan pemain lain agar tercipta harmoni.
Suasana latihan pun berlangsung serius namun penuh kekhidmatan. Sesekali arahan dari sang pelatih terdengar di antara dentingan perunggu yang mengisi ruangan.
Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, mengatakan seni karawitan dipilih sebagai salah satu kegiatan pembinaan karena memiliki nilai filosofis yang erat dengan proses pembentukan karakter.
Menurutnya, karawitan mengajarkan banyak hal yang relevan dengan kehidupan, mulai dari kedisiplinan, kesabaran, kemampuan mengendalikan diri hingga pentingnya menjaga keselarasan dengan orang lain.
“Seni karawitan bukan sekadar membunyikan instrumen, melainkan proses menempa kedisiplinan, kesabaran, dan keselarasan jiwa. Kami ingin pembinaan berbasis budaya ini membentuk karakter warga binaan agar lebih matang, tertib, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat,” tegas Ahmad Tohari.
Bagi warga binaan yang mengikuti latihan, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman berbeda dalam menjalani masa pembinaan.
Salah seorang warga binaan mengaku latihan karawitan memberikan dampak positif terhadap kondisi pikiran.
Di tengah rutinitas kehidupan di dalam lapas, memainkan gamelan menjadi salah satu cara untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif.
“Latihan ini sangat membantu menenangkan pikiran. Ada rasa bangga tersendiri karena kami bisa mengisi waktu dengan kegiatan yang melestarikan seni dan budaya sendiri,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar aktivitas seni, latihan karawitan menjadi ruang bagi warga binaan untuk belajar tentang kebersamaan.
Tidak ada satu instrumen yang dapat berdiri sendiri. Setiap bunyi harus ditempatkan pada ketukan dan irama yang tepat agar menghasilkan sebuah komposisi yang harmonis.
Nilai itulah yang kemudian diharapkan dapat dibawa para warga binaan dalam kehidupan setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Melalui pembinaan berbasis seni dan budaya, Lapas Kelas I Semarang berupaya menghadirkan proses pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga pembentukan kepribadian.
Denting gamelan yang bergema di Graha Pancasila menjadi gambaran bahwa proses pembinaan dapat berlangsung melalui banyak cara.
Di balik tembok lapas, para warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, mengembangkan potensi, sekaligus ikut menjaga warisan budaya bangsa.
Sebab, sebagaimana harmoni dalam sebuah pertunjukan karawitan, perubahan dalam diri juga membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan untuk berjalan bersama menuju kehidupan yang lebih baik.***
