Bebas Lewat Cuti Bersyarat, Bayu Pulang Bawa Bekal Mengaji dan Keterampilan
SEMARANG, (Harianterkini.id) – Senyum lega menghiasi wajah Bayu Mulya Permadi saat akhirnya melangkah keluar dari gerbang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Setelah menjalani masa pidana akibat kasus penyalahgunaan narkotika, warga binaan pemasyarakatan (WBP) tersebut kini kembali ke tengah masyarakat melalui program Cuti Bersyarat (CB).
Namun, kepulangan Bayu Mulya kali ini bukan sekadar tentang bebas dari balik jeruji. Ia membawa bekal perubahan yang diperolehnya selama menjalani proses pembinaan di dalam lapas.
Salah satunya adalah keberhasilannya menyelesaikan Program Pembinaan Keagamaan Smart Pesantren tingkat Marhalah Wustha atau kelas menengah.
Berdasarkan penilaian Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana (SPPN), Bayu Mulya berhasil memperoleh predikat Kategori Baik dengan nilai 7,5 dari skala 10.
Di tengah masa pidananya, ia juga aktif mengikuti program pembinaan kemandirian. Bayu Mulya mengasah keterampilan melalui kegiatan di greenhouse hingga area peternakan lele yang menjadi bagian dari program pembekalan bagi warga binaan.
Bagi Bayu, berbagai program tersebut menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Selama di sini, saya telah mengikuti program Smart Pesantren dari Bapak Kalapas kelas menengah, dan saya juga melakukan pembinaan program kemandirian di greenhouse peternakan lele,” tutur Bayu Mulya.
Dari Belum Bisa Mengaji hingga Mampu Membaca Iqra
Salah satu perubahan paling berkesan bagi Bayu adalah perjalanan spiritual yang ia jalani selama berada di lapas.
Sebelum mengikuti pembinaan keagamaan, ia mengaku belum mampu membaca Al-Qur’an.
Namun, proses belajar yang dijalaninya secara bertahap membuatnya kini mampu membaca hingga Iqra 6 dan mempraktikkan salat lima waktu.
Perubahan tersebut menjadi bekal penting baginya untuk menjalani kehidupan setelah kembali ke rumah.
“Terima kasih Bapak Kalapas atas program yang telah diberikan. Sebelumnya saya belum bisa baca Al-Qur’an, dan sekarang saya sudah bisa membaca Iqra 6, dan saya sudah melakukan praktik sholat 5 waktu,” ungkapnya.
Bayu pun telah menyiapkan rencana setelah mendapatkan Cuti Bersyarat. Ia ingin kembali bekerja, menjalani berbagai kegiatan positif, serta meneruskan kebiasaan mengaji yang telah dipelajarinya selama menjalani pembinaan.
“Nanti setelah di rumah, rencananya saya mau bekerja, terus mengikuti kegiatan positif, Pak. Tetap lanjut mengaji dan menjadi lebih baik, tetap menjalankan pembinaan yang ada di sini,” katanya.
Diharapkan Tak Mengulangi Kesalahan
Komitmen Bayu tersebut mendapat perhatian dari Kepala Lapas, Ahmad Tohari. Ia berharap bekal keagamaan dan keterampilan yang telah diperoleh Bayu tidak berhenti setelah dirinya meninggalkan lapas.
Ahmad meminta Bayu untuk menjaga konsistensi dan menjadikan pengalaman selama menjalani pidana sebagai pelajaran untuk menata kehidupan yang lebih baik.
“Saya berharap Saudara Bayu Mulya bisa konsisten menjaga nilai-nilai keagamaan dan keterampilan yang sudah didapat di sini. Jangan sampai terjerumus kembali pada kesalahan yang sama,” ujar Ahmad Tohari.
Menurutnya, pembinaan di dalam pemasyarakatan harus mampu menjadi bekal bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Karena itu, Lapas akan terus memperkuat program pembinaan keagamaan melalui Smart Pesantren maupun pembinaan kemandirian agar semakin banyak warga binaan memiliki keterampilan dan kesiapan untuk menjalani kehidupan setelah bebas.
“Ke depannya, kami di Lapas juga akan terus memperkuat program Smart Pesantren dan pembinaan kemandirian ini agar makin banyak warga binaan yang siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi baru yang bermanfaat,” tuturnya.
Kisah Bayu menjadi gambaran bahwa proses pemasyarakatan tidak semata-mata berbicara tentang menjalani hukuman.
Di balik tembok lapas, terdapat proses panjang untuk membentuk kembali karakter, memberikan keterampilan, serta menumbuhkan kesadaran agar warga binaan mampu menatap masa depan.
Kini, ketika pintu gerbang lapas terbuka dan langkah Bayu kembali menuju kehidupan di luar, ia membawa sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kebebasan, bekal ilmu agama, keterampilan, dan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu.
Harapannya, perubahan tersebut menjadi awal perjalanan baru bagi Bayu untuk kembali diterima masyarakat dan menjalani kehidupan sebagai pribadi yang lebih mandiri serta bermanfaat.***
