Wali Kota Semarang: Wayang Sudah Menjadi Napas Kota Semarang

InShot_20260917_224048960
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan komitmennya untuk menjaga seni wayang tetap hidup dan dekat dengan masyarakat melalui berbagai ruang budaya yang terbuka bagi warga.

Hal tersebut disampaikan Agustina saat menyaksikan pertunjukan Wayang On The Street dalam rangkaian Festival Kota Lama 2026 di kawasan Kota Lama Semarang, Minggu (13/9/2026) malam.

Menurut Agustina, wayang bukan sekadar seni pertunjukan atau tontonan masyarakat. Lebih dari itu, wayang merupakan bagian dari identitas dan kehidupan budaya masyarakat Kota Semarang.

“Karena kita sebagai masyarakat sangat menghargai wayang, menjadikan wayang adalah bagian dari napas hidup kita,” kata Agustina.

Ia menilai konsep Wayang On The Street memiliki daya tarik tersendiri karena membawa kesenian tradisional keluar dari ruang pertunjukan konvensional dan langsung hadir di tengah masyarakat.

Antusiasme warga yang memenuhi kawasan pertunjukan, bahkan sebagian menyaksikan tanpa tempat duduk, dinilai menjadi bukti bahwa seni tradisi masih mendapatkan tempat di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Gets Premiere Semarang Hadirkan Paket Early Bird untuk Perayaan Natal dan Tahun Baru

“Wayang on the Street ini menjadi ikonik dan jika ini menjadi sesuatu yang terus-menerus dilakukan di waktu tertentu maka akan menjadi momen yang ditunggu,” ujarnya.

Agustina mengatakan, pelestarian wayang juga harus berjalan beriringan dengan kemampuan Kota Semarang dalam mengharmonikan beragam budaya yang berkembang di masyarakat.

Namun, proses akulturasi tersebut menurutnya tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budayanya.

“Budaya asli kita tetap harus kita pelajari supaya proses harmoninya itu semakin lama tidak memudarkan budaya kita sebagai masyarakat Jawa di Kota Semarang,” tegasnya.

Ia mencontohkan Warak Ngendog yang selama ini menjadi salah satu simbol akulturasi budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa di Kota Semarang.

Baca Juga:  Dr. (Hc) Joko Susanto Sukses Selesaikan Diklat Paralegal, Siap Berkontribusi dalam Menyelesaikan Sengketa Warga

Menurut Agustina, keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan identitas Kota Semarang. Karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan dengan tetap memahami akar tradisi sekaligus memberikan ruang bagi budaya untuk berkembang.

Selain memperkuat identitas kota, pelestarian budaya juga dinilai memiliki kaitan erat dengan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

Festival Kota Lama yang menghadirkan beragam pertunjukan budaya, termasuk Wayang On The Street, dinilai mampu menarik wisatawan sekaligus menghidupkan aktivitas perdagangan di kawasan sekitar.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, perputaran ekonomi masyarakat seperti pelaku UMKM, pedagang, pekerja kreatif, hingga sektor jasa juga diharapkan ikut tumbuh.

Agustina juga menyinggung pengalaman Wayang Orang Ngesti Pandowo yang pernah tampil di Rotterdam, Belanda. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seni tradisi dari Kota Semarang memiliki potensi untuk dikenal hingga tingkat internasional.

Capaian tersebut, kata dia, perlu dilanjutkan melalui kebijakan yang konsisten serta dukungan berbagai pihak agar keberadaan seni tradisi tetap terjaga dan berkembang.

Baca Juga:  Sport Center Pekanbaru Diresmikan, Pj Walikota Buka Kejurnas PPLP dan SKO 2023

Di sisi lain, Agustina mengapresiasi keterlibatan generasi muda dan komunitas dalam berbagai kegiatan pelestarian wayang.

Menurutnya, regenerasi menjadi salah satu kunci keberlanjutan budaya. Wayang tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus diberi ruang untuk hadir dalam kehidupan masyarakat masa kini.

“Biarkan wayang membawa cerita, Kota Lama membawa suasana, dan Kota Semarang memberi pengalaman yang akan dibawa pulang oleh setiap tamu yang datang,” kata Agustina.

Melalui Wayang On The Street, Agustina berharap budaya tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan.

Seni tradisi diharapkan dapat menjadi bagian dari pengalaman kota yang dinikmati masyarakat sekaligus memperkuat identitas Semarang sebagai kota yang terbuka, berbudaya, dan mampu mengharmonikan keberagaman.***