Di Balik Gemerlap Medali Porprov 2026, Ada Peran Muhammad Cholil Adib Menjaga Kondisi Fisik Atlet

InShot_20261031_201150933
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Perjuangan atlet meraih prestasi dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 tidak hanya berlangsung di arena pertandingan.

Di balik persaingan memperebutkan medali, ada sosok-sosok yang bekerja untuk memastikan kondisi fisik atlet tetap terjaga.

Salah satunya adalah Muhammad Cholil Adib, terapis Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Semarang.

Di tengah padatnya jadwal pertandingan, Cholil menjalankan tugas membantu pemulihan fisik atlet, mulai dari mengatasi ketegangan otot hingga memeriksa berbagai keluhan yang muncul setelah menjalani aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi.

Selama pelaksanaan Porprov XVII Jawa Tengah 2026, Cholil mendapat penugasan di kompleks kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Ia bertanggung jawab menangani kebutuhan pemulihan atlet dari dua cabang olahraga, yakni softball dan senam.

Pekerjaan tersebut menuntut ketelitian dan pemahaman terhadap kondisi fisik setiap atlet. Sebab, keluhan yang terlihat sederhana belum tentu dapat ditangani dengan cara yang sama. Pemeriksaan awal menjadi langkah penting sebelum menentukan tindakan pemulihan.

Menurut Cholil, dukungan tenaga terapis selama Porprov dilakukan melalui penyebaran personel di sejumlah lokasi pertandingan, baik di Kota Semarang maupun daerah lain di wilayah Karesidenan Semarang.

“Ada sekitar 20 tim yang disebar di beberapa venue di Kota Semarang maupun di luar Kota Semarang se-Karesidenan Semarang,” ujar Cholil, Senin (26/10/2026).

Khusus di kompleks Unnes, ia menjadi satu-satunya personel yang menangani kebutuhan pemulihan atlet softball dan senam.

“Kalau di Unnes sendiri ada satu personel. Saya sendiri yang menangani di softball sama senam,” katanya.

Meski sama-sama membutuhkan kesiapan fisik, kedua cabang olahraga tersebut memiliki karakteristik dan tantangan berbeda.

Atlet senam, misalnya, dinilai telah memiliki persiapan cukup matang melalui program latihan dan pemusatan latihan (TC) sebelum pertandingan.

Baca Juga:  Koperasi Merah Putih di Jawa Tengah Tuai Pujian Menko Pangan Zulhas

Sementara itu, atlet softball menghadapi tantangan tersendiri akibat kondisi cuaca panas yang dapat memengaruhi kebugaran selama bertanding.

“Kalau kendala di senam minim cedera tiba-tiba karena sudah terkondisikan, dengan posisi TC-nya sudah matang,” ungkapnya.

Sebaliknya, kondisi di lapangan softball membutuhkan perhatian lebih. Paparan panas selama pertandingan dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan membuat otot lebih cepat mengalami ketegangan.

“Kalau kendala di softball, cuaca panas sekali, otot cepat tegang, dehidrasi. Kondisi cuaca seperti ini itu butuh tenaga ekstra,” jelas Cholil.

Situasi tersebut membuat pemantauan kondisi atlet menjadi bagian penting dari proses pertandingan. Kecukupan cairan, pengaturan waktu istirahat, serta kesiapan otot sebelum dan sesudah bertanding perlu diperhatikan agar atlet mampu mempertahankan performanya.

Pemanasan dan Istirahat Jadi Kunci Mencegah Cedera

Bagi Cholil, menjaga kondisi tubuh atlet tidak cukup dilakukan ketika keluhan atau rasa sakit mulai muncul. Upaya pencegahan justru harus dimulai sebelum atlet memasuki arena pertandingan.

Pemanasan, pendinginan, serta pola istirahat yang teratur menjadi bagian penting untuk membantu tubuh menghadapi aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi.

“Diperbanyak pemanasannya, dikondisikan, sama pendinginannya, sama pola istirahatnya,” pesannya.

Ia menilai, persiapan tersebut perlu dilakukan secara konsisten, terlebih dalam kompetisi seperti Porprov yang memiliki jadwal pertandingan cukup padat.

Atlet terkadang harus kembali bertanding setelah menjalani aktivitas fisik yang menguras tenaga pada hari sebelumnya.

Karena itu, pemulihan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persiapan menghadapi pertandingan berikutnya.

Tidak Semua Cedera Bisa Ditangani dengan Cara yang Sama

Dalam menjalankan tugasnya, Cholil juga menghadapi beragam keluhan fisik atlet. Mulai dari otot yang mengalami ketegangan hingga gangguan pada bagian punggung dan pinggang yang dapat memengaruhi kemampuan bergerak.

Baca Juga:  Sebagai Ajang Prestasi Generasi Muda dan Perangi Narkoba, Turnamen Siji Futsal Competition Bersinar 2025 Sukses Digelar

Ia menjelaskan, keluhan pada area punggung bawah dapat berdampak terhadap kenyamanan pergerakan hingga bagian kaki. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian khusus karena bisa mengganggu kemampuan atlet untuk berjalan maupun melakukan gerakan olahraga.

“Betul. Memang jadi ada tekanan, sel punggung dibantu jalan L5 sampai ke tulang ekornya ketarik. Jadi ke kaki tidak bisa untuk berjalan enak, untuk pertandingan berlanjut itu ya sakit atletnya. Jadi pinggangnya harus nyaman lagi,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan terhadap keluhan semacam itu harus didahului dengan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Apabila ditemukan indikasi cedera serius, atlet perlu mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut.

Cholil menegaskan, cedera ringan dan cedera berat tidak bisa disamakan dalam proses penanganannya.

“Ketika masih cedera yang masih ringan, masih bisa tertangani dengan bagus. Tapi kalau cederanya sudah parah, ada tindakan lanjut,” katanya.

Prinsip tersebut menjadi penting karena keinginan atlet untuk segera kembali bertanding terkadang cukup besar.

Namun, kondisi tubuh tetap harus menjadi pertimbangan utama sebelum mereka kembali menjalani aktivitas dengan intensitas tinggi.

Pemijatan Tidak Boleh Dilakukan Sembarangan

Hal lain yang menjadi perhatian Cholil adalah anggapan bahwa setiap bagian tubuh yang terasa sakit dapat langsung dipijat agar kembali nyaman.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak selalu tepat. Terapis perlu mengidentifikasi terlebih dahulu bagian tubuh yang mengalami keluhan serta memastikan jenis penanganan yang sesuai.

“Melihat kondisinya. Jadi dinyamankan dulu baru diidentifikasi masalahnya di mana, yang sakitnya di mana, itu aja. Ketika kondisinya memang enggak boleh,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa peregangan atau stretching dapat menjadi bagian dari penanganan sesuai kondisi atlet.

“Harus ada yang namanya di-stretching dulu. Ditarik dulu ototnya, baru ketika sudah stabil, sudah tidak bertanding, baru boleh ditangani meso,” tuturnya.

Baca Juga:  Geger! Rumah Irjen Pol Sofyan di Puri Anjasmoro Roboh, 7 Tahun Menunggu Kepastian Hukum

Meski demikian, tindakan peregangan maupun pemijatan tidak boleh dipaksakan apabila terdapat dugaan cedera berat. Pemeriksaan medis harus diprioritaskan, terutama ketika atlet mengalami rasa sakit hebat, kesulitan berjalan, atau keluhan yang menjalar hingga kaki.

Dengan demikian, penanganan tidak hanya berorientasi pada berkurangnya rasa sakit, tetapi juga memastikan kondisi atlet aman untuk kembali beraktivitas.

Pemulihan Bukan Sekadar Menghilangkan Rasa Sakit

Dalam proses pemulihan, Cholil menjelaskan bahwa penanganan dapat diarahkan pada bagian tubuh yang mengalami keluhan setelah dilakukan identifikasi.

Pendekatan tersebut bertujuan membantu mengurangi gangguan otot sehingga atlet dapat kembali menjalankan aktivitas sesuai kondisi fisiknya.

“Langsung pada titiknya, supaya cepat recovery-nya lebih. Jadi besok ketika ada pertandingan lagi lebih bisa main,” ujarnya.

Namun, ia menekankan bahwa setiap tindakan tetap harus mempertimbangkan penyebab dan tingkat keluhan yang dialami atlet. Tidak semua rasa sakit dapat diselesaikan dengan penanganan pada bagian otot yang terasa nyeri.

Apabila ditemukan indikasi cedera yang lebih serius, diperlukan pemeriksaan serta tindak lanjut oleh tenaga medis yang kompeten.

Bagi Cholil, tugas sebagai terapis dalam ajang Porprov bukan sekadar membantu atlet mengurangi rasa sakit setelah bertanding.

Lebih dari itu, ia turut mendukung kesiapan fisik para atlet agar dapat menjalani kompetisi dengan kondisi yang terjaga.

Di balik sorak-sorai penonton dan perjuangan atlet mengejar medali, ada pekerjaan yang berlangsung tanpa banyak sorotan.

Peran tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar perjuangan para atlet di Porprov XVII Jawa Tengah 2026 tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga tetap memperhatikan keselamatan dan kesehatan tubuh mereka.***