Bagian Dari Program Gumregah, Wali Kota Semarang Hadiri Panen Perdana Budidaya Magot di Kelurahan Jabungan

InShot_20250916_010821117
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menghadiri panen perdana budidaya maggot di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik pada Sabtu, 13 September 2025 lalu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program GUMREGAH (Gerakan Terpadu Masyarakat Mengelola Sampah) yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang mengapresiasi inovasi yang dilakukan warga Jabungan.

“Ini adalah terobosan nyata dan solusi strategis untuk mengatasi masalah sampah organik di kota kita. Mengingat lebih dari 60% sampah di TPA Jatibarang adalah limbah organik, maka kehadiran program seperti ini sangat vital,” ujar Agustina

Baca Juga:  Tim Abdimas FE USM Dorong Forum UMKM Karangawen Terapkan 'Melek' Pencatatan Cash Flow

Budidaya maggot yang telah dimulai sejak 1 Agustus 2025 ini menunjukkan hasil yang signifikan.

Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, lokasi budidaya di Jabungan telah mampu menghasilkan 100 kg maggot per hari, sekaligus menghabiskan 1 hingga 2 ton sampah organik setiap harinya.

Lebih dari sekadar mengelola sampah, program ini juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga:  Upacara HUT ke-479, Wali Kota Semarang Dorong Pembangunan Inklusif dan Merata

Hasil panen maggot akan dimanfaatkan sebagai pakan bernutrisi tinggi untuk ternak, hingga pupuk organik (kasgot) bagi petani kangkung, cabai, dan tomat.

Semua kegiatan ini dilakukan di lahan “Banyumanik Berdaya” dan dikelola oleh warga setempat.

“Binatang peliharaan (ternak) apa yang akan memiliki nilai ekonomi tinggi jika makan maggot? Ayam, lele, dan bebek. Ya nanti tahun 2026 kita akan turunkan percobaan menggabungkan antara usaha rumah maggot dengan usaha peternakan,” jelas Agustina.

Baca Juga:  PSO KA Kedungsepur, Wujud Komitmen KAI untuk Transportasi Terjangkau dan Berkualitas

Agustina berharap, keberhasilan program di Jabungan ini dapat menginspirasi kelurahan-kelurahan lain di Semarang untuk menerapkan hal serupa.

Karena komitmen jangka panjang Pemerintah Kota Semarang terhadap Program Semarang Bersih perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Dari sampah yang tadinya menjadi masalah, kini lahir solusi yang memberi nilai tambah secara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Inilah ekonomi sirkular, dari sampah berputar kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat,” tutup Agustina.***

Sumber Berita : Humas Pemkot Semarang