Kedaulatan Rasa Jadi Kunci Perempuan Berkemajuan Raih Kebahagiaan Tanpa Syarat

InShot_20260420_000503787
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Konsep “kedaulatan rasa” dinilai menjadi fondasi penting bagi perempuan berkemajuan dalam menjalani kehidupan di tengah derasnya tuntutan era digital.

Gagasan ini disampaikan oleh Dr. Ngurah Ayu Nyoman Murniati yang menyoroti pentingnya kemandirian emosional sebagai penentu kualitas hidup perempuan masa kini.

Menurutnya, selama ini perempuan berkemajuan kerap diidentikkan dengan capaian yang tampak di permukaan, seperti karier cemerlang, pendidikan tinggi, atau pengaruh di media sosial.

Namun, di balik itu, ada aspek mendasar yang sering terabaikan, yakni kemampuan mengelola rasa dan menentukan kebahagiaan secara mandiri.

“Kedaulatan rasa adalah kondisi ketika perempuan memiliki kontrol penuh atas kebahagiaannya sendiri, tanpa bergantung pada validasi eksternal,” ujarnya.

Baca Juga:  Urbanisasi, Mohammad Agung Ridlo : "Ketimpangan Desa dan Kota Picu Permukiman Kumuh"

Ia menjelaskan, narasi sosial yang berkembang selama ini cenderung menempatkan kebahagiaan perempuan sebagai sesuatu yang bergantung pada faktor luar, seperti keberhasilan anak, pengakuan pasangan, hingga apresiasi lingkungan.

Pola pikir ini, menurutnya, membuat kebahagiaan menjadi bersifat transaksional.

Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang telah sukses secara karier dan finansial justru tetap merasakan kehampaan.

Hal tersebut terjadi karena kebahagiaan mereka bergantung pada terpenuhinya ekspektasi tertentu.

“Jika apresiasi tidak datang atau standar tidak tercapai, kebahagiaan ikut hilang. Ini yang perlu diputus,” tegasnya.

Dalam konteks ini, kedaulatan rasa menjadi bentuk kemandirian emosional, di mana perempuan mampu memutus ketergantungan terhadap penilaian eksternal.

Ia menilai, kemampuan untuk merasa cukup dan memilih bahagia di tengah ketidaksempurnaan merupakan langkah penting yang bersifat “revolusioner”.

Baca Juga:  Tim SAR Gabungan Berhasil Menemukan Seorang Pendaki yang Hilang di Gunung Slamet

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemajuan intelektual perlu berjalan seiring dengan kematangan emosional.

Perempuan berkemajuan dituntut memiliki kemampuan menyaring berbagai standar yang muncul di era informasi, mulai dari standar kecantikan, pola asuh, hingga definisi kesuksesan.

Tanpa kemampuan tersebut, perempuan berisiko mengalami kelelahan emosional akibat tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang kerap saling bertentangan.

“Kedaulatan rasa berfungsi sebagai filter emosional agar perempuan tetap tenang dan tidak terombang-ambing oleh tekanan sosial,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa martabat perempuan berkemajuan tercermin dari kemandirian emosionalnya.

Perempuan yang berdaulat secara rasa tidak lagi bergantung pada pengakuan atau perhatian untuk merasa berharga, namun tetap mampu menjalin hubungan sosial yang sehat dan tulus.

Baca Juga:  Jelang Asesmen Lapangan Akreditasi Perguruan Tinggi, USM Siapkan Inovasi Ramah Energi

Dalam kehidupan sosial, kedaulatan rasa dinilai dapat mengurangi potensi konflik, terutama yang bersumber dari ekspektasi berlebihan terhadap orang lain sebagai sumber kebahagiaan.

Sebaliknya, perempuan yang telah “selesai dengan dirinya” akan berkontribusi kepada lingkungan secara lebih autentik, bukan demi pengakuan, melainkan sebagai bentuk berbagi kebahagiaan yang berasal dari dalam diri.

“Perempuan yang bahagia tanpa syarat tidak lagi membebani orang lain untuk memenuhi kebahagiaannya. Dari situ, hubungan menjadi lebih sehat dan harmonis,” pungkasnya.

Konsep ini menegaskan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil akhir dari pencapaian, melainkan fondasi yang justru mendorong seseorang untuk mencapai berbagai hal dalam hidupnya.***(bgy)