Hari Lahir Pancasila 2026, Akademisi UPGRIS Soroti Tantangan Modernitas bagi Generasi Muda

InShot_20260603_013249538
Bagikan:

Oleh: Dr. Nan Murniati, M.Pd., Dosen Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), bidang keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan.

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus modernitas, perkembangan teknologi digital, dan globalisasi yang terus mengubah kehidupan masyarakat.

Dosen Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr. Nan Murniati, M.Pd., menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di ruang digital.

Menurutnya, era modern ditandai dengan perubahan sosial yang sangat cepat sehingga berpotensi mengikis identitas, nilai-nilai budaya, dan karakter kebangsaan generasi muda.

“Dunia saat ini bergerak dengan kecepatan luar biasa. Generasi muda memiliki akses tanpa batas terhadap pengetahuan, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi ancaman berupa banjir informasi, individualisme, polarisasi sosial, hingga krisis moral di ruang digital,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut sejalan dengan konsep liquid modernity atau modernitas cair yang diperkenalkan sosiolog Zygmunt Bauman, yakni situasi ketika nilai dan struktur sosial berubah begitu cepat sehingga sulit menjadi fondasi kehidupan yang kokoh.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Ajak Seluruh Camat Dan ASN Jaga Netralitas Pilkada 2024

Dalam situasi tersebut, kata Nan Murniati, Pancasila harus dipahami bukan sekadar sebagai simbol atau dokumen sejarah, melainkan sebagai pedoman moral dan ideologis yang relevan dengan tantangan zaman.

“Pancasila harus menjadi jangkar yang menjaga arah kehidupan generasi muda agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya perubahan global,” katanya.

Ia menilai modernitas memang menawarkan berbagai kemudahan, namun juga memunculkan persoalan baru seperti menurunnya empati sosial, budaya konsumtif, serta meningkatnya polarisasi akibat penggunaan media sosial yang tidak sehat.

Menurutnya, algoritma media sosial sering kali menciptakan ruang gema (echo chamber) yang memperkuat kelompok tertentu dan memperbesar konflik akibat perbedaan pandangan.

Karena itu, setiap sila dalam Pancasila perlu dimaknai secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan generasi masa kini.

Sila pertama, lanjutnya, dapat menjadi landasan spiritual yang memperkuat kesehatan mental dan kesadaran moral di tengah kehidupan yang semakin materialistis.

Sementara sila kedua menjadi pengingat pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia di era kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Baca Juga:  Pentingnya Reformasi Kepegawaian Jaksa untuk Penegakan Hukum yang Lebih Baik: Pelajaran dari Korea Selatan

“Sikap beradab pada era digital dapat diwujudkan dengan menolak perundungan siber, menghormati hak asasi manusia, dan menggunakan teknologi untuk membantu sesama,” jelasnya.

Adapun sila ketiga, Persatuan Indonesia, dinilai semakin relevan untuk menghadapi ancaman hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi yang berkembang di media sosial.

Menurut Nan Murniati, persatuan tidak berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan kemampuan untuk menjaga kebinekaan dalam semangat kebangsaan yang inklusif.

Ia juga menyoroti pentingnya implementasi sila keempat dalam kehidupan digital melalui budaya demokrasi yang sehat.

Generasi muda didorong untuk membangun tradisi berdiskusi secara bijak, berbasis data, serta mengedepankan kepentingan bersama.

Sementara sila kelima menjadi landasan untuk mendorong lahirnya inovasi sosial yang mampu mengurangi kesenjangan ekonomi dan digital di masyarakat.

“Generasi muda harus menjadi pelaku perubahan dengan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan sosial, mulai dari pendidikan, pertanian, hingga ekonomi kreatif yang inklusif,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Nan Murniati menilai upaya membumikan Pancasila tidak lagi dapat dilakukan melalui pendekatan indoktrinatif seperti masa lalu.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Optimis Kelurahan Jatirejo Jadi Juara Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Jateng 2025

Metode pembelajaran harus lebih partisipatif, kontekstual, dan berbasis pengalaman nyata.

Ia mendorong pemanfaatan program seperti Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk mengajak peserta didik terlibat langsung dalam pemecahan masalah di masyarakat melalui pendekatan problem-based learning.

Selain itu, nilai-nilai Pancasila juga perlu dikemas melalui media yang dekat dengan generasi muda, seperti film, musik, animasi, dan berbagai konten kreatif di platform digital.

“Nilai gotong royong, toleransi, dan kemanusiaan harus hadir dalam budaya populer sehingga dapat diterima secara sukarela sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda,” paparnya.

Menurutnya, modernitas bukanlah ancaman yang harus ditolak, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan kesiapan moral dan karakter kebangsaan yang kuat.

Ia optimistis Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi dan kemajuan teknologi untuk mencapai kemajuan apabila generasi mudanya tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

“Ketika generasi muda menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu bersaing secara global, tetapi tetap menjunjung nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan, maka Pancasila benar-benar telah membumi dalam kehidupan bangsa,” katanya.***(bgy)