Mahasiswa USM Raih Juara Umum Kompetisi Blockchain Nasional, Bawa Pulang Hadiah USD 4.000
SEMARANG, (Harianterkini.id) – Dua mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Universitas Semarang (USM) berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui ajang Indonesia National Campus Hackathon yang berfokus pada pengembangan teknologi blockchain.
Kedua mahasiswa tersebut, Muhammad Nur Irfan dan Ajik Dewantoro yang tergabung dalam Tim Petak, sukses meraih gelar juara umum dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Superteam Indonesia secara daring pada 12 Mei hingga 9 Juni 2026.
Atas capaian tersebut, mereka membawa pulang hadiah utama senilai 4.000 dolar Amerika Serikat yang diumumkan dan diserahkan pada 10 Juni 2026.
Ajik Dewantoro menjelaskan, kompetisi berskala nasional itu menghadirkan tantangan bagi talenta muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengembangkan solusi berbasis blockchain yang fungsional di ekosistem Solana.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari jalur resmi menuju rangkaian Global Frontier Colosseum.
“Fokus utama dari kompetisi ini adalah melahirkan inovasi teknologi siap pakai pada empat sektor krusial, yakni Real World Assets (RWA), DeFi, GameFi, dan Consumer Apps,” ujarnya.
Ia menambahkan, perjalanan menuju posisi juara tidak diraih dengan mudah. Dirinya bersama rekannya, Muhammad Nur Irfan, harus bersaing dengan 73 submisi proyek dari berbagai kampus di seluruh Indonesia.
Proses penilaian dilakukan secara ketat oleh dewan juri dengan sejumlah indikator, mulai dari potensi dampak nyata bagi Indonesia (35 persen), kelayakan teknis dan stabilitas kode (25 persen), kreativitas produk (20 persen), hingga keberlanjutan model bisnis (20 persen).
“Kami harus memenuhi seluruh kualifikasi kompetisi, mulai dari pengembangan Minimum Viable Product (MVP) yang berfungsi penuh, penyusunan pitch deck, hingga publikasi kode pemrograman di GitHub,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa mahasiswa FTIK USM memiliki kemampuan yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga siap bersaing di tingkat industri teknologi global, khususnya pada bidang Web3 dan blockchain.
“Kami merasa bangga karena apa yang dipelajari di kampus dapat diterapkan dalam kompetisi dan bahkan menghasilkan pendapatan,” ungkap Ajik.
Sementara itu, Pembina USM Blockchain Club (USMBCC), Febrian Wahyu Christanto, turut menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih kedua mahasiswa tersebut.
“Semoga prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus belajar dan mengembangkan teknologi Web3 serta blockchain,” tuturnya.***(bgy)
