Prof Hardani Widhihastuti: Lingkungan dan Pola Asuh Pengaruhi Ekspresi Emosi

InShot_20261023_151924255
Bagikan:

SEMARANG, (Harianterkini.id) – Mengenali diri sendiri menjadi langkah penting dalam mengelola emosi, terutama saat menghadapi kemarahan, kekecewaan, maupun tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan memahami perasaan dan memilih cara mengekspresikannya secara tepat dapat membantu seseorang menghindari reaksi impulsif yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Hal tersebut disampaikan Ketua Senat Universitas Semarang (USM), Prof. Dr. Hardani Widhihastuti, M.M., Psikolog, dalam program Woman Talk di Radio USM Jaya Semarang bertajuk “Perempuan, Emosi, dan Kemarahan: Mengenali, Mengekspresikan, dan Mengelola Emosi”, Selasa (13/10/2026).

Dalam perbincangan tersebut, Prof. Hardani menjelaskan bahwa setiap individu memiliki karakteristik dan pengalaman berbeda dalam merespons suatu keadaan.

Faktor lingkungan, pola pengasuhan, serta pengalaman hidup turut memengaruhi cara seseorang mengenali dan mengekspresikan emosinya.

Menurutnya, kemarahan kerap muncul ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan secara berturut-turut.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan membedakan perasaan yang sedang dialami, apakah marah, kecewa, sedih, atau sekadar kelelahan.

Baca Juga:  Guru SMA Masehi 2 PSAK Dapat Pelatihan Pemanfaatan AI Dari Dosen FTIK Universitas Semarang

Oleh karena itu, seseorang perlu mengenali kondisi dirinya sebelum merespons suatu permasalahan.

Kemampuan mengendalikan diri juga diperlukan agar kemarahan tidak diluapkan secara sembarangan, terutama di lingkungan yang tidak tepat.

“Kalau dia bisa menata diri, dia akan refresh dulu, tenangkan dulu, baru dia menyampaikan,” kata Prof. Hardani, yang juga merupakan pengurus Ikatan Ibu-Ibu Universitas Semarang.

Ia menekankan pentingnya mengambil jeda ketika emosi mulai meningkat. Menenangkan diri dan mengatur napas sebelum berbicara atau mengambil keputusan dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih sehingga tidak bertindak secara impulsif.

Memahami Emosi dan Mengelola Kemarahan

Prof. Hardani menjelaskan, emosi dan kemarahan merupakan dua hal yang perlu dipahami secara tepat.

Emosi mencakup beragam perasaan, seperti senang, sedih, dan marah. Sementara itu, kemarahan merupakan salah satu bentuk respons emosional yang dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapannya.

Baca Juga:  Mahasiswa USM Edukasi Pentingnya Gizi Anak dan Pencegahan Stunting di TK Kebon Dalem Semarang

“Dalam mengekspresikan kemarahan, seseorang juga perlu mempertimbangkan cara dan tempat yang tepat,” ujarnya.

Menurutnya, perasaan yang muncul sebaiknya tidak langsung diluapkan melalui tindakan atau perkataan yang berpotensi menyakiti orang lain.

Hal ini juga berlaku dalam penggunaan media sosial, karena unggahan yang dibuat ketika sedang marah dapat memengaruhi penilaian orang lain terhadap perilaku seseorang.

Sebagai alternatif, emosi dapat disalurkan melalui kegiatan positif, seperti berolahraga, bermusik, menulis, atau menjalankan hobi yang disukai.

Aktivitas tersebut dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan sekaligus membantu seseorang mengelola emosinya dengan lebih baik.

“Kalau sudah bekerja, ya dialihkan ke pekerjaan yang positif. Kalau mereka seniman, bermusik dan lain sebagainya, olahraga,” ungkapnya.

Mengenali Diri Menjadi Langkah Awal

Lebih lanjut, Prof. Hardani mengatakan bahwa upaya mengelola emosi perlu dimulai dengan kejujuran dalam mengenali diri sendiri, termasuk memahami kekurangan dan hal-hal yang kerap memicu kemarahan.

Baca Juga:  Tingkatkan Layanan, Mulai 1 September 2024 KA Banyubiru Melayani Naik Turun Penumpang di Stasiun Alastua

Seseorang juga perlu bersedia menerima masukan dari orang lain serta melakukan evaluasi terhadap perilakunya.

Kesediaan untuk memperbaiki diri menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kemampuan mengelola emosi secara lebih baik.

Namun, proses tersebut membutuhkan komitmen dan latihan berkelanjutan. Mengenali serta mengelola emosi bukanlah kemampuan yang selalu dapat dikuasai secara instan, melainkan proses yang perlu terus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Nomor satu sebetulnya mengenali diri sendiri dulu,” tegasnya.

Melalui program Woman Talk, Radio USM Jaya Semarang menghadirkan ruang diskusi mengenai berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya terkait perempuan dan pengelolaan emosi.

Talkshow tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa memahami perasaan, mengendalikan respons, dan mengekspresikan kemarahan secara tepat merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan diri sendiri maupun orang lain.***(bgy)