Tritura URC – Tiga Tuntutan Rakyat Aspal!

IMG-20250717-WA0004
Bagikan:

JAKARTA (Harianterkini.id) – Di jalanan, kami bukan sekadar pengemudi. Kami adalah saksi hidup kerasnya perjuangan para ojol.

URC (Unit Reaksi Cepat) hadir bukan karena diminta, tapi karena hati kami terpanggil.

Kami lahir dari keprihatinan melihat rekan-rekan ojol yang celaka tanpa perlindungan dan perhatian yang layak.

Seiring waktu, jumlah pengemudi ojol makin banyak. Dan bersama itu, makin banyak pula yang terpanggil untuk bergabung dalam barisan URC.

Karena di jalan, kita semua saudara. Kita tahu betul bagaimana kerasnya hidup di balik jaket dan helm.

URC tumbuh, mendengar, dan merasakan semua suka duka profesi ojol. URC bukan cuma bergerak saat ada kecelakaan. Kami juga berdiri ketika nasib pengemudi mulai digeser oleh kepentingan segelintir orang, apalagi untuk kepentingan politik.

Hari ini, suara kami tak bisa lagi dibungkam. Achsanul Solihin atau yang akrab disapa Bang Batman, Jenderal Lapangan URC Bergerak, mengatakan bahwa aksi ini lahir dari keresahan nyata di jalanan, bukan sekadar agenda politik atau pesanan pihak tertentu.

Baca Juga:  Perluas Jaringan Porsche Destinasi Charging, Porsche Indonesia Dan Awann Group Sediakan Tempat Pengisian Daya Untuk Mobil Listrik Di Semarang

“Kami bukan buruh, kami mitra mandiri. Kami menolak regulasi yang memaksa pengemudi masuk dalam sistem kerja subordinatif. Sudah cukup kami diam, sekarang kami bicara,” tegas Achsanul, Selasa 15 Juli 2025.

Dengan slogan “Dari Ojol, Oleh Ojol, Untuk Ojol”, URC menegaskan bahwa pergerakan mereka adalah murni suara dari bawah. Mereka menyatakan akan terus berjuang hingga pemerintah benar-benar mendengar dan menindaklanjuti aspirasi mereka.

Permasalahan dunia ojek online makin pelik. Dan kami—URC—tidak akan tinggal diam! Sudah cukup kami diam. Saatnya kami bicara.

Sudah cukup kami diatur. Saatnya kami menentukan arah. Sudah cukup jadi alat. Saatnya kami jadi subjek!

TRITURA URC – TIGA TUNTUTAN RAKYAT ASPAL!
Tuntutan dari jalanan, untuk keadilan dan masa depan ojek online!

1. URC TEGAS MENOLAK STATUS OJOL SEBAGAI BURUH/PEKERJA!
Kami bukan karyawan, bukan buruh pabrik, bukan staf kantor. Kami adalah mitra
mandiri—kami punya hak mengatur jam kerja, memilih order, dan menentukan ritme
hidup kami sendiri. Ketika sistem ingin menempatkan kami sebagai buruh, maka yang akan hilang adalah kemerdekaan kami sebagai pengemudi.

Baca Juga:  Meriah! KAI Daop 1 Jakarta Rayakan HUT ke-79 di Soul Hub Ciracas

Menjadi buruh berarti kami akan dibebani aturan sepihak, target yang mengikat, dan
berpotensi kehilangan fleksibilitas yang menjadi nilai utama pekerjaan ini.
URC menolak segala bentuk regulasi yang memaksa pengemudi masuk ke dalam
sistem kerja subordinatif.

2. URC TEGAS MENOLAK OPINI POTONGAN 10%!
Saat ini potongan 20% dari penghasilan pengemudi sudah berjalan bertahun-tahun.
Kami tidak keberatan dengan skema ini. Kami menolak keras opini publik dan
framing sepihak yang menyatakan bahwa pengemudi menuntut pemotongan menjadi
10%.

Kami memahami bahwa aplikator harus tetap bertahan dan kami juga harus
bertahan, kami adalah mitra yang tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Kami TIDAK PERNAH mengajukan tuntutan seperti itu.

Ojol dan Aplikator harus sama- sama hidup, karena kami saling membutuhkan, apabila aturan membunuh aplikator, sama saja membunuh ojol. Jangan manfaatkan nama pengemudi untuk kepentingan politik, regulasi, atau kampanye kelompok tertentu. Suara pengemudi asli harusnya datang dari jalanan, bukan dari ruang rapat.

Baca Juga:  Rakernas Kejaksaan RI 2024, Jaksa Agung Singgung Tantangan Hukum di Masa Depan

3. URC TEGAS MEMINTA PRESIDEN RI MENGELUARKAN PERPPU UNTUK OJEK
ONLINE!
Hari ini kami tiidak ada kepastian. Tidak memiliki payung hukum, Tidak ada arah.
Masing-masing instansi bicara beda, sementara kami di jalan tetap menanggung
semua risiko.

Sudah terlalu lama ojol dibiarkan berjalan tanpa payung hukum yang tegas. Karena itu, kami mendesak Presiden RI untuk turun tangan langsung. Keluarkan PERPPU
khusus untuk ojek online agar:

● Ada kepastian status hukum bagi pengemudi dan aplikator
● Tidak ada tumpang tindih kewenangan antar kementerian
● Terjadi kesetaraan pandang antara perlindungan dan kemandirian mitra
● Semua pihak tunduk pada satu aturan baku yang adil dan berpihak.

Kami tidak menolak aturan. Tapi kami menuntut aturan realistis dengan kondisi di
lapangan.

Tritura ini bukan sekadar tuntutan. Ini suara dari roda yang terus berputar, dari helm yang menatap panas jalanan, dari jaket yang penuh peluh perjuangan.
Kami URC. Kami pengemudi. Kami rakyat aspal. Dan kami menuntut pemerintah
mendengarkan kami, suara asli pengemudi!