Harmoni Gita Anak Bangsa Merayakan Keberagaman dan Kebangsaan di Kota Semarang Lewat Musik, Puisi, Serta Refleksi Lintas Agama/Kepercayaan
SEMARANG, (Harianterkini.id) – Sekitar lima ratus orang mengisi ruang ibadah GKI Karangsaru Semarang dalam acara Harmoni Gita Anak Bangsa, belum lama ini. Dari pakaian yang dikenakan terlihat mereka berasal dari berbagai agama dan kepercayaan, ada yang berjilbab, berjubah bhikkhu Buddhis, berkerudung biarawati Katolik, berbaju rohaniwan Konghucu, berkebaya atau berikat kepala khas penghayat kepercayaan.
Umat lintas agama/kepercayaan itu bersama-sama menyimak dan melantunkan lagu-lagu kebangsaan, mulai dari yang menggelorakan seperti Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar, sampai yang mengharu biru seperti Rayuan Pulau Kelapa dan Syukur.
Lantunan mereka diiringi terutama oleh orgel koleksi GKI Karangsaru yang terbuat dari pipa kayu dan bambu karya artisan musik Semarang.
Ini satu-satunya organ pipa yang masih berfungsi di Kota Semarang. Selain itu juga ada iringan kolintang dan terompet, juga momen menggetarkan ketika hadirin memainkan angklung bersama-sama.
Di antara lagu-lagu yang dilantunkan, secara bergantian tampil para tokoh agama dan kepercayaan untuk membacakan puisi Gus Fadel Irawan (Perguruan Al Islam Kendal), Samuel Wattimena (anggota Komisi VII DPR RI), Bhikkhu Ditthisampano Mahathera (Sangha Agung Indonesia), dan Ws Andi Gunawan (Matakin Jawa Tengah).
Selanjutnya, dr. I Komang Dipta Januraga (PHDI Kota Semarang), Sr. Yulia SDP (Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi), dan Ruwiyati (Puanhayati Jawa Tengah).
Tampil juga tiga anak muda Semarang yang menginspirasi, yakni Falasifah (pendiri dan direktur PT Alga Bioteknologi Indonesia), Reza Kurniawan (aktivis isu disabilitas), dan Gemma Tedjokusumo (General Manager Collabox Creative Hub).
Sementara dua orang solis kawakan yang menyumbangkan suara emas mereka adalah dr. Edward Tirtananda Wikanta dan Marsha Marianne.
Acara Harmoni Gita Anak Bangsa dirancang bersama oleh Persaudaraan Lintas Agama, EIN Institute, Klub Merby, EduHouse, dan Rotary Club of Semarang Bimasena dalam kolaborasi dengan GKI Karangsaru, sebagai bentuk perayaan kebangsaan melalui seni dan musik lintas iman.
“Acara ini ingin merawat mimpi para pendiri Republik Indonesia tentang bangsa yang benar-benar bersatu. Ternyata setelah 80 tahun Merdeka, kita masih terus berjuang melampaui sekat agama, ras, dan golongan,” kata Ellen Nugroho, Direktur Eksekutif EIN Institute, yang menjadi koordinator program kolaborasi ini.
“Di berbagai ruang publik dan media sosial, percakapan kita masih kerap diwarnai prasangka, sentimen mayoritas-minoritas, serta narasi yang memecah belah. PR kita bersama untuk saling berangkulan dalam menghadapi tantangan kebangsaan yang makin kompleks dan riil seperti krisis lingkungan, polarisasi politik, dan ketimpangan sosial,” imbuhnya.
Sementara itu, Setyawan Budy, koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) mengatakan bahwa Masyarakat tentu merasakan kejenuhan dengan slogan-slogan dan ceramah moral yang basa-basi.
“Ada kebutuhan mendesak untuk menghidupkan kembali semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai pengalaman nyata yang menggugah hati,” ungkap Setyawan.
“Dibutuhkan ruang bersama yang melampaui formalitas dan ritual, tempat di mana orang dari berbagai latar belakang bisa hadir, duduk bersama, dan merayakan keindahan menjadi Indonesia,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Linggayani Soentoro, Presiden Rotary Club of Semarang Bimasena juga menjelaskan bahwa musik sebagai medium perayaan kebangsaan dan keragaman kali ini sebab di dalam musik ada kekuatan.
“Musik ini bahasa universal yang menyentuh emosi dan nurani, menyatukan keragaman dalam harmoni. Jadi memang kami harap, di acara ini, umat lintas agama dan kepercayaan bisa bertemu dan tergugah bersama oleh malam yang syahdu oleh lantunan lagu-lagu kebangsaan, puisi reflektif, dan kebersamaan sehingga merawat kedamaian di kota Semarang,” ujar Linggayani.
“Juga istimewanya, acara kali ini diiringi oleh organ pipa buatan anak bangsa dari kayu dan bambu karya anak bangsa, khususnya warga Semarang sendiri,” ujar Krisna Phiyastika, koordinator Klub Merby.
“Jadi acara ini tak hanya menjadi panggung seni, acara ini juga menjadi ruang edukasi tentang kekayaan budaya dan warisan lokal yang selama ini tersembunyi dari perhatian publik,” jelasnya.
Sementara itu, Angga Prasetya, Pendeta GKI Karangsaru yang menjadi inisiator pembuatan organ pipa tersebut, juga mengatakan bahwa Organ pipa koleksi GKI Karangsaru ini dibuat selama lebih dari lima tahun oleh para pemuda dan tukang lokal, terdiri dari seribu lebih pipa kayu dan bambu, menciptakan suara agung yang dulu hanya bisa didengar di gereja-gereja tua.
Kehadirannya, lanjut dia, di GKI Karangsaru membuka sejarah baru, bahwa bangsa ini mampu menciptakan instrumen warisan dunia dengan tangan sendiri.
“Orgel ini juga simbol ketekunan, kolaborasi, dan semangat kreatif generasi Indonesia,” ucapnya.
Senada, Anita Andriyani, Wakil Kepala PKBM EduHouse mengatakan, dengan menyatukan kekuatan musik dan semangat lintas iman, acara Harmoni Gita Anak Bangsa diharapkan menjadi oase di tengah keretakan sosial, sekaligus menjadi model kecil dari Indonesia yang kita idamkan: beragam, setara, saling menghargai.***
